Kamis 23 Nov 2023 22:47 WIB

Bisakah Watak Buruk Seseorang Diubah? Begini Penjelasan Mubaligh Mesir

Watak buruk tak bisa diubah adalah pendapat keliru.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Ibadah puasa. Ilustrasi
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Ibadah puasa. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Mubaligh Mesir yang juga peneliti syariah di Dewan Ulama Sepuh Al-Azhar Kairo Mesir, Dr Ayman Al Hajjar, menyampaikan penjelasan soal apakah sifat buruk yang dimiliki seseorang tidak bisa berubah. Kebanyakan orang menganggap itu sebagai sesuatu yang memang sudah wataknya.

Dr Ayman Al Hajjar menjelaskan, anggapan bahwa sifat buruk manusia tidak bisa berubah adalah gagasan yang keliru. Dilansir Masrawy, Kamis (23/11/2023). Dia mengatakan, manusia adalah ciptaan Allah SWT, dan Allah Maha Mengetahui atas berubahnya seseorang menjadi baik.

Baca Juga

"Allah memerintahkan umat manusia untuk mengikuti jejak para nabi (di zamannya) dan juga mengikuti tuntunan mereka," tuturnya.

Ketika watak buruk seseorang sulit berubah, tetapi jika dia mengikuti tuntunan dan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi terdahulu, maka orang yang bersangkutan dipenuhi oleh kebaikan, sekalipun ada sifat-sifat buruk yang menaunginya.

 

"Anggapan bahwa watak buruk seseorang tidak bisa berubah tentu akan mengakibatkan adanya energi negatif dan ketidakmampuannya secara psikologis untuk berubah menjadi baik," ujarnya.

Al Hajjar dalam kesempatan itu mengumpamakan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang sebelum masuk Islam mereka adalah orang-orang yang melakukan perbuatan buruk. Berakhlak buruk, saling membunuh dan bahkan mereka melakukan apapun yang diinginkan.

"Sampai kemudian mereka berubah menjadi orang yang memiliki akhlak lebih baik di tangan junjungan kita Nabi Muhammad SAW," jelasnya.

Itu artinya, seseorang yang memiliki sifat atau watak atau akhlak yang buruk pun sejatinya bisa berubah menjadi orang shaleh.

Menurut Al Ghazali, akhlak bisa diubah dan diperbaiki. Sebab, jiwa manusia diciptakan sempurna atau lebih tepatnya dalam proses menjadi sempurna. Selalu terbuka dan mampu menerima usaha pembaruan serta perbaikan.

Namun, Al Ghazali juga menjelaskan, perbaikan harus dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan pada sikap dan perilaku konstruktif. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui metode berbalik.

Misalnya, kebodohan harus diubah dengan semangat menuntut ilmu, kikir dengan dermawan, sombong dengan rendah hati, dan rakus dengan puasa. Proses pembiasaan ini tentu saja tidak bisa dilakukan secara instant tapi membutuhkan waktu, perjuangan, dan kesabaran yang tinggi.

Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk terus memohon perlindungan dari setan sehingga dijauhkan perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Araf Ayat 200, "Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Seorang Muslim agar tetap berada di jalan kebaikan, juga perlu istiqamah dalam beramal shaleh. Salah satunya ialah dengan membaca Alquran seperti membaca permulaan dan akhir Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi, dan konsisten mengucapkan dzikir pagi, sore dan menjelang tidur.

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Amr alias Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, dia berkata, "Saya berkata kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, ajari saya satu ucapan yang mengandung ajaran Islam dan saya tidak perlu lagi bertanya kepada siapapun selain kepada engkau." Rasulullah menjawab, "Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian bersikap istiqamah." (HR Muslim)

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement