Sabtu 19 Aug 2023 16:31 WIB

Cat Kuku Jadi Perdebatan Konsumen Muslim, Halal atau Haram?

Halal Watch World baru mensertifikasi satu merek cat kuku halal.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Erdy Nasrul
Pekerja menyelesaikan proses pembuatan cat kuku di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (27/9/2022). Produksi cat kuku berbahan dasar daun inai secara rumahan tersebut dijual dengan harga Rp50 ribu dan sudah dipasarkan hingga ke luar negeri seperti Afrika Selatan, Kanada, China, Inggris, dan Arab Saudi.
Foto: ANTARA/Fauzan
Pekerja menyelesaikan proses pembuatan cat kuku di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (27/9/2022). Produksi cat kuku berbahan dasar daun inai secara rumahan tersebut dijual dengan harga Rp50 ribu dan sudah dipasarkan hingga ke luar negeri seperti Afrika Selatan, Kanada, China, Inggris, dan Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang pengguna TikTok, Maham Ayaz, secara rutin melakukan uji permeabilitas air dari cat kuku halal. Dalam akunnya bernama @eggdelivery, salah satu videonya bahkan mendapat 27.000 like.

Di video tersebut, Ayaz mengambil sebagian kecil cat kuku dan diletakkan di atas handuk kertas. Setelahnya, ia mengoleskan enam hingga tujuh tetes air ke masing-masingnya.

Baca Juga

Usai menyelesaikan langkah tersebut, ia menunggu selama lima menit. Hasil yang ia dapatkan adalah handuk kertasnya tetap kering dan tak satu pun dari produk ini membiarkan air merembes, meskipun diiklankan sebaliknya.

Melihat video ini, tidak sedikit pengguna TikTok yang menyampaikan kekecewaannya. Mereka menyebut memastikan air dapat mencapai permukaan ujung kuku kapan saja, bahkan dengan manikur, penting bagi banyak konsumen Muslim.

Saat melakukan wudhu, penyucian sebelum shalat lima waktu, beberapa mengklaim hal ini belum sah kecuali air mencapai seluruh bagian wajah, tangan, lengan dan kaki. Termasuk juga di dalamnya bagian dari kuku.

Melihat pasar yang sedang berkembang ini, tidak sedikit perusahaan cat kuku yang berusha mengembangkan formula yang membuatnya dapat menyerap air dalam 10 tahun terakhir, atau yang dikenal sebagai cat kuku ramah wudhu. Namun, hingga saat ini belum ada standar resmi dalam industri sertifikasi halal, untuk menilai efisiensi dan keandalan produk tersebut.

CEO dan presiden Halal Watch World, Imam Mansoor Rafiq Umar, turut angkat suara terlait hal ini. Pria yang bekerja pada organisasi sertifikasi halal ini menyebut memberi label halal pada cat kuku adalah proses yang rumit dan rumit.

“Sangat sulit bagi perusahaan mana pun untuk mengklaim ada suatu zat yang dapat menembusnya (cat kuku). Saya akan merasa sangat senang jika dapat melihat semua data dan makalah ilmiah yang mampu menunjukkan itu,” kata dia dikutip di Religion News, Senin (14/8/2023).

Selama 30 tahun beroperasi, Halal Watch World baru mensertifikasi satu merek cat kuku halal karena komposisinya yang bersih, serta tidak mengandung bahan yang dilarang, seperti alkohol. Untuk saat ini, perusahaan menolak memberikan sertifikat ramah wudhu dengan mengklaim bahwa tes permeabilitas air yang ada tidak cukup meyakinkan.

Bagi Umar, sertifikasi harus dengan jelas membedakan antara komposisi halal dan ramah wudhu dari cat kuku. Cara ini dinilai bisa membantu memperkuat kepercayaan konsumen Muslim pada merek cat kuku halal.

Karena penggunaan istilah halal dalam konteks ini bisa menyesatkan, Umar yakin produk semacam itu tidak bisa dianggap haram atau berdosa dalam bahasa Arab.

“Saya pikir kategorisasi itu sebenarnya bermasalah. Anda tidak dapat menganggap sesuatu itu halal jika Anda tidak dapat berwudhu dengannya. Itu bukan klasifikasi yang tepat,” ujar dia.

CEO dan pendiri merek cat kuku halal Tuesday in Love, Dr Umar Dar, juga berpikir industri sertifikasi halal harus menyepakati standar baru untuk cat kuku halal. Ketika berbicara tentang industri sertifikasi halal, sangat sedikit atau tidak ada organisasi pusat dan otoritatif.

Dar pertama kali tertarik dengan industri cat kuku halal pada 2014, dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menguji permeabilitas air dari produk tersebut di dapurnya. Setelah berbulan-bulan menguji sampel dari berbagai merek, Dar menyadari tidak ada bahan yang membiarkan air merembes karena penggunaan nitroselulosa.

Senyawa ini digunakan dalam cat, pernis dan sebagian besar cat kuku, yang mana bahannya akan mengeras saat mengering dan menciptakan lapisan padat pada kuku.

"Bahkan jika banyak merek menambahkan bahan kimia lain dalam formula mereka untuk mengubah basis nitroselulosa, itu tidak cukup untuk mengubah sifat asli cat kuku dan membuatnya benar-benar dapat 'bernapas' dengan air," kata Dar.

Dengan latar belakangnya sebagai seseorang yang mempelajari kimia, ia memastikan untuk selalu memeriksa bahan-bahan yang ada dengan cermat. Karena itu, ia merasa apa yang beredar saat ini hanyalah penipuan pemasaran. Cat kuku 'bernapas' secara harfiah hanyalah cat kuku biasa yang harganya dinaikkan.

Dar lantas mengembangkan kompleksitas air 'bernapas' yang disertifikasi oleh Sertifikasi Halal Kanada dan Masyarakat Islam Amerika Utara, bahkan mematenkannya. Dia secara teratur menantang kliennya untuk menilai efisiensi produknya dengan tes buatan sendiri.

“Kami memberi tahu pelanggan kami bahwa seharusnya cukup sederhana bagi Anda untuk melakukan ini di rumah,” ucap dia. Dar juga menantang merek cat kuku halal dan organisasi yang mensertifikasinya di saluran YouTube dan TikTok miliknya.

Co-founder merek Maya Cosmetics, Javed Younis, menyadari ada cara khusus untuk menggunakan cat kuku halal ini untuk memastikan efisiensinya. Untuk diketahui, merek ini merupakan salah satu mereka terkemuka di industri tersebut.

Ia menyarankan konsumennya agar membiarkan air mengalir di tangannya dan menciptakan tekanan yang cukup, dengan menggosok ujung jari mereka.

Setelah melakukan proses audit, yang mencakup manufaktur perusahaan, subkontraktor dan serangkaian uji permeabilitas air menggunakan filter kopi, produk Maya Cosmetics telah disertifikasi halal oleh Islamic Food and Nutrition Council of America dan IDCP, sebuah organisasi sertifikasi Filipina.

“Bukan hanya pendapat kami yang mengatakan ini adalah produk yang aman, lembaga sertifikasi independen menyetujui produk tersebut,” kata Younis.

Sejak mendirikan perusahaan pada 2016, dia menyebut telah menemui banyak klien yang skeptis. Meski sudah memiliki sertifikasi, masih ada sebagian umat Islam yang tidak mengakuinya sebagai sah. Kami memahami hal itu dan sangat bisa diterima,” ucap dia.

Diperkirakan akan tumbuh dengan mantap di Asia-Pasifik dan negara-negara mayoritas Muslim.

Pasar global kosmetik halal berhasil mengantongi 30 juta dolar pada 2020. Menurut laporan baru-baru ini dari Allied Market Research, diperkirakan hal ini akan semakin tumbuh dengan mantap di Asia-Pasifik dan negara-negara mayoritas Muslim.

Younis mengatakan, produk kosmetik halal sangat dihargai di negara-negara dengan populasi Muslim muda yang trendi, seperti Malaysia, Singapura, Afrika Selatan dan Inggris. Konsumen Yahudi dan vegan juga merupakan pasar yang berkembang.

Ketertarikan yang meningkat ini memaksa organisasi sertifikasi halal untuk menanggapi masalah ini dengan serius. Dar percaya, ada beberapa pihak yang mencoba untuk menghindari pembicaraan tentang topik tersebut atau menolak untuk mengambil posisi pada produk ini.

“Saya pikir, di situlah banyak generasi muda kita menjadi sangat frustrasi. Hanya karena itu teknologi dan baru, bukan berarti Anda harus mengabaikannya," ujar dia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement