Kamis 28 Sep 2023 18:15 WIB

Benda yang Selalu Dibawa Tentara Ottoman Saat Berperang, Ternyata Ini Tujuannya

Pasukan Ottoman membawa Alquran sancak selama bertugas.

Rep: Umar Mukhtar / Red: Nashih Nashrullah
Pasukan Ottoman membawa Alquran Sancak selama bertugas
Foto:

Secara historis, kata sancak ini mengungkapkan beberapa bentuk pembagian administratif di dalam Kesultanan Utsmani. Mulai abad ke-14, ada beberapa legiun militer yang berperang dengan imbalan pemberian wilayah kekuasaan kepada mereka setelah perang. Setiap korps militer biasanya ditugaskan ke wilayahnya masing-masing, yang oleh orang Turki disebut "sancak".

Belakangan, istilah ini diperluas untuk diterapkan pada beberapa negara Ottoman, dan bahkan wilayah mana pun yang tunduk pada administrasi Sublime Port. Tetapi istilah ini dibedakan oleh fakta bahwa penguasanya, yang biasanya adalah seorang komandan militer, tidak tunduk pada siapa pun kecuali pemerintah Khalifah Ottoman secara langsung. Kesultanan Utsmani menguasai sebagian besar Eropa Timur dengan cara ini.

Mushaf sancak memberikan karakter militer yang membedakannya dari mushaf Alquran lainnya, dan untuk menekankan keberkahan tugas militer yang diberikan padanya. Mushaf sancak dibuat secara khusus untuk pekerjaan tempur, khususnya angkatan laut.

Mushaf sancak dibuat dengan spesifikasi yang berbeda-beda dan kualitas tingkat tinggi yang menjamin dapat menahan kesulitan yang dialami oleh prajurit selama pertempuran. Mushaf sancak tidak menggunakan bentuk penulisan Alquran yang biasa digunakan pada umumnya.

photo
Arsitektur peninggalan Ottoman - (republika)

Mushaf sancak berbentuk heksagonal atau segi delapan, dan lembaran kertasnya diganti dengan bahan kayu atau setidaknya kertas yang lebih tipis dari kertas biasanya. Mushaf sancak juga dilengkapi penutup atau pelindung untuk melindunginya dari bahaya, yang pada zaman Ottoman biasa dibuat dari bahan kayu kenari atau perak.

Tidak hanya itu, para pelaut Ottoman juga biasa memohon berkah sebelum melakukan penaklukan. Mereka akan mengangkat Mushaf sancak itu ke atas tiang kapal, khususnya di sisi kanan. Dari atas tiang itu, Mushaf sancak digantung dan disimpan di dalam kotak kayu yang dihias dengan cermat.

Baca juga: Temuan Peneliti Amerika Serikat dan NASA Ini Buktikan Kebenaran Alquran tentang Kaum Ad

Mushaf sancak mewakili nilai arkeologis yang langka. Pertama karena sangat langkanya salinan Alquran yang dibuat dengan cara ini, dan kedua karena kualitas pembuatan, dekorasi, dan perlindungannya yang sangat baik dalam kotak perak atau kayu kenari.

Pada 2006 lalu, Museum Sabanci merayakan pameran Mushaf Alquran terkecil di dunia, yang ditulis oleh ahli kaligrafi Karim bin Ibrahim Al-Shirazi pada masa pemerintahan Sultan Ottoman Murad IV. Panjang mushaf tidak melebihi 3,5 cm, namun halaman kecilnya berisi salinan lengkap ayat-ayat Alquran yang dapat dibaca dengan kaca pembesar.

Menurut pihak museum, mereka tidak segan-segan membayar 65 ribu lira Turki (sekitar Rp 36 juta) untuk mushaf tersebut, yang kemudian akan menjalani proses restorasi besar-besaran agar layak untuk dipajang.

 

Sumber: arabicpost  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement