Ahad 04 Jun 2023 09:26 WIB

Sosok Guru Perempuan Imam Syafii dan Ayat Terakhir yang Dia Dibaca Jelang Wafat   

Sayidah Nafisah merupakan guru Imam Syafii dari kalangan perempuan

Rep: A Syalaby Ichsan / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi. Sayidah Nafisah merupakan guru Imam Syafii dari kalangan perempuan
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ilustrasi. Sayidah Nafisah merupakan guru Imam Syafii dari kalangan perempuan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Imam Syafii  merupakan salah satu dari empat imam mazhab yang dianut mayoritas Muslim di Asia Tenggara khususnya. 

Kebesaran peran Imam Syafii  ternyata tak terlepas dari sosok perempuan yang tak lelah mendidik dan mengajari beliau, yakni Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. 

Baca Juga

Dari namanya telah jelas di kenal bahwa guru Imam Syafii  ini merupakan salah satu keturunan Rasulullah SAW. 

Nafisah lahir di Makkah pada 145 Hijriyah. Ayahnya merupakan seorang gubernur Madinah pada masa Khalifah Ja'far al-Manshur sehingga beliau tumbuh dan berkembang serta menghabiskan banyak waktunya di Madinah. 

 

Dalam berbagai literatur Islam disebutkan, Sayyidah Nafisah merupakan salah satu tokoh agama yang tidak kenal membaca dan menulis (ummiy). Kendati demikian, beliau merupakan sosok yang cerdas dan banyak mendengar hadits sehingga tergolong sebagai perempuan pengajar hadits. 

Faktor inilah yang menjadi alasan mengapa Imam Syafii  berguru kepadanya. Sebab, sebagaimana diketahui, pemilik nama asli Muhammad bin Idris as- Syafii  tersebut merupa kan pen diri mazhab Syafii  yang ahli dalam ilmu hadits, fikih, dan fikih hadits.

Sebagai seorang guru, Sayidah Nafisah binti Hasan merupakan hafizah. Tak hanya menghafal Alquran, beliau juga dikenal sebagai sosok yang alim dan sangat dekat dengan ibadah, salah satu contoh adalah ibadah haji yang telah ditunaikan sebanyak 30 kali. 

Beliau pun dipercaya telah mengkhatamkan membaca Alquran sebanyak 1.900 kali. Seorang yang masuk dalam kategori ummiy bukan berarti tak bisa be lajar atau mencerna ilmu pengetahuan. 

Terbukti, gerak langkah Nafisah sangat haus akan ilmu dan dirinya tak segan untuk be lajar ilmu-ilmu agama kepada sumber-sumber yang terpercaya. 

Sosok yang kerap haus akan ilmu agama ini juga dikenal se bagai pribadi yang zuhud. Sayidah Nafisah merupakan hamba Allah yang taat dan tiap waktu yang dimilikinya selalu diisi de ngan ibadah dan mengingat Allah SWT. 

Sayidah Nafisah bahkan tak pernah meninggalkan sholat malam dan selalu berpuasa untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Imam Ahmad bin Hanbali pernah menceritakan perkara riwayat kezuhudan Nafisah. Menurut beliau, Sayidah Nafisah merupakan salah satu wanita zuhud yang dicintai Allah SWT. 

Suatu ketika pernah Imam Ahmad bin Hanbali ini menda tangi Sayidah Nafisah untuk meminta doa. Sejak itu, rumah Sayidah Nafisah kerap didatangi tamu dengan tujuan yang beragam. Mulai dari minta diajarkan ilmu agama hingga minta didoakan layaknya Imam Ahmad bin Hanbali. 

Jelang wafat, Sayidah Nafisah meninggal dalam ketaatan kepada Allah SWT. Betapa tidak? 

Beliau meninggal dalam kondisi berpuasa dan tengah melantunkan Alqur an surat Al Anam ayat 127.

۞ لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.”   

Baca juga: Mualaf Lourdes Loyola, Sersan Amerika yang Seluruh Keluarga Intinya Ikut Masuk Islam

Ketakwaan, kecerdasan, serta kezuhudan beliau menjadikannya salah satu perempuan yang sangat berjasa dalam peradaban serta khazanah Islam. 

Ahmad bin Kaf menyebut sosok Sayidah Nafisah dengan nama ad-Darain (permata berharga di dua alam). 

Menurut dia, sosok perempuan tersebut adalah gambaran dari perempuan yang arif dan kerap beramal saleh. 

Meski lahir dalam lingkungan yang berkecukupan, Sayidah Nafisah memalingkan wajah dan hatinya dari gemerlap duniawi. 

Beliau lebih memilih mendekap tiap detik yang dimilikinya untuk bertemu Allah dalam ibadah. Kezuhudannya ini patut dijadikan contoh oleh umat Islam di seluruh dunia. 

Usai menikah dengan Ishaq al-Mu'tamin bin Imam Ja'far as- Shadiq pada 135 Hijriyah, Sayi dah Nafisah memutuskan pindah ke Mesir bersama suami dan ayah nya. 

Kepindahan Sayidah Nafisah beserta keluarga mendapatkan respons positif dari penduduk Mesir kala itu, dan beliau pun akhirnya berdomisili di Fustat. 

Selama di Mesir, Sayidah Nafisah banyak mendapatkan kunjungan dari para ulama, termasuk Imam Syafii . Dari sinilah kemudian Imam Syafii  berguru kepada beliau dan melakukan beragam diskusi agama seputar fikih, hadits, hingga persoalan-persoal an ibadah. Intensitas diskusi antara keduanya pun menimbulkan hubungan yang kian rekat antara guru dengan murid. Kedekatan keduanya bahkan diekspresikan dalam wasiat Imam Syafii . 

Dalam wasiatnya, Imam Syafii  meminta ketika kelak ia wafat maka beliau meminta Nafisah untuk menshalati jenazahnya.        

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement