Selasa 21 Nov 2023 16:37 WIB

7 Fakta Seputar Hukum Aqiqah dan Budayanya di Umat Islam Indonesia

Aqiqah merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan

Rep: Fuji E Permana / Red: Nashih Nashrullah
Sejumlah warga memainkan alat musik tradisional (rebana) dengan membacakan shalawat saat tradisi aqiqah atau cukur rambut di Kota Ternate, Maluku Utara, Sabtu (9/9/2023). Masyarakat Ternate mempunyai tradisi memotong rambut bayi yang disebut saro-saro hingga kini masih dipertahankan untuk menyambut kehidupan baru bagi bayi yang usianya 1,5 bulan dengan kesyukuran kepada Tuhan atas limpahan kesehatan bagi masyarakat setempat beserta keluarganya.
Foto:

Penanaman kelapa ini merupakan upaya agar bayi yang baru lahir telah dipersiapkan sebagian dari kebutuhan hidupnya. Kelapa, buah yang bermanfaat dari akar sampai ujung daun tersebut akan berbuah ketika bayi sudah menginjak remaja yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidupnya.

Terdapat pesan moral yang penting bahwa segala sesuatu telah dipersiapkan bagi kehidupan bayi dalam perspektif jangka panjang dan tidak merusak alam. 

Selain itu, disediakan juga sebuah kelapa muda yang dibuka dan airnya digunakan untuk membasahi gunting guna memotong rambut sang bayi. Kelapa muda melambangkan sebuah kesegaran, kemudaan, dan kesehatan yang diharapkan selalu menyertai kehidupan anak yang dilahirkan tersebut. Sebelas lilin kecil merupakan simbol agar kehidupannya selalu diliputi jalan terang.

Dua potong gula merah juga disediakan sebagai simbolisasi agar kehidupan anak tersebut selalu manis, menyenangkan, dan penuh kegembiraan. Ditambah dengan dua buah pala yang berisi pengharapan agar bayi tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia akan selalu ada ketika orang lain membutuhkannya. 

Tak ketinggalan, sebuah tasbih dengan sebuah cincin emas yang dicelupkan ke air kemudian disentuhkan di dahi menunjukkan agar ajaran agama selalu menjadi pegangan dalam seluruh kehidupannya.  

Untuk menambah suasana, dinyalakan pula dupa untuk wewangian dalam prosesi potong rambut bayi yang dilakukan oleh dukun bayi terlatih yang telah membantu merawat bayi. Bagi dukun bayi, mereka diberi sedekah berupa 12 macam jenis kue yang ditaruh dalam satu nampan, 8 liter beras dan uang 20 ribu rupiah yang dibawa pulang setelah prosesi tersebut selesai. 

Ari-ari yang merupakan bagian tubuh bayi saat dilahirkan menjadi bagian penting. Setelah dicuci, ari-ari tersebut ditanam dengan harapan agar bayi tersebut selalu ingat akan kampung halaman tempat ia dilahirkan.

Pembacaan Barasanji atau syair Barzanji juga umum diselenggarakan pada malam aqiqahan. Pada acara tersebut rambut bayi dipotong dan ada juga pembagian minyak wangi kepada jamaah yang membacakan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW.

Baca juga: Sungai Eufrat Mengering Tanda Kiamat, Bagaimana dengan Gunung Emasnya?

 Pembacaan barzanji ini bentuk upacaranya mirip marhabanan (perayaan mauludan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW). Ketika para peserta dan undangan melantunkan marhaban atau saat mahallul qiyam (berdiri) sang ayah dari si bayi ini membawa si bayi ke tengah-tengah peserta, diikuti seorang lain yang membantu membawakan baki berisi bunga, wewangian, dan gunting. 

Tamu yang paling dihormati mengawali secara simbolis dengan mencukur beberapa helai rambut bayi, kemudian ayah membawa bayi ke tamu lain secara bergilir satu per satu, dan masing-masing tamu bergiliran mencukur secara simbolis saja.

Sementara pembawa wewangian bertugas mengusapkan wewangian ke tangan orang yang baru mendapat giliran. Jika semua sudah mendapatkan giliran, bayi dikembalikan ke kamar tidur.    

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement