Rabu 25 Oct 2023 19:18 WIB

Sikap Umar Bin Khatttab yang Lebih Mendahulukan Orang Lain Ketimbang Anak Sendiri

Umar bin Khattab dikenal mempunyai banyak karamah.

Rep: Fuji E Permana, Andrian Saputra / Red: Nashih Nashrullah
Umar bin Khattab (ilustrasi). Teladan dari kepemimpinan Umar bin Khattab yang melarang anak-anaknya menjadi kepala negara.
Foto: Republika
Umar bin Khattab (ilustrasi). Teladan dari kepemimpinan Umar bin Khattab yang melarang anak-anaknya menjadi kepala negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Umar bin Khattab radhiyallahu anhu seorang khalifah sekaligus pemimpin yang sangat adil. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) jauh dari keseharian kehidupan Umar bin Khattab yang selalu takut kepada Allah SWT.

Dikisahkan, suatu ketika Umar bin Khattab membagi-bagikan uang kepada kaum Muslimin berdasarkan prestasi dan keturunan. Saat itu, Umar bin Khattab telah menjadi khalifah yang pemimpin umat dan masyarakat. 

Baca Juga

Umar bin Khattab memberikan 4.000 dirham kepada Usamah ibn Zaid. Kemudian sebanyak 3.000 dirham diberikan kepada Abdullah ibn Umar.

Usamah bin Zaid adalah salah seorang pemeluk Islam paling awal dan pembantu Nabi Muhammad SAW. Usamah bin Zaid mendapat julukan terhormat yaitu Hubbi Rasulillah artinya orang yang dicintai Rasulullah SAW.

 

Abdullah ibn Umar adalah adalah anak dari khalifah kedua yakni Umar bin Khattab. Abdullah ibn Umar masuk Islam bersama ayahnya saat ia masih kecil, dan ikut hijrah ke Madinah bersama ayahnya. 

Dikisahkan, Abdullah ibn Umar protes kepada Umar bin Khattab dan berkata, "Wahai ayahku, kamu memberiku 3.000 dirham, sementara Usamah diberi 4.000 dirham, padahal aku sudah mengalami perjuangan yang tidak dialami oleh Usamah."

Abdullah ibn Umar berkata, "Ayahnya (Usamah bin Zaid) juga mendapatkan kelebihan yang tidak kamu (Umar bin Khattab) dapatkan, sebagaimana Usamah juga mendapatkan kelebihan yang tidak aku dapatkan." 

Umar bin Khattab menjawab, “Sungguh, ayah (dari Usamah bin Zaid) lebih dicintai oleh Rasulullah SAW daripada ayahmu. Usamah lebih dicintai oleh Rasulullah SAW daripada kamu." Begitulah kisah Umar bin Khattab yang menolak praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Baca juga: Daftar Produk-Produk Israel yang Diserukan untuk Diboikot, Cek Listnya Berikut Ini

Sementara itu, pakar tafsir Alquran yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Pasca Tahfiz Bayt Alquran, KH Syahrullah Iskandar mengatakan bahwa yang disebut dengan nepotisme sejatinya adalah kesukaan dan kecenderungan yang berlebihan kepada orang dekat sehingga memprioritaskannya dalam menduduki sebuah jabatan. 

Menurutnya perilaku ini termasuk perilaku tercela dalam Islam karena mengabaikan prinsip keadilan. Sebab  pertimbangan utamanya adalah hanya relasi kekeluargaan dan faktor kekerabatan tanpa memperhatikan kapabilitas, profesionalitas, dan sikap amanah.

Kiai Syahrullah menjelaskan bahwa sebuah jabatan adalah amanah. Sehingga butuh kesiapan dan kemampuan bagi orang yang mengembannya. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement