Rabu 11 Jan 2023 19:02 WIB

Mimpi Surat Al-Ikhlas di Kedua Mata Hasan bin Ali dan Terbuktinya Takwil Ibnu Musayyib

Hasan bin Ali bermimpi terdapat surat al-Ikhlas di kedua matanya hingga terbunuh

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Surat Al-Ikhlas (ilustrasi). Hasan bin Ali bermimpi terdapat surat al-Ikhlas di kedua matanya hingga terbunuh
Foto: Republika/ Nashih Nashrullah
Surat Al-Ikhlas (ilustrasi). Hasan bin Ali bermimpi terdapat surat al-Ikhlas di kedua matanya hingga terbunuh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Tidak hanya ahli dalam bidang ilmu hadits atau fikih, Said bin al-Musayyib juga masyhur sebagai¿¿ seorang penakwil mimpi. Keahliannya itu dijelaskaN adz-Dzahabi. 

Menurutnya, Said bin al-Musayyib adalah orang yang paling berkompeten dalam menafsirkan mimpi. Said mempelajari (takwil mimpi) dari Asma binti Abu Bakar. Adapun Asma sendiri mempelajari hal itu dari ayahnya. 

Baca Juga

Ibnu Sa'ad dalam Ath-Thabaqat menuturkan beberapa penafsiran mimpi yang dilakukan Ibnu al-Musayyib. Seseorang mengaku pernah mimpi bertemu dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Lantas, dalam mimpinya itu lelaki tersebut mendorong sang khalifah hingga tersungkur ke tanah dan melukainya. Penguasa tersebut kemudian diikat dengan tali sebanyak empat ikatan. 

 

Said bin al-Musayyib lalu berkata, “Aku tidak akan memberitahukannya (tafsiran mimpi itu) kepadamu walaupun engkau telah memberitahukan perihal mimpi ini kepadaku.” 

Selang beberapa waktu kemudian, Ibnu Zubair juga mengaku bermimpi yang persis seperti mimpi si lelaki itu.

Akhirnya, Ibnu al-Musayyib mengungkapkan takwilnya. “Jika memang mimpinya benar seperti apa yang engkau utarakan, maka Ibnu Zubair akan dibunuh oleh Abdul Malik bin Marwan. Adapun Abdul Malik sendiri akan melahirkan empat orang putra yang semuanya kelak menjadi khalifah.”  

Ketika tafsiran mimpi itu sampai ke telinga Abdul Malik, raja dari Dinasti Umayyah itu sangat senang.

Cucu Rasulullah SAW, Hasan bin Ali, pernah bermimpi, seolah-olah terdapat tulisan Qul Huwallahu Ahad pada kedua matanya. 

Lantas, cerita tentang mimpi itu disampaikan kepada Ibnu al-Musayyib. Sang alim pembesar tabiin itu berkata, “Jika memang mimpinya benar seperti yang diceritakan itu, katakanlah kepadanya (Hasan) bahwa dirinya tidak akan hidup lebih lama lagi.” Benar saja, beberapa hari sesudah mengalami mimpi itu saudara Husain bin Ali tersebut meninggal dunia.

Kepakaran Said ibnu al-Musayyib 

Begitu menjadi seorang pemuka agama Islam di Madinah, Ibnu al-Musayyib menggelar majelis ilmu. Forum yang dipimpinnya selalu dihadiri banyak jamaah. 

Perannya dalam membimbing umat kian te rasa sesudah satu per satu sahabat Rasul berpulang ke rahmatullah, baik akibat faktor usia, sakit, maupun gugur di pertempuran.

Baca juga: Al-Fatihah Giring Sang Ateis Stijn Ledegen Jadi Mualaf: Islam Agama Paling Murni

Sepeninggalan mereka, kaum Muslimin mendapatkan pemahaman keislaman dari Ibnu al-Musayyib. Fatwa nya diterima bukan hanya oleh penduduk Madinah atau Hijaz, melainkan juga seluruh kawasan dunia Islam.

Di antara murid-muridnya ialah Ibnu Syihab al-Zuhri, Salim bin Abdullah bin Umar, Abu Zinad, Sa'ad bin Ibrahim, Amr bin Murah, Abu Ja'far al-Baqir, dan Urwah bin Zubair. Ibnu Syihab kelak memiliki murid yang bernama Imam Malik, yang akhirnya menjadi guru bagi Imam Syafii. 

Hingga wafatnya pada tahun 94 Hijriyah, Ibnu al-Musayyib selalu menjadi rujukan kaum Muslimin, terutama yang ingin mendapatkan fatwa dari Ahlul Madinah. 

Hidup melintasi zaman tiga orang khulafaur rasyidin, ia sangat memahami perkara-perkara ijtihad yang dilakukan para khalifah serta sahabat Nabi SAW.       

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement