Rabu 05 Apr 2023 15:29 WIB

Nasibah binti Ka’ab, Muslimah yang Punya Puluhan Luka Tusuk Bela Islam

Nasibah binti Ka’ab merupakan salah satu Muslimah pemberani.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil
 Nasibah binti Ka’ab, Muslimah yang Punya Puluhan Luka Tusuk Bela Islam. Foto:  Ilustrasi Muslimah
Foto: Pixabay
Nasibah binti Ka’ab, Muslimah yang Punya Puluhan Luka Tusuk Bela Islam. Foto: Ilustrasi Muslimah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Nasibah binti Ka’ab merupakan salah satu Muslimah pemberani yang tegar membela Islam dan Rasulullah SAW. Keberaniannya bahkan dibuktikan dengan ikut serta dalam Perang Uhud bersama suami dan juga anaknya.

Berdasarkan buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syaikh Sa’id Mursi, Nasibah merupakan wanita pertama dari kaum Anshar yang bersedia berikrar kepada Nabi Muhammad SAW. Muslimah dengan nama asli Nasibah binti Ka’ab bin Umar bin Auf al-Khazrajiah ini biasa dipanggil Ummu Imarah sesuai dengan kemargaannya.

Baca Juga

Di dalam Perang Uhud, Nasibah beserta suami dan anaknya ikut serta. Beliau sempat terluka parah di saat kemenangan mulai berada di pihak orang-orang kafir. Pakaiannya tercabik-cabik karena sayapan senjata, ia pun berada dalam naungan Rasulullah SAW dalam keadaan tubuh penuh luka akibat pukulan dan lemparan anak panah.

Dijabarkan, luka dalam tubuh Nasibah terdapat hingga 12 luka. Pada waktu itu, ibundanya senantiasa mendampingi dan berusaha membalut luka-luka tersebut. Keberanian beliau di luar kebiasaan wanita pada umumnya.

 

Rasa takutnya bukan dibayangi akan belati atau pun pukulan para pasukan musuh. Rasa takutnya hanya diperuntukkan bagi Allah SWT dan untuk itulah kiranya beliau bersedia dengan teguh membela agama Allah dan melindungi Rasulullah.

Misalnya, di kala Rasulullah SAW hendak dibunuh oleh Ibnul Qum’ah, Nasibah lah orang yang melindungi Nabi. Beliau melawan Ibnul Qum’ah yang hendak membunuh Nabi Muhammad dengan melontarkan beberapa pukulan kepadanya.

Bukan tanpa balasan, Ibnul Qum’ah membalas pukulan-pukulan kepada Nasibah beberapa kali di pundaknya. Hal itu mengakibatkan terdapat beberapa goresan pada punggung Muslimah mujahidah tersebut.

Atas perjuangannya dalam peristiwa ini, Rasulullah mengabadikan Nasibah binti Ka’ab dalam sebuah hadis shahih berbunyi: “Bahwa derajat Nasibah pada hari itu lebih tinggi daripada derajat siapa pun. Aku (Muhammad) selalu melihatnya di tempat mana pun. Aku senantiasa melihat Nasibah sedang berperang di belakangku,”.

Beliau menikah dengan Zaed bin Asyim dan dikaruniai anak yang diberi nama Habib dan Abdullah. Dan di saat Zaed meninggal, beliau kemudian menikai Ghaziah bin Umar al-Mazni. Nama Nasibah memang menjadi salah satu Muslimah yang cukup berpengaruh dalam dunia Islam.

Mengapa tidak? Beliau kerap ikut serta di beberapa perang besar yang dilangsungkan bersama Nabi Muhammad SAW. Nasibah berperan melayani dan membantu para mujahidin di medan perang. Tak hanya itu, beliau juga kerap memberi dorongan kepada orang-orang yang sedang berperang, memotivasi sehingga menghilangkan keraguan dalam diri mereka, dan beliau bahkan tak ragu untuk menghunuskan senjata dan berperang layaknya seorang perwira.

Nasibah memang seorang Muslimah yang tak kenal takut, terlebih pada musuh-musuh Islam. Misalnya, pada Hari Khunain, beliau ikut terjun dalam peperangan dan perannya semakin mengukuhkan kemenangan umat Islam. Beliau membunuh seorang pemuda dari kabilah Hawazin dan mengambil senjatanya untuk digunakan dalam perang tersebut.

Tak hanya itu, Nasibah juga ikut serta dalam memerangi orang-orang yang keluar dari agama Islam pada masa pemerintahan Abu Bakar. Beliau pun ikut serta dalam Perang Yamamah bersama Khalid bin Walid untuk menghadapi Musailamah al-kadzab atau Musailamah sang pendusta.

Namun nahas, Musailamah lah yang justru memotong tangan Muslimah mujahidah ini. Musailamah melukai tubuh beliau sebanyak 10 luka. Peristiwa ini membuat Khalifah Abu Bakar segera memerintahkan Nasibah untuk dibawa pulang.

Kekejaman Musailamah kepada Nasibah tak berhenti sampai di situ. Musailamah mampu membunuh anak Nasibah yang bernama Habib bin Zaed setelah terlebih dahulu ia memotong tangan dan kakinya. 

Jejak perjuangan Nasibah binti Ka’ab ini bukanlah perjuangan yang mudah. Penuh tekad, peluh, air mata, dan darah dalam menjalankannya. Namun sebagai hamba yang salehah, beliau melakukannya dengan ikhlas alias tanpa paksaan. Kontribusi beliau terhadap kahzanah keislaman juga bukan hanya terukir dari sisi historis perang semata.

Beliau juga tercatat sebagai periwayat hadis. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Nasibah binti Ka’ab berbunyi: “Rasulullah SAW pernah mendatangi Nasibah seraya menawarkan makanan kepadanya. Rasulullah berkata: makanlah. Nasibah pun menjawab: aku sedang dalam keadaan puasa. Mendengar perkataan ini, Rasulullah SAW pun bersabda: para malaikat akan selalu melakukan shalat bagi orang-orang yang berpuasa sehingga mereka senantiasa merasa kenyang akibat shalat yang dilakukan oleh para malaikat tersebut,”.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement