Selasa 03 Oct 2023 16:56 WIB

Lima Hal Tercela Mengiringi Harta, Hati-Hatilah Terhadap Mereka

Di zaman sekarang harta diiringi lima hal yang tercela.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Infografis Tiga Hal yang Mendatangkan Rezeki. Ilustrasi harta
Foto: Republika.co.id
Infografis Tiga Hal yang Mendatangkan Rezeki. Ilustrasi harta

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam buku Nashaihul Ibad mengutip penjelasan ulama yang sangat terkemuka yakni Sufyan Ats-Tsauri. Penjelasan tersebut menjelaskan bahwa di zaman sekarang harta diiringi lima hal yang tercela.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri, "Pada zaman ini tidak ada harta pada seseorang melainkan disertai oleh lima hal yang tercela, yaitu lamunan ngelantur, tamak yang menguasainya, kikir yang berlebihan, tidak adanya lagi sifat wira'i, dan melupakan akhirat."

Baca Juga

Dalam mengumpulkan harta di zaman sekarang tidak bisa lepas dari lima perkara yang sangat tercela.

Pertama, lamunan ngelantur artinya menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

 

Kedua, tamak yang menguasainya artinya dikuasai oleh sifat rakus, tidak pernah puas terhadap setiap yang diterimanya. Orang yang mencintai dunia dicela, sedangkan orang yang mencari kelebihannya dikritik. Mencintai dunia dikhususkan pada segala hal yang melewati batas kebutuhannya. Sedangkan kelebihan dunia adalah merasa gembira dengan segala hal yang melebihkan ukuran kebutuhannya.

Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW di dalam sabdanya sebagai berikut.

"Tidak termasuk yang lebih baik di antara kamu orang yang meninggalkan dunia karena akhirat saja, begitu juga dengan orang yang meninggalkan akhirat untuk dunia saja. Tetapi yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mengambil ini dunia dan ini akhirat (pertengahan)."

Dalam riwayat yang lain diterangkan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sebaik-baik tunggangan adalah dunia, maka naiklah kepadanya karena ia akan menyampaikanmu ke akhirat."

Ali bin Abi Thalib juga pernah mengatakan dunia itu tempat kebenaran bagi orang yang membenarkannya. Tempat keselamatan bagi orang yang memahaminya dan tempat kecukupan bagi orang yang menjadikannya sebagai bekal.

Ketiga, kikir yang berlebihan artinya dikuasai oleh sifat kikir.

Keempat, tidak adanya lagi sifat wira'i (wira'i adalah orang yang mampu menjaga seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang diharamkan, menjaga anggota tubuhnya dari hal yang tidak diperbolehkan)

Hilang sifat wira'i adalah menjauhi perkara-perkara yang syubhat karena takut jatuh ke dalam perkara-perkara yang haram. Dalam riwayat lain diterangkan wira'i adalah sentiasa dalam kebajikan mengerjakan amal yang baik.

Kelima, melupakan akhirat tempat yang kekal abadi dalam hal ini seorang penyair mengatakan lewat syairnya sebagai berikut.

"Wahai peminang dunia untuk diri sendiri, sungguh dunia telah menjadi kekasihnya di setiap hari, dunia minta agar suami segera menikahi dan sungguh sebenarnya ia telah digauli di tempat lain ia punya ganti suami. Aduhai dunia pun menerima para peminangnya yang tiada lain adalah untuk membunuh mereka, dan mereka pun terbunuh semua. Sungguh aku telah tertipu dan sungguh petaka telah menjebak diriku. Sedikit demi sedikit himpunlah bekal untuk mati, bekal, sungguh bekal karena pengundang telah menyeru berangkatlah ayo berangkat."

Dilansir dari kitab Nashaihul Ibad yang diterjemahkan Abu Mujaddidul Islam Mafa dan diterbitkan Gitamedia Press, 2008.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement