Selasa 04 Apr 2023 14:40 WIB

Shalahuddin Al Ayubi Jarang Tertawa karena Masjid Al Aqsa Masih Ditawan

Shalahuddin Al Ayubi jarang tertawa karena Masjid Al Aqsa ditawan.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Shalahuddin Al Ayubi Jarang Tertawa karena Masjid Al Aqsa Masih Ditawan. Foto:  Umat Islam melaksanakan salat Jumat di luar Masjid Dome of Rock di kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem selama bulan suci Ramadhan, Jumat, 31 Maret 2023.
Foto: AP Photo/Mahmoud Illean
Shalahuddin Al Ayubi Jarang Tertawa karena Masjid Al Aqsa Masih Ditawan. Foto: Umat Islam melaksanakan salat Jumat di luar Masjid Dome of Rock di kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem selama bulan suci Ramadhan, Jumat, 31 Maret 2023.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Shalahuddin Al-Ayubi nama lengkapnya adalah Yusuf bin Ayub bin Syadzi. Panggilannya adalah Abu Al-Muzhffar dan julukannya adalah Malik An-Naser yang berarti raja yang selalu menang.

Shalahuddin Al-Ayubi yang dilahirkan pada tahun 532 Hijriyah di Tikrit, Irak bagian utara dikisahkan jarang terlihat sedang tertawa.

Baca Juga

Alasan Shalahuddin Al-Ayubi mengapa jarang terlihat tertawa karena Masjid Al-Aqsa masih ditawan. "Bagaimana saya bisa tertawa sedangkan Masjid Al-Aqsa masih ditawan," kata Shalahuddin Al-Ayubi.

Setelah pertempuran Hiththin, pasukan Shalahuddin Al-Ayubi pergi menuju ke arah Baitul Maqdis. Dia ingin membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman kaum Salib yang telah mendudukinya selama 91 tahun.

Melalui pertempuran yang sangat sengit. Shalahuddin Al-Ayubi berhasil membebaskan kota tersebut dari kekuasaan mereka. Pertempuran ini bertepatan dengan peringatan Isra dan Mi'raj.

Tidak lama berselang setelah pertempuran tersebut. Shalahuddin Al-Ayubi berhasil membebaskan Thabariyah, Uka, Shoeda, Gaza, Nablis, Asqalan dan beberapa kota lain dari kekuasaan orang-orang Salib.

Shalahuddin Al-Ayubi terkenal sangat toleransi dalam memperlakukan tawanan dan tahanan. Dia memberikan rasa aman kepada mereka yang menginginkannya.

Bahkan, Shalahuddin Al-Ayubi menugaskan beberapa personil dari kepolisian supaya berkeliling di jalan raya untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap orang-orang Nasrani.

Shalahuddin Al-Ayubi pernah menyuruh bawahannya untuk mencari anak laki-laki dari seorang perempuan Nasrani. Penyebabnya adalah karena perempuan tersebut menuduh pasukan Islam menculiknya. Setelah anak tersebut ditemukan, pasukan Shalahuddin Al-Ayubi mengantarkan anak itu kepada ibunya.

Walaupun segudang keperkasaan yang ia miliki, hati dan jiwa Shalahuddin Al-Ayubi tetap lembut. Ia adalah ahli politik dan perang berwawasan luas serta rendah hati.

Shalahuddin Al-Ayubi juga hafal Alquran, belajar baca tulis, hadis, fiqih bahasa Arab, kedokteran dan nasab orang-orang Arab.

Pada tahun 589 Hijriyah, Shalahuddin Al-Ayubi meninggal dunia di Damaskus dalam usia 58 tahun. Dilansir dari buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah yang ditulis Syaikh Muhammad Sa'id Mursi dan diterjemahkan Khoirul Amru Harahap Lc dan Achmad Faozan Lc serta diterbitkan ulang Pustaka Al-Kautsar, 2007.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement