Selasa 26 Sep 2023 18:47 WIB

Horror PKI di Pinggiran Sungai Bengawan Solo

Kekejaman PKI bunuh banyak orang di Solo.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Erdy Nasrul
Keluarga aktivis korban pembantaian PKI menggelar upacara tabur bunga di monumen perisai Pancasila, Pucang Sawit Solo pada Ahad (22/10).
Foto:

Menurut Joko Wiyono (61 tahun), warga Pucang Sawit yang rumahnya tak jauh dari Monumen Perisai Pancasila, pada hari pembantaian itu, anggota PKI menggedor-gedor tiap rumah warga di Pucang Sawit. Kedatangan mereka untuk mencari Sutiman Dempo yang lolos.  

“Bapak saya buka pintu malam itu. Dia (anggota PKI) tanya bapak, lihat orang lari ke sini? Katanya Sutiman itu maling. Paginya, saya enggak boleh keluar rumah, ya penemuan mayat itu,” kata dia.  

Bahkan setelah peristiwa pembunuhan sadis itu, Joko mengatakan, warga dihantui ketakutan. Sejak itu pula tiap kepala keluarga wajib berjaga malam mulai pukul 6 malam hingga pagi.  

Penembakan aktivis di Gladak dan pembantaian di Kedung Kopi berlanjut ke Purwoloyo. Korbannya yakni Ali Imron yang dikenal sebagai pemuda yang aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Dia merupakan mayoret di grup drumband Muhammadiyah dan kerap mengikuti rapat-rapat yang digelar pengurus ranting Muhammadiyah.  

Adik kandungnya, Asmaun, menceritakan tentang kematian kakaknya itu di tangan PKI. Jasad Ali Imron ditemukan sehari setelah penemuan mayat di kedung kopi yakni pada 24 Oktober 1965.  

Ia menceritakan, Ali bersama temannya dicegat Pemuda Rakyat setelah dari Gladak pada 22 Oktober 1965. Kemudian, dia digiring hingga kawasan Batuar. Menurut keterangan yang diperolehnya dari warga sekitar, Asmaun menceritakan, kakaknya itu ditantang berkelahi dengan PKI.  

Saat itu, Ali Imron meladeni tantangan itu. Dengan tangan kosong, Ali Imron beradu gulat dengan lawan yang menggunakan senjata tajam. Ali Imron kalah dalam pertarungan itu sedangkan temannya Soedarto selamat dan dilepas anggota PKI. Konon, gara-gara Soedarto memiliki ilmu kebal.  

Setelah pertarungan itu, Ali Imron dibunuh. Jasadnya diseret hingga rel kereta di Purwoloyo. Saat jasad kakaknya diantar pulang, Asmaun menyaksikan jasad kakaknya penuh luka sayatan, terutama di bagian lengan dan leher. “Mungkin tangannya digunakan menangkis waktu itu, terus tengkorang belakangnya juga hancur, bagian batunya masih ada yang menempel,” katanya.  

Mulai penembakan di Gladak, pembantaian Kedung Kopi, hingga penyiksaan berujung maut yang dialami Ali Imron, jumlah korban sebanyak 23 orang. Dari peristiwa ini, warga Kelurahan Sewu mengenal Karno Gejig. Karno Gejig menjadi salah satu orang paling dicari usai penemuan mayat di pulau Kedung Kopi.  

Menurut Sudewo, Karno Gejig adalah algojo PKI yang ditugaskan membantai 13 orang di pulau Kebon Kopi. “Karno Gejig itu yang jadi eksekutornya. Dia terus ditangkap, setelah beberapa bulan dibawa ke Balai Kota diikat di sana, kata Sadewo.   

Dia pun menceritakan ketika dibawa oleh tentara ke Balai Kota Solo, seluruh pakaian yang dikenakan Karno Gejig dilucuti, kecuali celana dalam. Warga menonton langsung saat algojo milik PKI itu ditelanjangi.  

 

Tidak hanya itu, Karno Gejig menjadi bulan-bulanan warga Solo. “Warga waktu itu nonton ramai di Balai Kota, nyoraki,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement