Rabu 23 Aug 2023 17:38 WIB

Kisah Bilal Masuk Islam, Disiksa dan Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

Bilal adalah muadzin tetap Masjid Nabawi.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
 Kisah Bilal Masuk Islam, Disiksa dan Mimpi Bertemu Rasulullah SAW. Foto:  Ilustrasi Sahabat Nabi
Foto: Mgrol120
Kisah Bilal Masuk Islam, Disiksa dan Mimpi Bertemu Rasulullah SAW. Foto: Ilustrasi Sahabat Nabi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sayyidina Bilal Al-Habsyi Radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang masyhur. Bilal adalah muadzin tetap Masjid Nabawi yang terkenal merdu suara adzannya.

Semula Bilal adalah seorang budak milik seorang kafir, yaitu Umayyah bin Khalaf. Kemudian Bilal memeluk lslam yang menyebabkannya banyak menerima berbagai siksaan dari kaum kafir.

Baca Juga

Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang sangat memusuhi lslam. Dia membaringkan Bilal di atas padang pasir di siang hari yang sangat panas di bawah terik matahari sambil meletakkan batu besar di dadanya. Sehingga Bilal tidak bisa bergerak.

Umayyah bin Khalaf berkata kepada Bilal, "Apakah kamu siap mati seperti ini atau tetap hidup dengan syarat kamu meninggalkan lslam?"

Dalam keadaan sangat tersiksa seperti itu, Bilal hanya berkata, "Ahad, Ahad (hanya satu yang berhak disembah yakni Allah SWT)."

Malam harinya, Bilal dirantai dan dicambuk terus-menerus sehingga badannya penuh luka. Esok harinya, dengan luka itu ia dijemur kembali di padang pasir yang panas sehingga lukanya semakin parah.

Tuannya yang kejam dan kafir berharap, Bilal akan meninggalkan lslam atau menggelepar mati. Orang yang menyiksa Bilal sampai kelelahan sendiri, sehingga perlu bergantian. Kadang kala Abu Jahal, Umayyah bin Khalal dan terkadang orang lain yang menyiksa Bilal. Setiap orang kejam dan kafir berusaha menyiksanya sekuat tenaga.

Ketika, Abu Bakar melihat penderitaan Bilal, dia membeli Bilal dan memerdekakannya. Begitulah kisah perjuangan sahabat Bilal mempertahankan iman dan Islamnya.

Kitab Kisah-Kisah Sahabat yang ditulis Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi diterbitkan Pustaka Ramadhan, menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menjadikan berhala sebagai sesembahan, sedangkan lslam mengajarkan tauhid. lnilah yang menyebabkan dari lisan Bilal selalu terucap, "Ahad, Ahad." Hal itu karena hubungan dan cinta Bilal yang tinggi terhadap Allah SWT.

Dalam cinta dunia, kita melihat seseorang yang mencintai seseorang tentu akan merasa nikmat jika menyebut nama orang yang dicintainya. Kadang kala, tanpa tujuan yang jelas namanya akan disebut-sebut.

Lalu, bagaimana dengan cinta kepada Allah SWT yang mendatangkan kesuksesan di dunia dan akhirat?Karena cintanya kepada Allah SWT inilah Bilal didera dengan segala siksaan.

Bilal diserahkan kepada anak-anak Makkah untuk diarak di lorong-lorong. Akan tetapi, dari bibirnya selalu terucap, "Ahad, Ahad."

Dengan pengorbanannya itu, dia mendapat kehormatan sebagai muadzin baginda Nabi Muhammad SAW, baik ketika tinggal di Madinah maupun dalam perjalanan. Setelah baginda Nabi Muhammad SAW wafat, dia tinggal di Madinah untuk beberapa lama.

Akan tetapi, karena melihat baginda Nabi Muhammad SAW sudah tidak ada, sulit baginya untuk terus tinggal di Madinah. Oleh karena itu, Bilal berniat menghabiskan sisa hidupnya untuk berjihad (di Syam).

Bilal berangkat berjihad dan beberapa lama tidak kembali ke Madinah. Suatu ketika ia bermimpi berjumpa dengan baginda Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW dalam mimpi Bilal bersabda, "Wahai Bilal, masihkah kamu setia kepadaku? Mengapa kamu tidak pernah menziarahiku?"

Begitu bangun, Bilal segera pergi ke Madinah. Setibanya di sana, Sayyidina Hasan dan Sayyidina

Husain memintanya untuk mengumandangkan adzan.

Bilal tidak dapat menolak permintaan kedua orang yang sangat dicintainya itu. Bilal pun memulai adzan. Tatkala suara adzan seperti pada masa hidup baginda Rasulullah SAW sampai di telinga penduduk Madinah, Madinah pun gempar. Para wanita pun menangis dan keluar dari rumah-rumah mereka. Setelah tinggal beberapa hari di Madinah, Bilal pun kembali (ke Syam). Menjelang tahun 20 Hijriyah, dia wafat di Damaskus. (dari Kitab, Usudul Ghabah)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement