Senin 31 Jul 2023 19:56 WIB

Kriteria Teman Baik dan Buruk yang Disampaikan Rasulullah SAW ke Ali Bin Abi Thalib

Rasulullah SAW mengajarkan selektif mencari teman

Rep: Andrian Saputra / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi berteman. Rasulullah SAW mengajarkan selektif mencari teman
Foto: Republika/Musiron
Ilustrasi berteman. Rasulullah SAW mengajarkan selektif mencari teman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Seorang Muslim dianjurkan untuk berteman dengan orang-orang saleh. Sebab dengan begitu akan senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan. Lebih dari itu dalam sebagian riwayat dijelaskan teman yang saleh akan dapat memberikan syafaat di akhirat.  

Karena itu hati-hatilah dalam berteman. Islam telah memberikan tuntunan tentang bagaimana seorang Muslim dalam menjalin pertemanan sehingga mengantarkan dirinya serta orang-orang disekitarnya senantiasa berbuat kebaikan di jalan Allah SWT dan mencegah dari segala kemaksiatan.

Baca Juga

Maka hindarilah berteman dengan orang yang suka menyebar luaskan rahasia, suka terhadap maksiat dan tak peduli terhadap amal-amal yang mendekatkan pada Allah SWT. Maka sekiranya tidak mampu untuk mendakwahinya ke jalan lurus lebih baik menjauhinya agar tidak terpapar prilaku dan kebiasaan buruknya. 

يَا عَلِيُّ، بِئْسَ الصَّدِيْقُ الَّذِيْ يُقَصِّرُ فِيْ صَدِيْقِهِ وَيُفْشِيْ سِرَّهُ

 

Artinya: “Wahai Ali seburuk-buruknya teman itu adalah orang yang teledor terhadap temannya dan menyebar luaskan rahasia temannya. (Lihat kitab Washiyat al-Musthafa, kitab berisi wasiat-wasiat Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib yang disusun Syekh Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy Syarani Al Anshari Asy Syafi'i Asy Syadzili Al Mishri atau dikenal sebagai Imam Asy Syarani).

Maksud teledor dalam pengertian di atas adalah sosok teman yang tidak memperdulikan temannya baik dari sisi lahir maupun batin. 

Dari sisi lahir misalnya ia tak memperdulikan kendati temannya kekurangan bahkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan lain sebagainya. 

Sedangkan dari sisi batiniyah misalnya ia tak memperdulikan temannya ketika terjerumus dalam perbuatan maksiat atau dosa, bahkan ia sama sekali tidak pernah mengajak temannya agar semakin menjadi pribadi yang baik. Selain itu disebutkan juga teman yang buruk adalah yang suka menyebar rahasia, menyebar aib, bergosip tentang temannya. 

Maka hendaknya jeli dalam melihat teman. Sebab ada teman yang menghormati temannya namun ada juga teman yang hanya ingin dipuji dan diagungkan dan tak mau membantu, menolong dan menyayangi. 

يَا عَلِيُّ، لِلصَّدَاقَةِ عَلَامَاتٌ أَنْ يَجْعَلَ مَالَهُ دُوْنَ مَالِكَ وَنَفْسَهُ دُوْنَ نَفْسِكَ وَعِرْضَهُ  دُوْنَ عِرْضِكَ

“Wahai Ali pertemanan itu punya beberapa tanda. Teman menjadikan hartanya di bawah hartamu (maksudnya tandanya teman itu tidak mau mengungguli, tidak mau menyaingi). Dan dirinya berada di bawah dirimu (maksudnya teman itu rendah hati) dan harga dirinya di bawah harga dirimu (maksudnya teman itu mau menghormati temannya). 

Baca juga: Ketika Kabah Berlumuran Darah Manusia, Mayat di Sumur Zamzam, dan Haji Terhenti 10 Tahun

Oleh karena itu bertemanlah sebanyak-banyaknya namun demikian perbanyaklah pertemanan dengan orang-orang saleh dan janganlah mengobarkan permusuhan dengan siapapun. 

يَا عَلِيُّ، أَلْفُ صَدِيْقٍ قَلِيْلٌ وَعَدُوٌّ وَاحِدٌ كَثِيْرٌ  “Wahai Ali seribu teman itu sedikit dan satu musuh itu banyak.” 

Karena itu dalam menjalani hidup seorang Muslim harus terus memperbanyak teman dan menghindari permusuhan. Sebab satu orang saja yang menjadi musuh dalam hidup itu sudah membuat sulit hidup. Semisal ada satu orang yang menebar fitnah, maka hal itu sudah cukup mempersulit kehidupan.     

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement