Sabtu 04 Nov 2023 12:00 WIB

Sejarah Penyebaran Islam di Tempat Kelahiran John Kei

Penyebaran Islam di Kepulauan Kei berlangsung sekitar akhir abad ke-15.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil
 Penyebaran Islam di Kepulauan Kei berlangsung sekitar akhir abad ke-15. Foto:  Foto udara pasir timbul Ngurtavur, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, Selasa (25/10/2022).
Foto: ANTARA/FB Anggoro
Penyebaran Islam di Kepulauan Kei berlangsung sekitar akhir abad ke-15. Foto: Foto udara pasir timbul Ngurtavur, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, Selasa (25/10/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- John Kei jadi perbincangan publik setelah namanya terseret dalam kasus penembakan di Kavling Rawa Bambu Bulak,  Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi beberapa hari lalu. Kasusnya hingga saat ini masih dalam penyelidikan. Jhon Kei atau bernama asli John Refra adalah warga kelahiran   Tutrean, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara pada  10 September 1969.

Terlepas dari kasus kriminalnya, Jhon Kei adalah putra asli Kepulauan Kei. Seperti apa penyebaran Islam di Kepulauan Kei?

Baca Juga

Penyebaran Islam di Kepulauan Kei berlangsung sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16 seiring dengan banyaknya pedagang Islam  yang datang ke wilayah-wilayah di Maluku. Kepulauan Kei yang berada di kawasan tenggara Kepulauan Maluku dulunya memang tersohor sebagai kepulauan penghasil rempah-rempah. Pulau Kei yang kini masuk dalam wilayah Provinsi Maluku itu banyak menghasilkan pala, Fuli dan cengkeh yang sangat diminati oleh bangsa-bangsa Eropa. 

John Pattikayhatu dalam buku Sejarah Daerah Maluku yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan pada 1978 menuliskan bahwa Islam menyebar ke Maluku melalui para pedagang dan mubaligh. Kebanyakan mereka adalah pedagang-pedagang beragama Islam dari Jawa, Sumatera Utara dan Malaka. Abad ke-15, Islam dianut dan tumbuh di kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku Utara. 

Dalam catatan sejarah Ternate  dan Bacaan serta kisah tradisional rakyat Maluku menyebut sosok Muslim bernama Ja'far Shadiq atau Ja'far Sadek adalah seorang Muslim yang berasal dari tanah Arab yang kemudian hari menurunkan banyak raja-raja di Maluku. 

Usman Thalib dalam catatan Sejarah Masuknya Islam di Maluku menuliskan bahwa berdasarkan sumber lokal terutama kronik Bacan menyebutkan bahwa sebelum agama Islam dianut oleh penduduk Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo, daerah-daerah itu disebut gapi. Seiring dengan  kedatangan Jafar Shadik membawa Islam, wilayah-wilayah itu berganti nama. 

"Perubahan nama terjadi ketika datangnya seorang asing yang bernama Jafar Shadiq. Dari perkawinannya dengan putri lokal, ia menurunkan empat orang putra yang kemudian menjadi raja-raja di empat kerajaan itu. Sejak saat itu empat kerajaan tersebut diberi label dengan istilah Maloko Bacan, Maloko Jailolo, Maloko Tidore, Maloko Ternate," (Lihat Sejarah Masuknya Islam di Maluku karya Usman Thalib, penerbit Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi Maluku dan Maluku Utara, 2011, halaman 8).

Kata Al Molok atau al Mulk yang berarti raja atau penguasa dalam bahasa Arab itu kemudian direinterpretasi menjadi kalimat jaziratul zabal Muluk yang artinya Semenanjung gunung yang banyak raja. 

Dalam kitab sejarah Ternate dan catatan sejarah dari kerajaan Tidore menyebutkan bahwa Sultan Zainal Abidin dari Ternate adalah sultan yang mulai mengalami konversi agama ke Islam. Sedangkan di Tidore adalah sultan Tjirilijah yang menjadi sultan Islam pertama yang masuk Islam dan mengganti nama menjadi Jamaluddin. Sejak itu Islam pun dianut di lingkungan istana, para pejabat dan keluarga, bangsawan dan menyebar di masyarakat Maluku. 

Di Maluku Tengah, Islam menyebar dengan datangnya para mubaligh dan pedagang dari Gresik. Mereka berpusat di kota pelabuhan Hitu sehingga wilayah itu menjadi pusat penyebaran Islam. Di Hitu banyak dijumpai pedagang Jawa yang kemudian menetap dan bermukim di sana. Lalu bagaimana dengan Kepulauan Kei? Sama seperti Hitu, Islam menyebar di Kepulauan Kei sekitar tahun 1500-an. Islam menyebar dari Kei Kecil hingga ke Kei Besar. 

"Penyebaran agama Islam ke daerah Maluku Tenggara juga melalui pedagang. Kemungkinan melalui pedagang-pedagang dari Jawa, Ternate maupun Gitu. Diduga masuknya agama Islam khusus di kepulauan Kei sekitar tahun 1500-an. Di Kei Kecil agama Islam mula-mula dipeluk oleh penduduk negeri Dullah. Kemungkinan yang membawanya adalah para pedagang atau perantau dari Maluku Utara khususnya dari Kesultanan Tidore sesuai dengan cerita tradisional tentang asal-usul raja-raja negeri Dullah. Di Kei Besar agama Islam mula-mula menyebar di Negeri Langgiar-Fer dan menurut cerita rakyat setempat dibawa oleh Abu Rabu seorang mubaligh dari Bukittinggi," (Sejarah Daerah Maluku, karya John Pattikayhatu penerbit Direktorat Jenderal Kebudayaan 1978, halaman 59).

Diperkenalkannya agama Islam pada penduduk-penduduk di pelabuhan Hitu, Ternate dan tempat-tempat lainnya di Maluku termasuk Kepulauan Kei mengakibatkan timbulnya proses Islamisasi. Hal itu berpengaruh kepada bidang politik sehingga terbentuklah kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Syariat Islam memperkaya hukum adat setempat. Seringkali terlihat unsur-unsur hukum Islam bergandengan dengan hukum-hukum dari. Bersamaan dengan perkembangan Islam, bahasa dan huruf Arab lambat lain dipakai sedikit demi sedikit oleh raja-raja, bangsawan -bangsawan dan penduduk yang memperkaya bahasa-bahasa daerah. 

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement