Rabu 03 May 2023 07:42 WIB

Empat Keistimewaan Alquran

Alquran merupakan cara Allah yang menginspirasi kehidupan.

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Erdy Nasrul
Seorang Jamaah membaca Alquran
Foto: Republika
Seorang Jamaah membaca Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, Alquran yang diturunkan secara menyeluruh (jumlatan wahidatan) di malam yang Istimewa itu, pada dirinya sangat Istimewa.

Imam Masjid New York Imam Shamsi Ali menjelaskan keistimewaan Alquran itu ada pada segala aspeknya. Tidak ada yang terkait Al qur’an kecuali menjadi Istimewa.

Baca Juga

Bulan dan malam diturunkannya menjadi Istimewa. Itulah Ramadan dan lailatul Qadar.

Rasul yang menerimanya menjadi sayyid al-ambiya wal mursaliin (penghulu para nabi dan rasul). Umat yang padanya ditujukan Alquran menjadi khairu ummah (umat terbaik).

 

Alquran sendiri menjadi Kitab Suci yang Istimewa karena dipilih menjadi Kitab suci yang mengandung segala kandungan kitab-kitab suci lainnya. Artinya apa yang ada di Taurat, Injil, Zabur, maupun Shuhuf Ibraim, semuanya terwakilkan dalam ayat-ayat Alquran. Dan Alquran diturunkan untuk seluruh manusia di seluruh tempat dan waktu.

Jika Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa AS dan Kitab Zabur yang diturunkan kepada Daud AS disebut Perjanjian Lama (Old Testament) dan Injil yang diturunka kepada Isa SA disebut Perjanjian Baru (New Testament). Maka Al qur’an dapat disebut sebagai “Perjanjian Final” (Final Testament) yang diturunkan untuk umat manusia.

Firman Allah

Secara sederhana Alquran didefenisikan sebagai “Kalam Allah yang bersifat Mu’jizat, yang diturunkan kepada Muhammad, dan membacanya bernilai ibadah”. Defenisi ini mengandung empat poin utama,

Satu, bahwa Al qur’an itu adalah Kalam Allah. Sehingga Kalam yang lain dengan sendirinya tersisihkan. Bahkan kalam Muhammad SAW juga tidak menjadi bagian dari Alquran.

Mukjizat

Kedua, bahwa Alquran itu adalah mukjizat terpenting dan terutama Rasulillah SAW. Mu’jizat yang bersifat abadi dan hadir pada masa-masa yang menantang. Di saat bahasa manusia menjadi keangkuhannya Alquran hadir menantang dengan bahasa yang mengalahkan (mu’jiz). Ketika keilmuan manusia menjadi keangkuhan, Alquran hadir menantang dengan fakta-fakta keilmuan yang mengalahkan (mu’jiz). Demikian seterusnya.

Diturunkan kepada Nabi Muhammad

Ketiga, bahwa Alquran itu diturunkan kepada Muhammad SAW. Dengan demikian semua pengakuan akan adanya wahyu yang diturunkan kepada selain Muhammad batal dengan sendirinya. Termasuk pengakuan kaum syiah tentang sepertiga wahyu yang diturunkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Bernilai ibadah

Keempat, bahwa membaca Alquran itu berbeda dari membaca buku-buku atau kitab lainnya. Hanya Alquran yang ketika membacanya bernilai ibadah. Bahkan setiap huruf bernilai 10 pahala seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

Jika kita mengkaji makna-makna kemu’jizatan Alquran maka pembahasannya tidak akan habis. Bahwa kemu’jizatan Alquran yang terpenting Alquran ada pada al-i’jaaz ar-ruuhi atau kemu’jizatan ruhiyah. Yaitu sebuah kekuatan batin yang membawa perombakan dahsyat dalam kehidupan manusia. Baik pada tataran individu maupun jama’ah (publik).

Alquran lah yang mengubah Umar Ibnu Khattab dari kejahilan yang dalam menjadi seorang Umar Al faaruuq. Alquran pula yang mengubah Bilal Ibnu Rabah dari seseorang dengan mentalitas yang hina menjadi seseorang dengan mentalitas yang penuh izzah (kemuliaan). Pada tataran kolektif Al qur’anlah yang merubah Jazirah Arab dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang (minaz zulumat ilan nuur).

Mencerahkan manusia

Pengalaman Dakwah di Amerika membuka mata betapa dahsyatnya Alquran mengubah manusia. Dari seseorang yang marah dan benci menjadi seseorang yang simpati bahkan menerima, mencintai dan membela kebenaran.

"Satu contoh yang pernah saya sampaikan adalah seseorang yang saya temui empat hari Pasca Peristiwa 9/11. Hari itu adalah hari Jumat. Di pagi hari saya bersama beberapa tokoh agama New York diminta mendampingi Presiden Bush mengunjungi Ground Zero. Lalu di sore hari ada “memorial service” atau mendoakan mereka yang ditimpa musibah dengan serangan itu,\"tutur Imam Shamsi.

Singkatnya setelah berdoa dia di datangi oleh seorang pria berkulit putih dan mengenalkan diri sebagai Muslim. Awalnya dia tidak percaya. Bahkan memcurigainya sebagai mata-mata atau FBI.

"Setelah acara selesai dekati dan bertanya: “Kapan anda masuk Islam?”. Saya terkejut dengan jawabannya: “baru hari kemarin”. Saya terkejut karena hari-hari itu orang-orang Amerika marah, curiga dan membenci Islam. Kok bisa masuk Islam?" kilas balik Imam Shamsi

Jawabannya adalah karena Alquran. Menurutnya pada hari kejadian 9/11 pria itu menonton salah satu kanal TV Amerika. Dan salah seorang penyiar itu menyebut pelaku teror itu terinspirasi oleh Al qur’an. Maka dia pergi mencari toko di mana dia dapat membeli Alquran. Dia ternyata membelinya di sebuah toko buku di Masjid 96st street.

Dia membeli dan membaca Alquran bukan untuk mengetahui isinya. Tapi untuk mencari pembenaran jika memang Al qur’an itu adalah inspirasi terror. Tetapi sebaliknya dia jatuh hati dengan Alquran dan tidak ada inspirasi teror yang ditemukan di dalamnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement