Ahad 13 Aug 2023 12:23 WIB

Vitamin C Immune Booster di Tengah Kualitas Udara Buruk, Bagaimana Titik Kritis Halalnya?

Vitamin C ada juga titik kritis yang perlu diwaspadai kehalalannya.

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Muhammad Hafil
 Konsumen juga harus memiliki kesadaran akan makanan halal di sebuah restauran. (ilustrasi)
Foto: Tahta Aidilla/Republika
Konsumen juga harus memiliki kesadaran akan makanan halal di sebuah restauran. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- DKI Jakarta terpantau memiliki kualitas udara terburuk di dunia versi situs pemantau polusi udara IQAir sejak Juni lalu. Demi menjaga kesehatan setiap orang memiliki cara tersendiri untuk meningkatkan daya tahan tubuh, salah satuny dengan mengkonsumsi vitamin c.

 Namun dalam kacamata Islam, setiap produk perlu dilihat halal dan kethayibannya. Lalu bagaimana titik kritis vitamin c yang sering dikonsumsi oleh masyarakat umum khususnya umat Islam.

Baca Juga

Dalam akun instagram Halal Corner, menyebutkan titik kritis vitamin c.

Pertama, Media Pertumbuhan. Berdasarkan proses di industri, vitamin C dapat dibuat melalui sintesis kimiawi ataupun proses biotransformasi. Pada proses biotransformasi, mikroorganisme membutuhkan media pertumbuhan sebagai sumber nutrisi untuk menghasilkan vitamin C. Titik kritis kehalalannya adalah komposisi media pertumbuhan yang digunakan apakah mengandung bahan yang diharamkan atau tidak. 

Kedua, Sumber Gelatin. Secara struktur kimiawi, vitamin C sangat mudah teroksidasi sehingga dapat menurunkan khasiatnya. Oleh karena itu, supaya produk vitamin C tidak kehilangan khasiatnya, vitamin C memerlukan matriks pelindung atau coating agent. 

Salah satu coating agent yang perlu dikritisi kehalalannya adalah gelatin. Gelatin diperoleh melalui hidrolisis parsial kolagen oleh asam atau basa. Sumber kolagen teradapat pada kulit dan tulang hewan. 

Dengan demikian, perlu dipastikan bahwa sumber kolagen berasal dari hewan yang dihalalakan secara syariat Islam. Apabila hewan tersebut perlu disembelih, proses penyembelihan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang syar'i.

Ketiga, Perisa. Pada kondisi alami, vitamin C memiliki rasa asam dan dapat menurunkan tingkat penerimaan konsumen. Dengan alasan tersebut, industri menggunakan perisa seperti perisa jeruk, lemon, apel, dan sebagainya untuk meningkatkan sifat sensoris. Komponen perisa terdiri dari puluhan bahkan ratusan senyawa kimia yang perlu diteliti status kehalalannya.

Ternyata dalam vitamin C ada juga titik kritis yang perlu diwaspadai kehalalannya. Yuk jangan sampai kita lalai cek halal dalam menjaga kesehatan tubuh kita.n Ratna Ajeng Tejomukti

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement