Ahad 04 Jun 2023 14:42 WIB

Perbedaan Semestinya Antara Muslim dan Kafir Ketika Hidup di Dunia   

Kehidupan dunia merupakan ladang beramal bagi setiap umat manusia

Rep: Zahrotul Oktaviani / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi kehidupan di alam kubur. Kehidupan dunia merupakan ladang beramal bagi setiap umat manusia
Foto: Republika/Thoudy Badai
Ilustrasi kehidupan di alam kubur. Kehidupan dunia merupakan ladang beramal bagi setiap umat manusia

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA— Membicarakan misteri kehidupan setelah kematian sama halnya dengan membicarakan akidah atau iman kepada hari akhir. Hal ini perlu di tanamkan di dalam hati dan pikiran tiap-tiap umat Muslim.

 

Baca Juga

Pendakwah Ustadz Ahmad Zainuddin Al- Banjary menyebutkan hadits. Rasulullah SAW dalam HR Ibnu Majah No 4.258 pernah bersabda: 

 

 

ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ "Perbanyaklah mengingat sesuatu yang memutuskan kenikmatan, yaitu kematian." 

 

Bahkan, kepada para sahabat, Nabi berpesan agar mengingat kematian ini lebih dari sholat yang dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari. 

 

"Kita (umat) juga diminta untuk mem perbanyak mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, kita mendapatkan pahala karena ini adalah ibadah yang disyariatkan Allah SWT," ujar Ustadz Ahmad kepada jamaah kajian agama di Masjid Jami' Al Mubarak, Jakarta, Senin (15/10/2023). 

 

Gaya hidup para sahabat pun dalam urusan hari akhir selalu menjadi yang paling sempurna. Semuanya mencari surga yang paling tinggi dan megah, surga Firdaus. 

 

Ustadz Ahmad melanjutkan, dalam urusan akhirat atau hari akhir, tiap umat harus mencari yang paling utama, tinggi, dan sempurna. 

 

Orang yang paling baik akhlaknya dan paling banyak mengingat kematian, orang yang paling baik persiapannya dalam menjemput kematian.

 

Mengingat kehidupan setelah kematian telah menjadi kebiasaan baik bagi Nabi maupun para sahabat. Nabi Muham mad SAW tidak pernah berhenti untuk mengingatkan tentang adanya surga dan neraka. 

Baca juga: Mualaf Lourdes Loyola, Sersan Amerika yang Seluruh Keluarga Intinya Ikut Masuk Islam

 

Bahkan, saking seringnya hari akhir ini diperbincangkan dalam majelis, para sahabat bahkan menganggap kehadiran surga dan neraka ini seperti kasat mata. Mereka mampu melihat di depan mata kepala mereka, meski hal ini masih menjadi rahasia Allah SWT.

 

"Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan seseorang dari akhirat, kecuali dirinya sendiri. Tidak akan pernah orang masuk ke dalam neraka kecuali ia tauhid. Kalaupun orang bertauhid masuk neraka, ia tidak akan selamanya di sana," ujarnya.

 

Dia pun mewanti-wanti jamaah agar tidak berperilaku seperti orang kafir. Orang kafir akan senantiasa rakus dalam umur.

Sepanjang hidupnya, orang kafir hanya akan berpikir bagaimana cara agar bisa hidup di dunia selama-lamanya. Sementara seorang Muslim akan memikirkan bagaimana cara bertahan setelah kematian. 

 

Sifat orang kafir akan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Bagaimana mereka bisa menikmati hidup di dunia yang fana dan sementara ini. Mereka tidak akan pernah berpikir bagaimana jika mereka nanti mati. Dalam surat Ar Rum ayat 7 Allah SWT berfirman: 

 

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ "Mereka (orang kafir) mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." 

 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement