Senin 30 Oct 2023 13:22 WIB

Tiga Amal yang Perlu Diperhatikan Ketika Memilih Pemimpin

Memilih pemimpin harus yang beriman kepada Allah.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil
Tiga Amal yang Perlu Diperhatikan Ketika Memilih Pemimpin. Foto:   Ilustrasi Pemilu
Foto: republika/mgrol100
Tiga Amal yang Perlu Diperhatikan Ketika Memilih Pemimpin. Foto: Ilustrasi Pemilu

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Islam telah memberikan pedoman bagi pemeluknya dalam memilih pemimpin. Yang paling pokok adalah seorang pemimpin itu haruslah beriman. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Maidah ayat 55:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Baca Juga

Artinya" Sesungguhnya waliyy (pemimpin/penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah) (Alquran surah Al Maidah ayat 55). 

Ayat tersebut turun ketika Abdullah bin Salam yakni seorang mantan rabi Yahudi yang kemudian masuk Islam berkata pada Rasulullah bahwa kaumnya telah meninggalkan atau menjauhinya setelah ia memeluk Islam. Maka turunlah ayat 5 surah Al Maidah itu.

 

Kata waliyukum artinya pemimpin, penolong. Bagi orang Muslim cukuplah Allah dan Rasul-Nya menjadi pemimpin, penolong. Selain itu orang-orang yang beriman. Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa orang yang menjadi pemimpin umat Islam haruslah beriman, selain itu menunaikan sholat, membayar zakat, dan berjamaah.  

Dalam tafsir tahlili Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa dalam ayat tersebut  Allah menegaskan lagi masalah wali, yaitu penolong dan pelindung orang mukmin tidak lain hanyalah Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin sendiri. 

Penegasan ini dimaksudkan agar orang mukmin jangan ragu dan lemah pendirian, karena bisikan dan bujukan orang-orang yang lemah iman. Mereka hendaklah berpendirian teguh, yakin dalam perjuangan, tidak menggantungkan harapan kepada orang lain, selain kepada sesama mukmin dan tidak meminta pertolongan, selain mengharapkan pertolongan Allah semata-mata.

Ayat ini menjelaskan sifat-sifat orang mukmin yang akan dijadikan pemimpin dan penolong. Jangan sembarang orang mengaku mukmin, sebab banyak juga orang hanya mengaku mukmin di mulut, tetapi dalam amal perbuatannya sehari-hari memperlihatkan perbuatan orang munafik. Kadang-kadang dia turut mengerjakan ibadah, seperti mengerjakan salat, puasa dan lain-lain, tetapi hanya sekadar untuk menarik perhatian orang mukmin saja, sekadar berpura-pura saja, bukan keluar dari hati sanubarinya. 

Perbuatan mereka banyak didorong oleh rasa ria ingin dipuji dan dilihat orang, mereka sedikit sekali ingat dan tunduk kepada perintah Allah. Terhadap orang-orang seperti ini haruslah berhati-hati menghadapinya, lebih-lebih dalam menjadikan mereka sebagai pemimpin dan penolong.

Ada tiga macam tindakan dan amalan yang harus dimiliki oleh orang mukmin yang akan dijadikan pemimpin dan penolong, yaitu:

1)Mendirikan sholat, dengan arti yang sebenarnya. Dikerjakan menurut waktunya dan menurut adab-adabnya yang sudah ditentukan. Sehingga sholat itu bisa mempengaruhi perkataan dan perbuatan, menjadikannya seorang mukmin yang berakhlak, dapat dipercaya dan diikuti.

2)Menunaikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. dengan penuh kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Dengan menunaikan zakat dia menjadi orang yang baik hati, dermawan, suka memperhatikan nasib para pengikutnya dan rakyatnya. Dari dirinya keluar contoh-contoh yang baik dalam membela orang-orang mukmin, lebih-lebih kepada orang mukmin yang lemah dan miskin.

3)Merendahkan diri kepada Allah. Terhadap Allah dia tetap beribadat dan terhadap masyarakat dia memperlihatkan akhlak dan perbuatan yang mulia.

Jadi kepemimpinan di dalam Islam itu berkaitan dengan akidah. Berkaitan dengan keimanan, bukan semata-mata politik dalam arti sempit apalagi politik untuk mencari kekuasaan. Dan orang yang beriman pun bukan sekedar pengakuan. Harus ada buktinya. Dia adalah seorang pemimpin muslim yang membela islam, yaitu kelihatan suka menegakan sholat, suka zakat, dan suka berjamaah.

Karena itu  pada generasi mendatang dalam hal memilih pemimpin dalam konteks apapun haruslah mencari pemimpin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta suka menunaikan sholat dan berzakat. Hal tersebut sangat penting dan tidak bisa dianggap sepele untuk masa depan umat.

 

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement