Rabu 23 Aug 2023 20:09 WIB

Tangis Pengemis Yahudi Buta yang Rindukan Rasulullah SAW Hingga Bersyahadat 

Rasulullah SAW adalah sosok yang memuliakan sesama manusia

Nabi Muhammad (ilustrasi). Rasulullah SAW adalah sosok yang memuliakan sesama manusia
Foto: Dok Republika
Nabi Muhammad (ilustrasi). Rasulullah SAW adalah sosok yang memuliakan sesama manusia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Nabi Muhammad SAW menjadi teladan bagi umat manusia sepanjang zaman. Salah satu kesempurnaan akhlak beliau tampak dari sikap Rasulullah SAW terhadap  sesama manusia. 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Baca Juga

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” 

Dalam sebuah riwayat disebutkan di sebuah sudut Kota Madinah, selalu mangkal seorang pengemis Yahudi buta. Setiap orang yang mendekati, ia selalu berkata, ''Wahai Saudaraku, jangan engkau dekati Muhammad yang mengaku sebagai Rasul itu. Dia gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kamu mendekatinya, dia akan memengaruhimu.''

 

Walau sebegitu busuk hati dan perbuatan pengemis itu, setiap pagi Rasulullah selalu membawakan makanan untuknya. Tanpa berkata, beliau menyuapi pengemis itu. Rasulullah melakukan hal ini hingga wafat.

Ketika Abu Bakar berkunjung ke rumah Aisyah, beliau bertanya, ''Wahai anakku, adakah sunah Rasulullah yang belum aku kerjakan?'' Aisyah menjawab, ''Wahai ayah, engkau ahli sunnah, hampir tidak ada sunnah yang belum Ayah lakukan, kecuali setiap pagi Rasulullah pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.''

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke sudut pasar dengan membawa makanan. Abu Bakar memberikan makanan kepada sang pengemis. Ketika mulai menyuapi, pengemis marah sambil berteriak, ''Siapa kamu?'' Abu Bakar menjawab, ''Aku orang yang biasa.'' 

Pengemis membantah, ''Engkau bukan orang yang biasa datang. Apabila orang itu datang, tanganku tidak akan susah memegang dan mulutku tidak akan susah mengunyah. Orang itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu sebelum menyuapkannya kepadaku.''

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata jujur, ''Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.'' 

Baca juga: 10 Makanan yang Diharamkan dalam Islam dan Dalil Larangannya

Setelah pengemis Yahudi itu mendengar cerita Abu Bakar, ia menangis dan berkata, ''Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia.'' Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya masuk Islam dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Itulah salah satu bentuk keagungan seorang Muhammad. Kebaikannya dan ketinggian akhlaknya tidak terbendung oleh kebencian dan cercaan. Bahkan, beda keyakinan yang notabene merupakan hal yang paling esensial, menjadi lebur di hadapan keluhuran hatinya. Ini sebuah cermin dan teladan yang sangat dibutuhkan ketika saling pengertian, toleransi, dan objektivitas menjadi barang mahal.     

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement