Kamis 12 Oct 2023 20:40 WIB

Rencana Besar Yahudi Kuasai Dunia Dimulai Sejak Perang Salib Pertama

Perang Salib baru itu dibuat oleh orang-orang Yahudi.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Perang salib (ilustrasi)
Foto: wordpress
Perang salib (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Selama ini Perang Salib diyakini erat kaitannya dengan orang-orang Kristen yang bertekad mengendalikan agama mereka di tempat kelahiran Al Masih.

Bahaa Al Amir dalam buku sejarah terkenalnya, 'Al Wahyu wa Naqiidohu' (terbit 2006), menguraikan tentang arah Perang Salib dalam melawan dunia Islam di zaman dulu dan modern.

Baca Juga

Bahaa Al Amir berpandangan, Perang Salib pertama punya kedalaman dan isi yang sangat bernuansa Katolik. Target mereka adalah tanah suci Umat Kristiani. "Adapun Perang Salib baru adalah kampanye Protestan yang sangat bernuansa Yahudi. Tujuannya adalah Tanah Suci Yahudi dan Kuil Suci," demikian penjelasan Bahaa Al Amir.

Namun, pandangan tersebut dipertimbangkan kembali oleh Al Amir dalam buku sejarah terbarunya, Al Yahuud wa Al Harakaat Al Sirriyyah fii Al Huruubi Al Sholibiyyah, yang terbit pada 2013.

 

Hal itu karena Al Amir menyadari bahwa Perang Salib baru adalah cetakan persis dari induknya yang lama, yakni Perang Salib Pertama. Rencana yang termuat di dalam Perang Salib baru itu dibuat oleh orang-orang Yahudi dengan tujuan untuk memenuhi tujuan mereka. Begitu pun Perang Salib Pertama, yang juga direncanakan oleh orang-orang Yahudi.

Al Amir kemudian mengutip surah Al Maidah ayat 64. Allah SWT berfirman, "... Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan" (QS Al Maidah ayat 64).

Bahaa Al Amir meyakini bahwa yang menyalakan api Perang Salib adalah orang-orang Yahudi, bukan Nasrani. Dia berpandangan, Perang Salib adalah perang terpanjang yang diketahui manusia dalam sejarah tertulisnya. "Bagaimana Allah bisa menyatakan bahwa orang-orang Yahudilah yang mengobarkan api perang dan bukan termasuk penerus preang yang paling lama dan terbesar," tulis Al Amir.

Al Amir juga menjelaskan, orang-orang Yahudi biasanya tidak muncul di barisan depan, dan bahkan mungkin tidak muncul di antara para prajurit dan komandan sekalipun. Tetapi mereka selalu menjadi dalang opini, dan penggerak tersembunyi untuk tangan-tangan penindas.

Orang-orang Yahudi tersebar di seluruh bumi setelah kehancuran negara mereka dua kali, sebelum dan sesudah misi Kristus. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT surah Al A'raf ayat 168:

"Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)."

Maka tak mengherankan jika benua Eropa menjadi salah satu bagian bumi tempat orang-orang Yahudi berlindung, tinggal, dan berkembang biak. Juga mewariskan keyakinan agama dan warisan esoteris mereka.

Mereka mengambil keuntungan dari kelemahan yang menimpa umat Islam pada abad ke-11 Masehi, perpecahan bangsa. Ketika keturunan Yahudi berusaha mendapatkan harta dan pengaruh, sebagian dari mereka mulai merencanakan kampanye besar-besaran untuk memperoleh kembali tanah yang dijanjikan untuk mereka, menurut mereka.

Mengapa mereka punya tekad seperti itu? Ini terkait dengan Perjanjian Umariyyah (Al 'Uhda Al Umariyyah), sebuah perjanjian antara Umar dan orang-orang Kristen di daerah Yerusalem. Berdasarkan perjanjian ini, orang-orang Yahudi dilarang menghuni Tanah Suci di Yerusalem. Orang-orang Kristen diperbolehkan tinggal di Yerusalem, tetapi syaratnya orang Yahudi tidak boleh tinggal di sana.

Adapun Salib, yang awalnya menyatakan doktrin penebusan untuk menebus dosa pertama dan berasal dari doktrin Qabbalah, adalah kedok orang-orang Yahudi untuk menyembunyikan kebenaran niat mereka.

Bahaa Al Amir juga menekankan, Perang Salib pertama melawan dunia Islam di Timur Tengah itu diatur oleh keluarga besar Yahudi yang mempersiapkan suasana pecahnya perang. Mereka menciptakan krisis ekonomi di Eropa dengan mengendalikan perekonomian.

Keluarga-keluarga ini memainkan peran terbesar dalam membangkitkan opini publik dan memobilisasi massa. Mereka bersama Paus Urbanus II menyebarkan pemikiran anti-Islam menabur kebencian terhadap umat Islam, dan menyebut Islam telah merebut tempat lahir Kristus dan menodai makamnya.

Orang-orang Yahudi mengambil keuntungan dari mesin propaganda tersebut dan menyebarkan berita bahwa para peziarah Eropa yang tiba di Yerusalem telah dihina dan direndahkan.

Sejarawan Wall Durant, dalam bukunya yang terkenal The Story of Civilization, menyatakan bahwa Turki menganiaya para peziarah Eropa setelah mereka merebut Yerusalem pada tahun 1070 M dari tangan Fatimiyah, padahal tidak terbukti melakukan penganiayaan tersebut.

Sejak Perang Salib Pertama, orang-orang Yahudi memperluas aktivitas komersialnya. Karena orang-orang Yahudi adalah raja keuangan dan perdagangan sepanjang zaman, maka kolonisasi negara-negara Muslim merupakan kepentingan mereka.

Letak dunia Arab Islam di Timur Tengah turut andil dalam menghubungkan perdagangan para ahli keuangan di Timur dan Barat. Dengan kendali negara-negara Barat atas wilayah tersebut, orang-orang Yahudi punya peluang terbesar untuk mengamankan kapal-kapal komersial mereka dan memperluas kekuasaan mereka atas pasar-pasar baru.

Buku 'The Jewish Question' (1950) karya Zionis Abram Leon yang mengulas soal mediasi komersial orang-orang Yahudi, menggambarkan mereka sebagai mediator komersial utama, dan hampir satu-satunya antara Timur dan Barat sejak abad ke-8 Masehi.

Penulis Belgia Henri Perrin membenarkan masalah ini dalam bukunya 'Muhammad and Charlemagne' (1937), dengan mengatakan bahwa kata Yahudi menjadi sinonim dengan kata Taajir (pedagang). Artinya, perdagangan merupakan karakteristik dasar orang Yahudi.

Sumber:

https://resalapost.com/2020/03/06/%D8%AF%D9%88%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%8A%D9%87%D9%88%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D8%A5%D8%B7%D9%84%D8%A7%D9%82-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%85%D9%84%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%84%D9%8A%D8%A8%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A9/

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement