Rabu 14 Jun 2023 19:28 WIB

Penyebutan Maqam Ibrahim dalam Alquran

Melihat jejak peninggalan di Negeri al-Haram, Maqam Ibrahim

Rep: Rossi Handayani/ Red: Erdy Nasrul
Jamaah haji mengelilingi Kabah di Masjidil Haram, saat yang lain menonton Maqam Ibrahim, atau Stasiun Ibrahim, di sebelah kiri, di kota suci Mekah di Arab Saudi, Selasa, 5 Juli 2022. Arab Saudi diharapkan untuk menerima satu juta Muslim untuk menghadiri haji, yang akan dimulai pada 7 Juli, setelah dua tahun membatasi jumlahnya karena pandemi coronavirus.
Foto: AP Photo/Amr Nabil
Jamaah haji mengelilingi Kabah di Masjidil Haram, saat yang lain menonton Maqam Ibrahim, atau Stasiun Ibrahim, di sebelah kiri, di kota suci Mekah di Arab Saudi, Selasa, 5 Juli 2022. Arab Saudi diharapkan untuk menerima satu juta Muslim untuk menghadiri haji, yang akan dimulai pada 7 Juli, setelah dua tahun membatasi jumlahnya karena pandemi coronavirus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah ﷻ menjadikan Negeri al-Haram sebagai sebuah jejak peninggalan yang masih ada hingga sekarang. Tidak lekang oleh zaman dan tidak berubah di sepanjang perjalanan siang-malam dan masa yang terus berganti.

Dikutip dari buku Keutamaan Negeri Al-Haram oleh Prof. DR. Mahmud Al-Dausary, Bukti nyata ini tidak tertuang di dalam penjelasan ayat-ayat Alquran, tapi ia tampak dengan jelas dan menjadi sebuah bukti materil atas keagungan Negeri dan kota di mana seluruh situs dan ritus ibadah agung tersebut terdapat. Salah satu di antaranya yakni Maqam Ibrahim.

Baca Juga

Maqam Ibrahim adalah batu yang menjadi pijakan Ibrahim alaihissalam pada saat ia meninggikan bangunan Baitullah dan mulai kesulitan untuk memasang batu. Sehingga ia pun berdiri di atas maqam ini untuk membangun, sementara Ismail alaihissalam memberikan batu-batu kepadanya.

Di antara keutamaannya adalah bahwasanya Allah mengabadikan penyebutannya dan menjadikannya sebagai bagian ayat Alquran yang selalu dibaca hingga Hari Kiamat. Ia juga memerintahkan agar tempat ini dijadikan sebagai tempat shalat, dan Ia menjadikannya sebagai salah satu tanda bukti keMahaesaan dan keMahaagunganNya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Baqarah ayat 125:

وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

Wa iż ja'alnal-baita maṡābatal lin-nāsi wa amnā, wattakhiżụ mim maqāmi ibrāhīma muṣallā, wa 'ahidnā ilā ibrāhīma wa ismā'īla an ṭahhirā baitiya liṭ-ṭā`ifīna wal-'ākifīna war-rukka'is-sujụd

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".

Penjelasan

Berdasarkan sejumlah kitab tafsir, kandungan ayat tersebut adalah sebagai berikut. Melalui ayat ini, Allah menjelaskan Ka'bah sebagai bangunan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim karena di situ ada jejak saat dirinya membangun baitullah, yang kini disebut Maqam Ibrahim. 

Ka'bah menjadi tempat berkumpul umat manusia dari berbagai kawasan. Semuanya menuju Ka'bah secara batin untuk sholat. Kemudian datang berduyun duyun ke sana untuk melaksanakan tawaf dan haji.

Dengan keberadaan Ka'bah, orang beriman kepada Allah. Kemudian merasakan aman. Hati menjadi tenteram, bahagia, tenang, karena dekat dengan Allah.

Di Ka'bah dan area sekitarnya yang kini menjadi Masjidil Haram atau masjid suci, jutaan orang mendirikan sholat. Tak hanya di dalam, tapi juga di luar masjid hingga radius ratusan meter, banyak orang mendirikan sholat dengan mengikuti imam Masjidil Haram.  

Sayidina Umar Umar bin Khattab menyebut sebuah hadits Nabi Muhammad, "Ini adalah maqam (tempat berdiri) Ibrahim. Maka aku bertanya: wahai Rasulullah, tidakkah kita menjadikannya tempat sholat?. Kemudian turun ayat ini.

Maqam adalah batu yang diketahui oleh orang-orang dan dijadikan sebagai tempat mengerjakan shalat sunnah dua rakaat setelah melakukan tawaf. Dulunya Nabi Ibrahim berdiri diatasnya untuk membangun ka’bah saat temboknya telah tinggi, batu ini didatangkan Ismail agar digunakan Ibrahim untuk berdiri diatasnya. Dahulu batu ini menempel pada dinding ka’bah kemudian dipindah pertama kali oleh Umar bin Khattab.

 

 

 

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua permata yaqut dari yaqut-yaqut Surga.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya (9/24), no. 3710.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement