Selasa 28 Nov 2023 20:39 WIB

Bimaristan, Pusat Medis dalam Dunia Islam

Pendiri Bimaristan pertama didirikan di kawasan Damaskus.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Bimaristan atau kedokteran Islam (ilustrasi).
Foto: muslimheritage.com
Bimaristan atau kedokteran Islam (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Peradaban Islam telah memberikan sumbangsih kepada dunia, termasuk dalam bidang medis. Bidang medis ini terus dikembangkan oleh dunia Islam hingga akhirnya muncul sebuah institusi berupa rumah sakit.

Dalam sejarah awal munculnya Islam, rumah sakit hanya merupakan layanan pengobatan yang bergerak mengiringi mobilitas tentara Islam. Setiap pertempuran yang pernah terjadi di zaman Rasulullah tak lepas dari peran tenaga medis ini. Mereka adalah perawat pertama dalam sejarah peradaban Islam.  

Baca Juga

Pada masa nabi Muhammad SAW, pusat perawatan Islam telah didirikan dalam bentuk tenda oleh Rufaydah al-Aslamiyah. Rufaidah adalah seorang perawat Islam pertama yang diperkirakan lahir di Madinah sekitar 597 M, ketika kota itu masih bernama Yatsrib.

Selama perang Khandaq, Rufaydah lah yang merawat pejuang muslim yang terluka di tenda terpisah. Kemudian, para penguasa setelahnya mengembangkan bentuk awal "klinik keliling ala tentara" tersebut ke dalam bentuk klinik keliling yang sebenarnya, yang sudah dilengkapi dengan obat-obatan, makanan, minuman, pakaian, dokter dan apoteker.

 

Klinik keliling tersebut dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terpencil yang jauh dari kota-kota besar dan fasilitas medis permanen. Bahkan, mereka juga menyediakan perawatan keliling bagi para penguasa.

Setelah adanya klinik keliling, baru kemudian muncul rumah sakit permanen. Istilah rumah sakit sendiri dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan Bimaristan yang mana dalam bahasa Persia berarti rumah orang-orang sakit.

Pendiri Bimaristan pertama didirikan di kawasan Damaskus, Suriah oleh Khalifah al-Walid I yang memerintah Dinasti Umayyah 705-715 M/ 86-96 H. Rumah sakit Islam itu awalnya hanya berupa sebuah leprosarium, yaitu sebuah rumah sakit khusus masyarakat yang menderita penyakit kusta.

Dokter yang ditugaskan di rumah sakit diberikan tempat tinggal dan gaji yang memuaskan. Sementara, pasien yang menderita penyakit kusta itu diisolasi dalam sebuah ruangan khusus. Karena, penyakit kusta mudah menular.

Pada abad ke-9, rumah sakit Islam juga dibangun di Baghdad, Irak pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah, tepatnya pada 805 Masehi. Berdasarkan dokumentasi sejarah, rumah sakit ini juga disebut yang pertama oleh beberapa sejarawan.

Hanya sedikit manuskrip yang merekam pembangunan rumah sakit itu. Namun, ada dokter bernama Abu Said Ubaidillah bin Bakhtyashu (940–1058 M). Dia adalah keturunan dari keluarga dokter Kristen yang hijrah dari Judhishapur ke Baghdad pada 765 M.

Keluarga dokter ini disebut-sebut mempunyai peran penting dalam pembangunan rumah sakit tersebut. Meskipun milik umat Islam, penguasa muslim saat itu tidak membeda-bedakan latar belakang agama seorang dokter untuk mengembangkan rumah sakit.

Menyusul beberapa dekade berikutnya, 34 lebih rumah sakit bermunculan di seluruh dunia Islam, dan jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya. Pada abad kesembilan, rumah sakit juga banyak dibangun di sejumlah kawasan Islam lainnya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, seperti di Kairouan (Tunisia), Makkah, Madinah, dan di kota Rayy, Iran.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement