Ahad 13 Aug 2023 17:00 WIB

Politik Keji Kaum Kafir di Makkah Terhadap Umat Islam

Nabi Muhammad tetap tabah menerima perilaku keji orang kafir.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Politik Keji Kaum Kafir di Makkah Terhadap Umat Islam. Foto:  Suku Qurays dan untanya serta kabah (ilustrasi)
Foto: Dawan of Islam film
Politik Keji Kaum Kafir di Makkah Terhadap Umat Islam. Foto: Suku Qurays dan untanya serta kabah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Umar bin Khattab yang telah masuk Islam berdampak terhadap melemahnya kaum Quraisy di Makkah karena Umar masuk agama Islam dengan semangat yang sama seperti ketika ia menentang Islam dahulu. Umar bin Khattab masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi, malah terang-terangan diumumkan di depan orang banyak. Bahkan, Umar bersedia melawan mereka yang menentangnya.

Umar bin Khattab tidak mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap di celah-celah pegunungan Makkah. Bahkan, Umar terus melawan kafir Quraisy, sampai nanti dia beserta Muslim dapat melakukan ibadah dalam Ka’bah.

Baca Juga

Melihat apa yang terjadi, pihak kafir Quraisy menyadari bahwa penderitaan yang dialami Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya tidak akan mengubah kehendak orang menerima agama Allah. Orang-orang yang memeluk Islam kemudian berlindung kepada Umar dan Hamzah, ada juga yang hijrah ke Abisinia atau berlindung kepada siapa saja yang mampu melindungi mereka.

Politik Keji

 

Kaum Quraisy di Makkah lalu membuat rencana lagi dan mengatur langkah berikutnya. Setelah sepakat, kaum Quraisy membuat ketentuan tertulis dengan persetujuan bersama mengadakan pemboikotan total terhadap bani Hasyim dan bani Abdul Muttalib, untuk tidak saling kawin-mengawinkan, tidak saling berjual-beli apa pun. Piagam persetujuan ini kemudian digantungkan di dalam Ka’bah sebagai suatu pengukuhan dan registrasi bagi Ka’bah.

Menurut perkiraan kafir Quraisy, politik yang negatif, politik membiarkan orang kelaparan dan melakukan pemboikotan akan memberi hasil yang lebih efektif daripada politik kekerasan dan penyiksaan, sekalipun kekerasan dan penyiksaan kepada Muslim itu tidak mereka hentikan.

Blokade-blokade yang dilakukan Quraisy terhadap kaum Muslimin dan terhadap bani Hasyim dan bani Abdul Muttalib sudah berjalan selama dua atau tiga tahun. Harapan kafir Quraisy di Makkah, Nabi Muhammad SAW akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Dengan demikian dia dan ajarannya (Islam) itu tidak lagi berbahaya.

Akan tetapi, ternyata Nabi Muhammad SAW sendiri malah makin teguh berpegang pada tuntunan Allah, juga keluarganya, dan mereka yang sudah beriman pun makin gigih mempertahankannya dan mempertahankan agama Allah SWT. Menyebarkan seruan Islam sampai keluar perbatasan Makkah itu pun tak dapat juga dihalang- halangi. Maka tersiarlah dakwah itu ke tengah-tengah masyarakat Arab dan kabilah-kabilah, sehingga membuat agama yang baru ini, yang tadinya hanya terkurung di tengah-tengah lingkaran gunung-gunung Makkah, kini berkumandang gemanya ke seluruh jazirah.

Orang-orang Quraisy makin tekun memikirkan bagaimana caranya memerangi orang yang sudah melanggar adat kebiasaannya dan menista dewa-dewanya itu, bagaimana caranya menghentikan tersiarnya ajarannya itu di kalangan kabilah-kabilah Arab, kabilah- kabilah yang tak dapat hidup tanpa Makkah dan juga Makkah tak dapat hidup tanpa mereka dalam perdagangan, dalam kegiatan impor dan ekspor dari dan ke ibu kota.

Quraisy mencurahkan semua kegiatannya dalam memerangi orang yang dianggapnya sudah melanggar kebiasaan mereka, melanggar kepercayaan mereka dan kepercayaan leluhur mereka itu.

Nabi Muhammad SAW diancam termasuk keluarganya. Rasulullah SAW diejek, ajarannya diejek. Rasulullah SAW diperolok, dan orang yang jadi pengikutnya juga diperolok. Penyair-penyair mereka didatangkan supaya mengejeknya, supaya memburuk- burukkannya.

Rasulullah SAW diganggu, dan orang yang jadi pengikutnya dinista dan disiksa. Mereka berusaha menyuap Nabi SAW, ditawari kerajaan, ditawari segala yang menjadi dambaan orang. Kawan-kawan seperjuangannya diusir dari Tanah Air, perdagangan dan pintu rejeki mereka dibekukan. Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya diancam dengan perang serta segala akibatnya yang mengerikan.

Tetapi, sungguhpun begitu, Nabi Muhammad SAW tetap tabah. Dengan cara yang amat baik, Rasulullah SAW mengajak orang menerima kebenaran, yang hanya karena itu ia diutus Tuhan kepada umat manusia, sebagai pembawa berita gembira, dan peringatan.

Dilansir dari buku Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal.

 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement