Jumat 25 Nov 2022 17:08 WIB

Etika Bertetangga di Era Media Sosial dan Relevansi Silaturahim Offline-Online

Era media sosial menuntut penegasan adab dalam bersilaturahim

Ilustrasi bertetangga. Era media sosial menuntut penegasan adab dalam bersilaturahim
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi bertetangga. Era media sosial menuntut penegasan adab dalam bersilaturahim

Oleh : Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kecanggihan teknologi virtual di era 4.0 memudahkan komunikasi atau interaksi, tanpa batasan waktu dan wilayah, yang tersambung melalui jaringat internet. 

Komunitas virtual bisa saling terhubung dan tersambung melalui Facebook, Twitter, Instagram, Youtube dan sosial media lainnya. 

Baca Juga

Rapat-rapat penting dapat dilakukan melalui aplikasi Zoom. Secara virtual, silaturahim bisa terjalin terus dengan teman atau saudara yang tinggal jauh dengan memanfaatkan video call. Masyarakat di belahan dunia dapat mengikuti tayangan perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar secara live streaming. 

Meski demikian, platfom media sosial apapun jenisnya harus kita tempatkan sebagai wasîlah (media), bukan ghâyah (tujuan) satu-satunya untuk berkomunikasi dan interakasi.

 

Kehangatan komunikasi dan interaksi dengan keluarga dan tetangga secara offline (nyata) tidak boleh “tergantikan” dengan cara berkomunikasi atau berinteraksi di dunia online (maya).

Sesibuk apapun, tetap harus bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan beriterakasi secara langsung.

Silaturahim atau interaksi secara langsung dapat dilakukan antara lain dengan cara menghadiri sholat berjamaah di musholla atau masjid terdekat, mengikuti kegiatan rutin warga atau kegiatan sosial lainnya.

Tetangga dalam Islam

Perintah kewajiban berbuat baik kepada tetangga dalam Alquran disebut secara berurutan dengan perintah menyembah Allah SWT dan larangan untuk menyekutukan-Nya. Ini artinya, dapat dipahami bahwa kewajiban berbuat baik kepada tetangga memiliki tempat dan perhatian yang tinggi dalam syariat Islam. 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS  An-Nisa ayat 36). 

Dalam ayat di atas, selain mengandung muatan teologis, ada juga muatan perintah ibadah sosial baik secara khusus, seperti berbuat baik kepada kedua orang tua, atau secara umum seperti menunjukkan kepedulian sesama manusia, termasuk kepada tetangga.  

Berperilaku baik kepada sahabat dan tetangga saat hidup di dunia menjadi salah satu parameter tingkat kebaikan seseorang di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat.

خَيْرُ الأَصحاب عِنْدَ اللَّهِ تعالى خَيْرُهُمْ لصـاحِبِهِ، وخَيْرُ الجيران عِنْدَ اللَّه تعالى خيْرُهُمْ لجارِهِ

"Sebaik-baik teman di sisi Allah ialah yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya." (HR Ahmad). 

Baca juga: Mualaf David Iwanto, Masuk Islam Berkat Ceramah-Ceramah Zakir Naik tentang Agama 

Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam memberikan ultimatum konsekuensi terburuk bagi mereka yang menyakiti tetangganya.

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ  

“Demi Allah, tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya, demi Allah tidak sempurna imannya.” Rasulullah Saw. ditanya, “Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” (HR al-Bukhari).

Dalam satu riwayat, malaikat Jibril sering mendatangi Nabi Muhammad SAW guna memberi wasiat tentang tetangga.

مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR Bukhari).   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement