Kamis 13 Apr 2023 17:42 WIB

Kisah Kebinasaan bagi yang Ingin Menghancurkan Ka'bah

Allah membinasakan orang yang ingin menghancurkan Ka'bah.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Kisah Kebinasaan bagi yang Ingin Menghancurkan Ka'bah. Foto: Kabah (ilustrasi)
Foto: RepublikaTV/Sadly Rachman
Kisah Kebinasaan bagi yang Ingin Menghancurkan Ka'bah. Foto: Kabah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Sejak zaman Nabi Ibrahim, Ka'bah memang selalu dikunjungi orang-orang dari jazirah Arab. Dalam kondisi demikian, ada sejumlah penguasa di daerahnya masing-masing, yang jauh dari Ka'bah, yang membuat Ka'bah tandingan yaitu rumah ibadah lain dengan tujuan supaya rakyatnya tidak pergi berziarah ke Ka'bah.

Salah satu penguasa tersebut ialah Abrahah al-Asyram di Yaman. Kala itu, Yaman ada di bawah Kerajaan Abbesenia (Habsyah) dan rajanya bernama Najasyi (Negus) beragama Kristen. Sedangkan Abrahah adalah Gubernur yang memimpin Yaman, yang diangkat oleh Raja Negus.

Baca Juga

Abrahah kemudian membangun sebuah gereja yang indah dan megah di Shan'a, sebagai bentuk kesetiaannya dan penghormatan kepada Raja Negus. Tujuan utama lainnya ialah agar orang-orang Arab tidak lagi mengunjungi Ka'bah di Makkah, tetapi mengunjungi rumah ibadah yang dibangunnya di Yaman itu.

Setelah itu, Abrahah mengutus beberapa utusan ke beberapa kabilah Arab untuk menyerukan agar pergi mengunjungi rumah ibadah yang dibangun Abrahah. Namun seruan tersebut diabaikan begitu saja oleh mereka. Bahkan orang-orang Arab yang berada di bawah wilayah kekuasaannya di Yaman pun banyak yang berkunjung ke Makkah.

 

Hal itulah yang membuat Abrahah marah besar dan mencari cara menghancurkan Ka'bah. Dia mendatangkan tentara dari Abbesenia. Ia memimpin pasukan dengan mengendarai seekor gajah. Di sisi lain, ada beberapa suku Arab yang mengetahui rencana tersebut, dan mencoba menghalangi Abrahah. Salah satunya ialah pemimpin Arab di Yaman bernama Dzun Nafar.

Dia menggalang kekuatan sukunya dan suku-suku Arab di sekitarnya untuk menghalangi tentara Abrahah. Namun Dzun Nafar dapat dikalahkan oleh tentara Abrahah sehingga dia ditawan dan hampir dihukum mati. Abrahah pun melanjutkan perjalanan, hingga tiba di negeri Khats'am Abrahah, di mana ia mendapat perlawanan dari Nufail ibn Habib al-Khats'ami yang memimpin beberapa kabilah.

Namun perlawanan Nufail dapat dipatahkan oleh Abrahah. Nufail diampuni oleh Abrahah dengan imbalan bersedia menjadi penunjuk jalan sampai Thaif. Sampai di Thaif tentara Abrahah tidak mendapatkan perlawanan dari penduduk setempat. Mereka hanya mengharap Abrahah tidak menghancurkan berhala yang mereka puja di Thaif.

Sementara itu, pemimpin mereka, yang bernama Mas'ud ibn Mu'attib, bersama beberapa pemuka suku Tsaqif yang lain, datang menyambut Abrahah dan menyatakan ketundukan mereka bahkan bersedia menunjukkan jalan ke Makkah. Mereka menunjuk Abu Rughal sebagai penunjuk jalan bagi Abrahah menuju Makkah. Tapi ketika tiba di tempat bernama Mughammis, Abu Rughal meninggal.

Dari Mughammis, Abrahah mengirim sebagian pasukannya yang dipimpin Aswad ibn Maqfud menuju Makkah. Sesampai di Tihamah Aswad, pasukannya merampas harta penduduk, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib. Lantas perlawanan pun datang dari sejumlah pemuka Quraisy. Namun sebelum melawan, mereka mengurungkan niatnya karena menyadari kekuatan pasukan Abrahah yang jauh lebih besar.

Abrahah kemudian mengirim utusan untuk bisa berunding dengan pemimpin Makkah. Utusan Abrahah yang bernama Hanathah, bertemu dengan pemimpin Makkah Abdul Muthalib. Hanathah menyampaikan bahwa kedatangan mereka bukan untuk memerangi penduduk Makkah, tetapi hanya untuk menghancurkan Ka'bah.

Kemudian dijawab oleh Abdul Muthalib:

"Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan Abrahah. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah Allah yang Suci, Rumah khalilullah Ibrahim. Kalau Allah hendak mempertahankan Rumah-Nya ini agar tidak diruntuhkan, itu adalah urusan Allah sendiri. Kalau dibiarkannya rumah-Nya diruntuhkan orang, apalah akan daya kami. Kami tidak kuat mempertahankannya."

Mendengar itu, Hanathah meminta Abdul Muthalib untuk menemui Abrahah. Hingga kemudian Abdul Muthalib menemui Abrahah. Abrahah sangat terkesan dengan penampilan Abdul Muthalib, yang memang terlihat sebagai pemimpin Makkah yang dihormati.

Namun, yang mengherankan bagi Abrahah yaitu Abdul Muthalib tidak ingin mempertahankan Ka'bah, tapi hanya meminta Abrahah mengembalikan 200 unta miliknya yang dirampas pasukan Abrahah.

Abrahah kemudian bertanya soal mengapa tidak bertekad mempertahankan Ka'bah. Abdul Muthalib berkata bahwa Ka'bah adalah Rumah Allah, sehingga biar Allah sendiri yang akan mempertahankannya. Abdul Muthalib kembali ke Makkah, menuju pintu Ka'bah, dan berdoa:

"Ya Tuhanku, tidak ada yang aku harap selain Engkau. Ya Tuhanku, tahanlah mereka dengan benteng Engkau, sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan Engkau."

Setelah itu Abdul Muthalib meminta penduduk Makkah pergi ke bukit-bukit sekitar Ka'bah untuk menghindari serangan tentara Abrahah. Abdul Muthalib dan pemuka Makkah lainnya memperhatikan dari atas bukit, apa yang akan terjadi besok hari. Ternyata tidak terjadi apa-apa.

Abrahah dan tentaranya tidak pernah sampai ke Masjidil Haram, dan tidak bisa menghancurkan Ka'bah. Justru mereka sendirilah yang dibinasakan Allah SWT, sebagaimana yang diceritakan dalam Surat Al-Fiil. Tahun terjadinya peristiwa itu disebut Tahun Gajah dan di tahun itu pula, Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Dalam Surat Al-Fiil, Allah SWT berfirman:

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (QS Al-Fiil ayat 1-5).

photo
Infografis Lima Sektor Pemondokan Jamaah Haji di Makkah - (Dok Republika)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement