Kamis 27 Apr 2023 12:58 WIB

Memori Soal Marus dan Nilai Humor di Balik Kegaduhan 'Darah Halal Muhammadiyah'

Darah halal Muhammadiyah bagaikan gurauan yang hanya perlu diketawakan.

Laporan pengaduan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya terhadap peneliti BRIN Andi Pangerang (AP) Hasanuddin ke Polda Jatim.
Foto: Dadang Kurnia
Laporan pengaduan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya terhadap peneliti BRIN Andi Pangerang (AP) Hasanuddin ke Polda Jatim.

Oleh : Gilang Akbar Prambadi, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID -- Pada rentang 1998 hingga 2000, di sebuah kampung terpencil yang saya tinggali kala itu, saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) selalu menantikan momen bernama 'bayaran'. Kampung tersebut terletak di Batulawang, Banjar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Lokasi kampung ini tidaklah mudah dijangkau. Dari arteri jalur selatan Ciamis-Pangandaran, perlu berkilo-kilo meter perjalanan menembus hutan pohon karet untuk mencapai kampung tersebut.

Dusun dulu tempat saya hidup bersama kedua orang tua dan adik saya ini merupakan bagian dari PTPN VIII, sebuah BUMN yang bergerak di perkebunan karet.

Kembali ke 'bayaran'. Istilah 'bayaran' sendiri adalah momen di mana seluruh pegawai di perkebunan tersebut mendatangi kantor kas perkebunan untuk menerima gaji secara tunai. Salah satu dari ratusan pegawai itu adalah bapak saya. Seingat saya, 'bayaran' alias gajian itu selalu dilakukan pada tanggal 3 di setiap bulannya.

Hal paling menarik dari 'bayaran' bagi bocah seperti saya waktu itu tentu bukan karena semangat melihat bapak mendapatkan gajinya. Seusia itu, uang bukan hal utama yang membuat saya bergairah.

Momen menyenangkannya adalah di setiap bayaran, para pedagang dari berbagai pelosok kampung dan desa tetangga ramai membuka lapak. Lapak dan gerobak penjual makanan menjadi incaran saya dan teman-teman sebaya saat tradisi 'bayaran' dilakukan. Singkat cerita, bertahun-tahun saya telah mencoba semua makanan yang dijual di sana kecuali satu, namanya marus. Padahal, teman-teman seusia saya gemar membeli makanan berwarna merah dengan aroma mirip hati ayam itu. Bentuknya kotak kecil, dengan tekstur mirip agar-agar.

Bukan karena enggan mencoba, melainkan ketika seorang teman mengatakan bahwa marus adalah darah yang dimasak, saya yang masih anak-anak langsung bingung. Bagaimana mungkin darah bisa dikonsumsi?

Tapi, terus terang, meski tak pernah mencicipinya, saya yakin marus adalah makanan yang lezat. Setidaknya, itu yang dulu saya simpulkan dari mimik wajah teman-teman saya ketika melahap marus bersama nasi panas, sambal terasi, dan rupa-rupa daun lalapan, ya, khas kuliner suku Sunda.

Puluhan tahun berlalu, saya lupa bahwa di perjalanan hidup ini, saya pernah 'bersinggungan' dengan marus. Hingga akhirnya, kegaduhan tentang 'darah halal Muhammadiyah' yang riuh belakangan ini mengingatkan saya kepada makanan legendaris itu.

Kebetulan, di Jakarta, tepatnya di Jakarta Barat, saya yang tak pernah mengidentitaskan diri masuk golongan Islam apa pun, tinggal di kampung berwarna Muhammadiyah. Saya berkeluarga, memiliki anak, dan bertetangga dengan orang-orang Muhammadiyah.

Kehidupan keislaman di kampung tengah Kota Jakarta tersebut berjalan normal. Tak perlu saya jabarkan, karena memang semuanya normal. Adzan ya sholat, Ramadhan ya puasa, ada yang meninggal ya disholatkan.

Semuanya baik-baik saja bahkan ketika ada perbedaan hari dalam pertanggalan Hijriyah. Seperti akhir pekan kemarin, saya tak melihat ada keresahan meski warga Muhammadiyah kampung ini berlebaran duluan. Sholat Ied pada Jumat (21/4/2023) itu pun berjalan lancar. Ada beberapa aparat berseragam menjaga di sekitar lokasi sholat Ied, tapi tak ada pengawalan pasukan keamanan yang berlebihan.

Ketika gaduh 'darah halal Muhammadiyah' ini muncul beberapa hari setelah hari H Lebaran 2023, tak ada rasa panik atau sikap terprovokasi yang terdengar dan terlihat dari para warga. Semua pada santuy, begitu kata umat rebahan zaman sekarang bilang.

Mereka juga tak lantas panik ketakutan ketika mengetahui ada sosok yang dengan berani mengatakan:"Perlu saya halalkan gak nih darahnya semua Muhammadiyah? Apalagi Muhammadiyah yang disusupi Hizbut Tahrir melalui agenda kalender Islam global dari Gema Pembebasan? Banyak bacot emang! Sini saya b*n*h kalian satu-satu. Silakan laporkan komen saya dengan ancaman pasal pembunuhan! Saya siap dipenjara. Saya capek lihat pergaduhan kalian."

Bahkan ada yang tersenyum geli saja mengetahui tentang gaduh 'darah halal Muhammadiyah' ini, ya termasuk saya.

Pertama, saya baru tahu bahwa darah bisa dihalalkan atas keputusan satu individu saja. Kedua, lucu rasanya, saat membaca kicauan bernada ancaman itu, bukannya takut, pikiran saya malah langsung lari ke marus.

Malahan, bukan cuma pikiran, lidah dan perut saya juga tiba-tiba 'rindu' marus, padahal saya tak pernah mencobanya. Andai dulu saat kecil dan suci saya mencicipi marus, mungkin sekarang tak akan lagi saya penasaran dengan rasanya. Di titik ini, barulah sosok penebar ancaman itu harus bertanggung jawab karena membuat saya menyesal tak mencicipi marus saat masih kecil. Ha ha ha.

Allah memang Maha segalanya, termasuk, soal humor. Masih saja Allah selipkan nilai gurau dari 'ancaman' yang orang lontarkan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan telah menegaskan bahwa perbedaan pendapat dan keyakinan jika dihadapi dengan ancaman kekerasan akan membuat peradaban bangsa mundur.

Ia mengatakan, negara harus hadir mempersatukan keyakinan yang berbeda untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Mendorong Indonesia menjadi pelopor dan membuat kalender global sehingga mampu mempersatukan perbedaan penanggalan di dunia internasional.

Bagaimana, apakah Anda setuju? Satu yang pasti, tak usah ribut lalu sampai melahirkan tengkar. Capek.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement