Rabu 08 Nov 2023 14:27 WIB

Nafsu Seperti Pencuri ealam Rumah Sendiri dan Musuh yang Dicintai 

Berhati-hatilah terhadap nafsu.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi dosa dan balasan perbuatan maksiat di dunia
Foto: Dok Republika
Ilustrasi dosa dan balasan perbuatan maksiat di dunia

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Berhati-hatilah terhadap nafsu yang senantiasa mengajak manusia kepada segala bentuk keburukan. Nafsu musuh paling berbahaya bagi manusia. 

Bencana yang diakibatkan oleh nafsu akan sangat menyulitkan manusia. Cara mengatasinya sangat berat. Penyakit yang ditimbulkan oleh nafsu sangat parah dan obatnya sulit didapat.

Baca Juga

Hal tersebut disampaikan Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali atau Imam Al-Ghazali dalam buku Minhajul Abidin.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa nafsu, seperti pencuri dan perampok di dalam rumah kamu sendiri. Sangat berat melindungi diri kamu dari musuh yang seperti itu, yang bersembunyi dalam diri kamu sendiri.

 

Seorang penyair mengatakan, "Nafsuku selalu mengajak kepada yang membahayakanku, memperparah luka dan sakitku. Bagaimana bisa aku melindungi diri dari musuhku, yang bersembunyi di antara tulang rusukku."

Nafsu juga merupakan musuh yang dicintai. Manusia umumnya tertutup matanya terhadap aib yang terdapat dalam diri orang yang dia cintai. 

Seorang penyair berkata, "Kamu tidak dapat melihat aib dari orang yang dicinta dan saudara, tidak pada sebagian yang ada padanya, jika kamu menyukai, mata yang suka terhadap setiap aib tertutupi, tapi mata yang benci menampakkan kejelekan-kejelekan.”

Jika manusia memandang positif dorongan nafsunya yang buruk dan hampir tidak melihat aibnya, padahal nafsu itu sangat memusuhi manusia tersebut dan berbahaya. Maka manusia itu akan terjerumus kepada bahaya dan kebinasaan tanpa ia sadari. Kecuali, jika Allah Ta'ala menjaganya dengan anugerah dan pengawasan-Nya serta berkat rahmat dari-Nya.

Di dalam bukunya, Imam Al-Ghazali mengatakan, wahai para ahli ibadah, renungkanlah satu hal penting yang akan memuaskan kamu. Jika kamu perhatikan dengan saksama, maka kamu akan menemukan bahwa asal dari setiap fitnah, kerusakan, kehinaan, kebinasaan, dosa dan cacat yang terjadi pada diri manusia sejak manusia pertama hingga hari kiamat adalah berasal dari sisi nafsu ini.

Iblis adalah yang pertama kali melakukan kemaksiatan terhadap Allah Ta'ala, yaitu menolak perintah Allah untuk bersujud pada Nabi Adam Alaihissalam. Penolakan iblis itu lahir dari hawa nafsu yang sombong dan iri kepada Nabi Adam. 

Akibatnya iblis jadi tercampak ke dalam lautan kesesatan setelah sebelumnya rajin beribadah selama delapan puluh ribu tahun. Ini terjadi pada saat belum diciptakan dunia dan makhluk yang akan mendiaminya. Ketidaktaatan itu timbul dari hawa nafsunya yang penuh kesombongan dan kedengkian.

Nabi Adam dan Hawa berbuat dosa juga karena pengaruh nafsu. Iblis membujuknya untuk memakan buah terlarang agar bisa hidup kekal di surga. Keduanya pun tergoda hingga keduanya diturunkan ke bumi yang rendah, sulit, fana dan merusak ini. Ini menjadikan anak cucu mereka dan keturunannya juga mengalami apa yang telah mereka alami hingga hari akhir nanti.

Karena rasa iri dan dengki Qabil membunuh Habil, keduanya anak Nabi Adam dan Hawa. Hal semacam itu akan terus terjadi hingga hari kiamat nanti. 

Maka kamu tidak menemukan fitnah, kebobrokan, kesesatan dan kemaksiatan yang menimpa manusia, melainkan hawa nafsulah yang menjadi biang keladinya. Jika bukan karena nafsu, manusia akan selamat dan berada dalam kebaikan. 

Melihat musuh yang begitu berat, maka orang yang bijak dan sadar pasti memberi perhatian serius untuk melindungi diri mereka dari terkaman nafsu dirinya. Dilansir dari Kitab Minhajul Abidin yang diterjemahkan Abu Hamas As-Sasaky dan diterbitkan Khatulistiwa Press 2013. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement