Jumat 01 Sep 2023 14:39 WIB

Mengapa Orang Meninggal Diadzani, Apa Dalilnya?

Sebagian masyarakat pun mempertanyakan hukumnya.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Peziarah memadati TPU (Tempat Pemakaman Umum) Cikutra, Kota Bandung, Ahad (23/4/2023).
Foto: Edi Yusuf/Republika
Peziarah memadati TPU (Tempat Pemakaman Umum) Cikutra, Kota Bandung, Ahad (23/4/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Adzan biasanya dikumandangkan umat Islam ketika memasuki waktu sholat lima waktu. Selain itu, juga disunahkan untuk mengumandangkan adzan saat anak baru lahir ke dunia ini, baik bayi laki-laki maupun perempuan.

Tidak hanya itu, masyarakat Indonesia juga kebanyakan mengumandangkan adzan kepada orang yang meninggal dunia atau saat akan dikuburkan. Terkait hal ini, sebagian masyarakat pun mempertanyakan hukumnya.

Baca Juga

Pertanyaan ini juga pernah diajukan kepada Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KHR Achmad Azaim Ibrahimy. Menurut Kiai Azaim, orang yang bertanya tersebut ingin mengetahui hikmahnya. Karena, tidak ada sabda nabi terkait praktik tersebut.

“Ada orang tanya kepada saya, tapi masih jujur dia ingin mengetahui hikmahnya. Kiai, saya ditanya orang, apa dalilnya orang mati diadzani? Tidak ada, nabi tidak mensabdakan begitu,” ujar Kiai Azaim dikutip dari ceramahnya yang ditayangkan di kanal Youtube @S3TVSukorejo, Jumat (1/9/2023).

Namun, menurut Kiai Azaim, para ulama telah menganalogikannya dengan cerdas. Hal itu terdapat dalam fikih Mazhab Syafii dengan alasan mengqiyaskan adzan saat bayi dilahirkan. Sedangkan Qiyas sendiri telah disepakati oleh empat madzhab sebagai salah satu sumber hukum Islam setelah Alquran, Sunnah, dan Ijma'.

“Kredibilitas ulama kita, dengan analoginya yang cerdas, orang yang lahir ke dunia diadzani sebagai proses kehidupan di dunia agar selamat, maka ketika beralih kepada kehidupan berikutnya diqiaskan kepada yang lahir ke dunia,” ucap Kiai Azaim.

Jadi, karena saat lahir diadzani, maka setelah meninggal pun seharusnya dikumandangkan juga agar selamat di kehidupan selanjutnya. “Dari alam janin ke alam dunia diadzani, dari alam dunia ke alam barzah diazani lagi. Cerdas gak ulama kita? Tapi yang ndak paham sama ushul fikih, (akan bilang) bid'ah dhalalah ini,” jelas cucu KHR As’ad Syamsul Arifin ini.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement