Kamis 26 Oct 2023 21:36 WIB

4 Cobaan Berat Ini Menjadikan Nabi Muhammad SAW Sosok yang Tangguh

Rasulullah SAW mengalami berbagai cobaan berat sejak kecil

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Nashih Nashrullah
Nabi Muhammad (ilustrasi). Rasulullah SAW mengalami berbagai cobaan berat sejak kecil
Foto:

2. Ditinggalkan orang terkasih dalam waktu berdekatan.

Usai sang ibunda meninggal, Nabi dirawat oleh sang kakek, Abdul Muttalib. Namun, dua tahun kemudian beliau kembali sebatang kara.

Selanjutnya, Rasulullah SAW pindah ke rumah pamannya Abu Thalib dan mulai bekerja di bidang perdagangan. Dari sini, beliau bertemu dengan calon istrinya, Khadijah.

Segera setelah itu, terlihat bahwa Allah SWT telah memilihnya untuk sebuah misi besar, yaitu Kenabian. Khadijah tetap berdiri di sisinya, tidak hanya menawarkan dukungan emosional tetapi juga dukungan finansial kepada suaminya dan Komunitas Muslim baru.

"Abu Thalib adalah pelindung yang kuat bagi keponakannya dalam menghadapi ancaman keji dari kaum pagan Makkah," lanjut dia.

Sekali lagi, kematian orang-orang terkasih menjadi hal yang lazim di hidup Rasulullah SAW. Secara berturut-turut di tahun yang sama, Nabi kehilangan paman dan istri tercintanya, Khadijah. Terlebih, semua keturunannya meninggal dunia, kecuali Fatimah.

Apakah hal ini lantas membuat Nabi Muhammad SAW menaruh dendam terhadap ketetapan Allah SWT? Sebaliknya, keseimbangan antara menjadi Nabi yang taat dan ayah yang berhati lembut justru termanifestasi dengan indah.

Dalam HR Muslim, setelah kematian keturunannya yang terakhir bernama Ibrahim, Rasulullah SAW berkata, "Air mata berlinang dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih."

3. Kesulitan di Makkah. Selama 13 tahun pertama hidup Nabi di Makkah, beliau dan para pengikutnya menghadapi banyak penganiayaan. Mereka bahkan tidak diberi makanan dan air, yang mana pada masa kelaparan inilah Khadijah, istri tercinta Nabi, meninggal dunia.

photo
Penjelasan tentang cobaan yang dialami Nabi Muhammad yang sangat berat - (Republika)

Ketika musuh-musuh Nabi semakin meningkatkan penganiayaan mereka, para sahabat memintanya untuk mengutuk mereka. Namun, Rasulullah SAW menjawab, "Aku diutus bukan untuk mengutuk manusia, tetapi untuk menjadi berkat bagi mereka." (HR Muslim)

"Nabi Muhammad SAW ingin memenuhi misinya meskipun ada kesulitan. Sifat mulianya sangat sempurna," tulis Suzana Nabil Saad.

Baca juga: Alquran Bolehkan Nepotisme dari Kisah Nabi Musa Tunjuk Nabi Harun Asisten? Ini Kata Pakar

Hal ini juga tampak dalam kisah Thaif. Nabi Muhammad SAW dikabarkan pergi mengunjungi desa Thaif, untuk mengajak masyarakatnya masuk Islam. Mereka menolak, bahkan melemparinya dengan batu dan membuatnya berdarah.

Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan berkata, "Allah telah mendengar apa yang dikatakan umatmu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Dia telah memerintahkan para malaikat di gunung untuk mentaati apapun yang kamu perintahkan.”  Malaikat gunung pun memanggil Nabi. Ia menyapa Rasul dan berkata, “Utuslah aku untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Jika kamu mau, aku akan menghancurkan mereka di antara dua gunung di Makkah.”

Meski telah diberi izin, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku berharap Allah akan mengeluarkan dari pinggang mereka (keturunan) orang-orang yang hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (Al-Bukhari)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement