Selasa 13 Sep 2022 16:33 WIB

Perbedaan Kemunafikan dan Riya, Dua Perkara yang Dilarang dalam Islam

Kemunafikan dan riya merupakan perkara yang tak boleh ada dalam diri Muslim

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi beribadah menghindari kemunafikan dan riya. Kemunafikan dan riya merupakan perkara yang tak boleh ada dalam diri Muslim
Foto: Republika
Ilustrasi beribadah menghindari kemunafikan dan riya. Kemunafikan dan riya merupakan perkara yang tak boleh ada dalam diri Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nifaq atau kemunafikan dan riya adalah dua perbuatan buruk yang tentunya harus dijauhi dari seorang Muslim. 

Keduanya memiliki makna yang mirip tetapi terdapat perbedaan yang terang. Kemiripan ini mungkin karena keduanya merujuk pada sikap menyembunyikan sesuatu.

Baca Juga

Nifaq sendiri adalah sikap seseorang yang bertentangan sesuatu yang dia sembunyikan dalam dirinya dan bertujuan menipu orang lain dengan dengan menampilkan kebenaran dan Islam, tetapi sebetulnya ia menyembunyikan kejahatan dan kekafiran. 

Adapun riya, sering kali disebut oleh masyarakat Indonesia sebagai sikap pamer. Dalam Islam, riya adalah sikap mengharapkan pujian dari orang-orang atas perbuatan baik yang dilakukannya. Tentu sikap riya ini juga merupakan perbuatan tercela dalam Islam. 

 

Munafik memiliki makna yang lebih umum daripada riya. Namun keduanya adalah salah satu penyakit yang paling berbahaya bagi umat Islam, karena seorang Muslim bisa menderita dengannya. 

Salah seorang mantan Mufti Mesir, Syekh Nasr Farid Wasel, menuturkan  orang munafik adalah orang yang menunjukkan kebalikan dari sesuatu yang disembunyikannya. 

Artinya, apa yang ditampilkan atau terlihat dari seseorang, itu tidak selaras dengan apa yang disembunyikan oleh dirinya. 

Dalam kitab Washiyat Al-Musthafa, dijelaskan mengenai wasiat Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib. 

"Wahai Ali, bagi orang munafik itu ada tiga tanda, yaitu jika bicara dia bohong, jika berjanji ingkar, dan jika diberi amanat dia berkhianat dan nasihat (yang diberikan kepadanya) tidak berguna bagi orang munafik."

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, Rasulullah SAW bersabda: 

أربعٌ من كنَّ فيه كان منافقًا خالصًا، ومن كانت فيه خَصلةٌ منهنَّ كان فيه خصلةٌ من النفاقِ حتى يدَعها: إذا ائتُمن خان، وإذا حدَّث كذَب، وإذا عاهَد غدَر، وإذا خاصَم فجَر

"Ada empat perkara. Siapa yang empat perkara itu semuanya ada di dalam dirinya, maka orang itu adalah orang munafik yang murni. Siapa yang di dalam dirinya ada satu perkara dari empat perkara tersebut, maka orang itu juga memiliki satu macam perkara dari kemunafikan sampai ia meninggalkannya. Yaitu, jika dipercaya berkhianat, jika  berbicara berdusta, jika berjanji tidak ditepati, dan jika bermusuhan ia berbuat licik (culas)." (HR Bukhari dan Muslim)

 

Sumber: fiqh islamonline  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement