Selasa 24 Oct 2023 21:04 WIB

Fakta-Fakta Nabi Muhammad dan Sahabatnya tak Wariskan Kekuasaan

Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin agama dan politik utama umat Islam.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad
Foto: Dok Republika
Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sejarah awal Islam telah menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang berdasarkan keadilan, kompetensi, dan pelayanan kepada umat daripada warisan kekuasaan kepada keluarga. Para nabi dan sahabatnya pun enggan untuk mewariskan kekuasaannya.

Fakta-fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya tidak mewariskan kekuasaan.

Baca Juga

Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin agama dan politik utama umat Islam. Namun, beliau tidak pernah mewariskan kekuasaan politik kepada seorang penguasa setelahnya. Sehingga, umat Islam kemudian memilih pemimpin mereka dalam sebuah musyawarah.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, sahabat-sahabatnya yang juga dikenal sebagai Khulafaurrasyidin kemudian mengambil alih kepemimpinan, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

 

Mereka pun menjalankan pemerintahan dengan adil dan berdasarkan prinsip-prinsip Islam tanpa mewariskan kekuasaan kepada keturunan mereka.

Seperti dilansir dari Youm7, berikut beberapa fakta Nabi dan para sahabatnya tak mewariskan kekuasaan:

1. Nabi tak Dikaruniai Anak Laki-Laki

Allah menetapkan bahwa Nabi SAW tidak akan memiliki anak laki-laki, sehingga umat Islam tidak akan bingung dan tidak akan terbawa oleh kasih sayang mereka terhadap Nabi SAW untuk mewariskan kekuasaan kepada putranya.

2. Nabi Hanya Mewariskan Ilmu

Hukum Islam mengharuskan para nabi untuk tidak mewarisi apapun. Jika mereka punya uang, maka dimasukkan ke kas umat Islam. Dala hadits disebutkan,

إن الأنبياء لم يورثوا دينارًا ولا درهمًا ولكن ورثوا العلم.. فمن أخذه أخذ بحظ وافر

"Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa yang telah mengambil ilmu yang banyak, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Semua itu bertujuan untuk menghilangkan gagasan mewariskan, baik dalam memerintah kekuasaan maupun dalam hal lainnya.

Para nabi tidak mewarisi kekuasaan atau kehidupan duniawi, namun mereka mewariskan ilmu, dakwah, dan cahaya yang menyebar melintasi cakrawala.

3. Rasulullah Gadaikan Baju Perangnya ke Yahudi

Rasulullah wafat dalam keadaan baju besinya digadaikan kepada seorang Yahudi. Hal ini menunjukkan bahwa sampai akhir hayat pun Rasulullah tidak memiliki warisan apa-apa. Dunia ditawarkan kepadanya, namun beliau menolak menerima apa yang dibenci oleh Allah SWT.

4. Abu Bakar

Umat Islam sudah selayaknya berpedoman pada Alquran dan Sunnah. Sedangkan yang bertentangan dengan keduanya, seperti kezaliman dan pewarisan kekuasaan, maka itu sama sekali bukan bagian dari Islam.

Masalah pewarisan kekuasaan ini juga merupakan hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu, Abu Bakar As-Shiddiq juga tidak mewariskan apa pun kepada anak-anaknya selama memerintah hingga wafat.

5. Umar bin Khattab

Para sahabat dan pemimpin awal umat Islam sangat menekankan prinsip keadilan dalam kepemimpinan mereka. Mereka tidak melihat kekuasaan sebagai milik pribadi atau hak turun-temurun, tetapi sebagai amanah yang harus dijalankan dengan baik untuk kepentingan seluruh umat.

Dalam hal pewarisan kekuasaan, Umar bin Al-Khattab  pun menolak membiarkan putranya termasuk di antara enam orang yang akan dipilih atau dimusyawarahkan oleh para sahabat untuk memilih khalifah.

6. Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib

Para sahabat Nabi dan pemimpin awal Islam menjalankan tugas kepemimpinan mereka dengan penuh dedikasi kepada agama Islam dan kesejahteraan umat. Mereka tidak mencari kekuasaan atau kekayaan pribadi, tetapi berjuang untuk menyebarkan Islam dan menjaga komunitas Muslim.

Karena itu, Khalifah Utsman bin Affan pun tidak mewariskan kekuasaan kepada anak-anaknya. Begitu juga dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, beliau juga tidak mewariskan kekuasaan kepada anak-anaknya.

7. Husain bin Ali

Dalam sejarahnya, Husain bin Ali melawan Yazid juga untuk menolak gagasan warisan kekuasaan. Hingga akhirnya, dia pun bertemu Tuhannya sebagai seorang syahid untuk mengingkari kekejian ini. Akibat dari itu adalah rangkaian warisan terus berlanjut. Jika waktu itu Husain berhasil dalam usahanya, maka warisan kekuasaan itu akan berakhir selamanya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement