Kamis 25 May 2023 19:26 WIB

Rezeki Halal Penting Tapi Berkah Juga Utama dan 4 Golongan Manusia di Hadapan Harta

Keberkahan dalam rezeki merupakan hal yang didambakan Muslim

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi menghitung harta. Keberkahan dalam rezeki merupakan hal yang didambakan Muslim
Foto:

Golongan ketiga merupakan manusia yang memiliki kelebihan harta, tapi tidak disertai dengan pemahaman ilmu agama dan upaya meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. 

Golongan ini menggunakan potensi hartanya untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Mereka juga tidak memenuhi hak-hal Allah SWT lewat hartanya. 

"Golongan manusia ini menurut Rasulullah SAW merupakan golongan manusia yang paling jahat dan keji," ujar Ustadz Nur.

Terakhir, ada golongan manusia keempat, yang tidak memiliki pemahaman agama dan kelebihan harta. Golongan manusia ini pun berharap memiliki kekayaan agar bisa dihambur-hamburkan dan dibelanjakan seperti layaknya golongan ketiga. 

photo
Infografis Tiga Hal yang Mendatangkan Rezeki. Ilustrasi harta - (Republika.co.id)

Atas niat mereka tersebut, lanjut Ustadz Nur, Rasulullah SAW menyebut dosa golongan keempat ini sama dengan dosa golongan ketiga.

Dari hadits ini, Rasulullah SAW menjelaskan soal potensi yang dimiliki manusia melalui hartanya. Orang yang memiliki harta tentu memiliki potensi untuk bisa dimanfaatkan untuk kebaikan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menyebutkan, golongan manusia ini memiliki kendali atas hartanya, yaitu melalui ilmu agama yang mereka miliki.

Tidak hanya itu, Ustadz Nur menjelaskan, kondisi harta yang dimiliki seorang mukmin juga dapat berbeda-beda. 

Meskipun didapatkan secara halal, ada pula harta yang didapatkan secara tidak berkah dan bermartabat. 

Dalam sebuah hadits, Amr bin Ash pernah menolak pemberian harta rampasan perang dari Rasulullah SAW. Padahal, harta rampasan perang itu merupakan hasil yang didapat Amr bin Ash saat berhasil menyelesaikan misi dari Rasulullah SAW.

Baca juga: Mualaf Theresa Corbin, Terpikat dengan Konsep Islam yang Sempurna Tentang Tuhan

Namun, Rasulullah SAW meminta Amr bin Ash untuk menerima harta tersebut. Rasulullah SAW bersabda, 

يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ "Wahai Amr, silakan ambil harta ini karena sebaik-baik harta adalah yang saleh dan dipegang oleh orang yang saleh." 

Dari hadits ini muncul istilah harta yang saleh. Menurut Ustadz Nur, kriteria harta yang saleh, pertama, didapatkan secara halal dan dari usaha yang tidak bernafsu.

 

Selain itu, dalam riwayat lain, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh sahabat mengenai harta yang baik dan bagus. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad itu, Rasulullah SAW menyebutkan, harta yang baik dan bagus adalah harta yang didapatkan dari jerih payah orang itu sendiri, bukan pemberian, hadiah atau warisan, dan harta berupa keuntungan dari transaksi yang mabrur. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement