Selasa 24 Oct 2023 05:11 WIB

Wasiat Abu Bakar Jika Hartanya Bertambah Saat Jadi Kepala Negara

Harta Abu Bakar jika bertambah diserahkan ke kepala negara setelahnya.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
 Wasiat Abu Bakar Jika Hartanya Bertambah Saat Jadi Kepala Negara. Foto:  Ilustrasi Sahabat Nabi
Foto: Pixabay
Wasiat Abu Bakar Jika Hartanya Bertambah Saat Jadi Kepala Negara. Foto: Ilustrasi Sahabat Nabi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat utama Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar juga sebagai khalifah pertama yang dibaiat setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW.

Dikisahkan, Abu Bakar menjelang wafat memberikan wasiat. Wasiatnya agar memperhatikan hartanya, jika harta Abu Bakar bertambah sejak menjadi khalifah maka berikanlah harta itu kepada khalifah selanjutnya.

Baca Juga

Abu Abdullah Muhammad bin Sa'ad bin Mani' al-Basri al-Hasyimi yang dikenal sebagai Ibnu Sa'ad adalah salah seorang sejarawan Islam awal. 

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Masruq, dari Aisyah Radhiyallahu anha menyampaikan, ketika Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu sakit menjelang wafat, Abu Bakar mengatakan, "Lihat dan perhatikanlah apa yang bertambah dari hartaku sejak aku menjadi khalifah. Jika ada maka berikanlah pada khalifah setelahku. Aku sudah menghalalkannya. Kini aku tengah tertimpa penyakit."

 

Aisyah Radhiyallahu anha mengisahkan, "Saat Abu Bakar meninggal dunia, kami perhatikan ternyata ada seorang budak dari Nubia yang sedang menggendong anaknya. Kalau anak itu kehausan, ia memberinya minum. Kami pun menyerahkan keduanya kepada Umar bin Khattab Radhiyallau 'anhu."

Saat menerimanya, Umar bin Khattab menangis dan berkata, "Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Sungguh ia telah memberikan tanggungan beban yang besar kepada orang setelahnya."

Pada hari ketujuh bulan Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah, Abu Bakar Ash-Shiddiq sakit panas selama 15 hari. Selasa sore, delapan hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir, Abu Bakar wafat. 

Kalimat terakhir yang diucapkan Abu Bakar menjelang wafatnya adalah, "Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”

Kalimat terakhir yang disampaikan Abu Bakar adalah potongan dari Surat yusuf Ayat 101.

 رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.” (QS Yusuf Ayat 101)

Jenazah Abu Bakar dimandikan istrinya, Asma' binti Umais dan anaknya Abdurrahman. Abu Bakar dikafani pada dua bajunya, sesuai wasiatnya. Ia lalu disholati, dipimpin khalifah setelahnya, yaitu Umar bin Khattab.

Abu Bakar dimakamkan di malam hari di kamar Aisyah. Kepalanya ditempatkan sejajar kedua pundak Rasulullah SAW, yang memasukkan ke dalam liang lahat adalah putranya Abdurrahman, kemudian Umar, Utsman, Abdurrahman ibn Auf, dan Thalhah ibn Ubaidillah.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement