Selasa 14 Mar 2023 12:08 WIB

Cara Imam Bukhari Bertabarruk

Tabarruk merupakan tradisi yang banyak dilakukan orang - orang shaleh

Abu Hasan Mubarok
Foto: Dokpri
Abu Hasan Mubarok

TUAN GURU ABU HASAN MUBAROK; Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tabarruk adalah kata yang berasal dari Bahasa arab, memiliki arti mengambil kebaikan dari sesuatu. Apabila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi menjadi tabarukan. Mendapatkan akhiran an. Sebetulnya pemberian istilah ini juga masih menyisakan persoalan-persoalan secara lingustik. Apakah dibenarkan secara tata bahasa atau tidak?

Baca Juga

Tulisan ini tidak untuk membahas tentang persoalan lingustik dari kata tabarruk. Namun, ada sisi yang perlu diketahui oleh publik tentang sikap seorang ulama ahli hadits, yang hasil penilaiannya tentang hadits dijadikan sebagai rujukan utama setelah Alquran. Kitab yang disusun oleh Imam Bukhari (194-256 H) yang merupakan kumpulan kitab hadits yang paling dipercaya kesahihannya oleh jumhur ulama dan ummat Islam. 

Meskipun, kitab yang diberi nama al jami’ al musnad as sahihi al mukhtashar min umur Rasulullah saw wa sunanihi wa ayyamihi lebih dikenal dengan sebutan sahih bukhari ini bukan satu-satunya kitab yang menghimpun hadits-hadits yang bersumber dari Rasulullah saw. Masih ada kitab-kitab lain yang serupa dan ada juga kitab sebelum al jami’ as sahih ini dikodifikasi, sudah ada kitab yang memiliki penerimaan terbaik oleh ulama dan umat.

 

Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Nashir as sunnah, Muhammad bin Idris as Syafi’i (150-204 H) terhadap kitab al muwattha  yang disusun oleh gurunya, Imam Malik bin Anas (w. 179 H). Menurutnya, kitab al muwatha adalah satu-satunya kitab hadits yang paling sahih di bawah langit ini, setelah Alquran.

Pada hadits yang pertama dari kitab sahih al jami’. Ada hal yang menarik, yaitu pada bab tentang permulaan wahyu yang diturunkan. Pada hadits yang pertama dari 7275 hadits yang tertera di dalam kitab. Pada hadits yang pertama Imam Bukhari mengambil jalur riwayat dari al Humaidi, Abdullah bin az Zubair dari Sufyan dari Yahya bin Sa”id al Anshari dari Muhammad bin Ibrahim at Taimi, dari ‘Alqomah bin Waqqash al Laitsi. 

Pertanyaannya, mengapa Imam Bukhari mengambil hadits tentang niat ini dari jalur al Humaidi (hadits nomor 1), sementara hadits tetang niat ini juga terdapat dari jalur lain, seperti ‘Abduullah bin Maslamah (hadits nomor 54), Muhammad bin Katsir (hadits nomor 2529), Musaddad (hadits nomor 3898), Yahya bin Qaza’ah (nomor hadits 5070), Qutaibah bin Sa’id (nomor hadits 6689), jalur Abu Nu’man, (nomor hadits (6953). Mengapa Imam Bukhari memilih jalur transmisi dari al Humaidi.

Imam al Humaidi, memiliki nama Abdullah bin Zubair bin Isa. Nasabnya sampai pada Humaid bin Usamah dari klan Bani Asad bin Abdul Uza bin Qushai, sebagai kakek buyut Khadijah, istri Rasulullah saw. Pada diri Humaid bertemu silsilah pada Rasulullah saw dari jalur Qushai, dan dari Khadijah pada Asad. Dari sini, maka bisa dikatakan bahwa al Humaid, Abdullah bin az Zubair adalah dari suku Quraisy.

Menarik untuk dicermati juga, sebuah Riwayat dari Anas bin Malik RA berkata, bahwa Rasulullah saw berdiri di depan pintu, sedangkan kami berada di depan beliau. Lantas beliau berkata, pemimpin itu dari Quriasy. Hak mereka adalah kewajiban atas kalian, dan begitupula hak kalian, adalah kewajiban atas mereka.

Hadits ini oleh jumhur ulama dinilai sebagai hadits yang sampai pada derajat mutawatir. Meskipun pada jalur-jalur Riwayat yang laih, ada perawi yang dikategorikan lemah dalam periwayatanya. Namun, daripada itu, hadits ini memiliki syawahid yang bisa menguatkan antara satu jalur dengan jalur yang lain. Dan banyak juga yang meriwayatkan dari jalur yang sahih. Imam Ahmad dan juga ulama ahli hadits pada zamannya menilai bahwa hadits tentang kepemimpinan Quriasy itu adalah sahih. Adapun jalur sanadnya adalah dari Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Abu Barzah al Aslami.

Dari ini bisa dikatakan bahwa informasi tentang fadhilah Quriasy memang benar adanya. Dan oleh karena itu, dari 7 jalur transimi hadits yang disebut oleh Imam Bukhari dalam kitab sahihnya beliau memilih jalur dari Imam al Humaid, Abdullah bin Zubair sebagai hadits yang pertama, tabarrukan dengan kemuliaan tersebut.

Wa Allahu a’lam

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement