Jumat 22 Sep 2023 19:49 WIB

Rayakan Maulid Nabi dengan Niat Mencurahkan Cinta pada Rasulullah

Maulid Nabi akan jatuh pada 28 September 2023.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
 Rayakan Maulid Nabi dengan Niat Mencurahkan Cinta pada Rasulullah. Foto:  Peringatan Maulid Nabi SAW, ilustrasi
Foto: Tahta/Republika
Rayakan Maulid Nabi dengan Niat Mencurahkan Cinta pada Rasulullah. Foto: Peringatan Maulid Nabi SAW, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tanggal 28 September nanti umat Islam akan merayakan Maulid Nabi atau hari lahir Nabi Muhammad SAW. Wakil Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen, Nyai Hj. Tutik Nurul Jannah, menyebut hal ini dilakukan dengan niat mencurahkan cinta kepada kekasih Allah SWT.

"Dari saya melihatnya kenapa mesti ada Maulid Nabi? Ini ada sejarahnya. Dalam sejarah, ada sekelompok masyarakat atau umat Muslim yang merasa ingin menumpahkan rasa rindunya dengan merayakan Maulid Nabi," ujar dia saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (22/9/2023).

Baca Juga

Di Indonesia, awalnya ada semacam al-Barzanji atau shalawat pujian kepada Nabi SAW yang dilaksanakan hampir setiap malam. Secara bergantian di rumah-rumah merayakan Maulid Nabi dengan membaca qosidah Barzanji.

Qosidah Barzanji sendiri mulanya hadir di Maroko, ketika ada lomba di Masjid Fatimiyah membuat puisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Perlombaan ini dimenangkan oleh Barzanji, yang akhirnya karya beliau masih dipakai sampai saat ini.

 

"Hari ini, kita merayakan Maulid Nabi harus dikembalikan pada niat awal, tidak lain untuk menambah rasa cinta kepada Rasulullah. Karena alasan tersebut, jangan sampai dimunculkan dengan hal-hal yang berbau maksiat," lanjut Nyai Tutik.

Meski dibebaskan bagaimana cara merayakan Maulid Nabi ini, tetapi ia juga mengingatkan bukan berarti cinta Rasul dan merayakan Maulid Nabi dengan berjoged dangdut. Hal ini dinilai menjadi tidak selaras antara niat dengan kegiatan yang dilakukan.

Ia lantas menyebut Nabi Muhammad merupakan habibullah atau kekasih Allah SWT. Beliau diutus utamanya untuk memperbaiki akhlak manusia. Karenanya, hari ini jika ingin menunjukkan rasa cinta kepadanya adalah dengan mengikuti semampunya sunnah-sunnah Nabi.

"Saya katakan semampunya, karena kita tahu kondisi umat berbeda-beda. Ada yang mampunya mencintai Rasul dengan apa adanya, seperti ngaji tidak bisa semuanya, maka semampunya mengaji asal diniatkan untuk mencintai Rasul," kata dia.

Kepada yang lebih pintar atau mampu, ia mengingatkan untuk tidak gemar membodoh-bodohkan orang yang memang belum mampu mencapai levelnya.

Akhlak Rasul, yang dipegang sebagai acuan utama umat Muslim, adalah bagaimana semangat berdakwah dilakukan sebagaimana amar maruf nahi mungkar bil ma'ruf. Artinya, ajaklah seseorang berbuat baik dan melarang orang berbuat yang jahat dengan cara yang baik.

Nyai Tutik lalu mengatakan Nabi Muhammad selalu melihat umat-Nya dengan kacamata kasih sayang. Hari ini, siapapun yang menjadi pemimpin agama diharap bisa melihat umat Muslim dengan ainul rahmah, sehingga ketika berdakwah juga dipenuhi dengan kasih sayang.

"Umat Muslim juga hendaknya melihat ulamanya dengan kasih sayang, jadi tidak saling menafikkan keberadaannya. Maulid Nabi juga menjadi titik tolak mengikuti Kanjeng Nabi, melihat sesama manusia dengan ainul rahmah," ujar menanti Kiai Sahal ini.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement