Selasa 30 Aug 2022 21:27 WIB

Iyas bin Muawiyah, Ulama Kecil yang Membantah Guru Yahudi

Guru Yahudi dibantah oleh Iyas bin Muawiyah.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
Iyas bin Muawiyah, Ulama Kecil yang Membantah Guru Yahudi.  Foto; Ilustrasi ulama
Foto: republika
Iyas bin Muawiyah, Ulama Kecil yang Membantah Guru Yahudi. Foto; Ilustrasi ulama

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Iyas bin Muawiyah merupakan ulama muda terkenal cerdas yang hidup pada masa sahabat utama Rasulullah Anas bin Malik Al-Anshari. Karena kecerdasannya, Iyas dijuluki Adz-Dzki yang artinya simbol kecerdasan.

Di usianya masih kecil Iyas sudah bisa mematahkan argumentasi seorang guru hisab dari kebangsaan Yahudi. Kecerdasan Iyas memampu menumbangkan orang Yahudi yang berusaha mengolok-ngolok kebenaran Alquran. 

Baca Juga

Ustadz Abu Umar Abdillah dalam bukunya "Masa Kecil Para Ulama" menceritakan, ketika Iyas Ikut belajar ilmu hisab sekarang ini semacam pelajaran matematika kepada seorang guru Yahudi ahli di dzimmah. Iyas bercampur baur dengan teman-temannya juga banyak orang Yahudi. 

Suatu kali guru Yahudi itu berkata kepada teman-teman Iyas. "Tidakkah kalian heran dengan kaum muslimin itu? Mereka bilang di surga bisa makan, tapi tidak akan buang air besar, mana mungkin? 

Iyas yang masih imut itu memberanikan diri berbicara "Pak, Apakah semua yang dimakan di dunia ini keluar menjadi kotoran?" "Jelas tidak," kata guru Yahudi itu

"Lantas kemana perginya yang tidak keluar itu?" Sahut Iyas. Guru Yahudi menjawab, "terserap oleh tubuh!" 

Iyas berkata, "Lantas dengan alasan apa kalian mengingkari? Jika makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap tubuh maka tak mustahil di Jannah seluruhnya diserap tubuh." 

Guru Yahudi itu kelabakan menghadapi anak muslim yang cerdas ini. Karena rasa sentimen atas kecedasannya guru Yahudi itu berkata, "Semoga kamu mati sebelum dewasa." 

Tapi doa musuh Allah itu tidak terkabul. Berikutnya, Iyas wafat ketika berumur 76 tahun. Kecerdasannya membuat orang takjub. Bahkan banyak orang tua yang berguru kepadanya meskipun masih kecil, di usia remaja, Iya juga dianggap pemimpin bagi orang-orang yang usianya sudah tua dan berilmu.

Pada suatu tahun, ketika Abdul Malik bin Marwan mengunjungi Basharah sebelum menjadi khalifah, dia melihat Iyas yang masih remaja dan belum lagi tumbuh kumisnya berada paling depan sebagai pemimpin, sedangkan di belakangnya ada empat orang penghafal Alquran yang sudah berjenggot panjang dengan pakaian resmi berwarna hijau. Maka Abdul Malik berkata "Celaka benar orang-orang berjenggot ini, apakah di sini tak ada lagi orang tua yang bisa memimpin, sampai anak kecil ini dijadikan pemimpin mereka?

 "Lalu dia menoleh kepada Iyas dan bertanya," Berapa usiamu wahai anak muda? " Iyas menjawab," usiaku wahai Amir, semoga Allah SWT memanjangkan umur anda, usia saya sama dengan usia Usama bin Zaid saat diangkat oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar. 

"Abdul Abdul Malik berkata" kemarilah, kemarilah wahai anak muda, Semoga Allah memberkatimu."

Di suatu tahun orang-orang keluar untuk mencari hilal Ramadhan dengan dipimpin langsung oleh sahabat utama Anas bin Malik Al Anshari. Ketika itu beliau telah berusia senja dan hampir mencapai 100 tahun. Orang-orang memperhatikan seluruh penjuru langit, namun, tidak melihat apa-apa di langit. 

Akan tetapi Anas terus mencari-cari lalu berkata, "Aku telah melihat hilal, itu dia!" 

Sambil menunjuk dengan tangannya ke langit, padahal tak seorangpun melihatnya selain beliau. Ketika itu Iyas memperhatikan anas, ternyata ada sehelai rambut panjang yang berada alisnya hingga menjulur di pelupuk matanya. 

Dengan santun Iyas meminta izin untuk merapikan rambut Anas yang menjulur itu, lalu bertanya, "Apakah anda masih melihat hilal itu sekarang wahai sahabat Rasulullah SAW?" 

Anas RA "Tidak, aku tidak melihatnya aku tidak melihatnya."

Setelah momen inilah, tersebar berita tentang kecerdasan Iyas, orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula yang hendak berdebat khusus. 

Di antara mereka ada duhkon seperti jabatan lurah di kalangan Persia, dahulu yang datang ke majelisnya dan bertanya.

Duqhan: "Wahai Abu Wa'ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?" 

Iyas:"Haram." 

Duhqan: "Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari kurma dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal?" 

Iyas:  "Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duqhan, ataukah masih ada yang hendak kau utarakan? 

"Duhqan: "Sudah, silakan bicara".

Iyas: "Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa sakit?" 

Duhqon: "tidak."

Iyas: "Jika kuambil segenggam pasir dan kulempar kepadamu, apakah terasa sakit?" 

Duhqan: "tidak." 

Iyas: "Sekarang jika aku mengambil segenggam semen dan kulempar kepadamu apakah terasa sakit?"

Duhqan: "tidak." 

Iyas: "Sekarang, jika aku ambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku tuangkan air di atasnya dan aku jemur hingga kering, lalu kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit?" 

Duqha. "Benar, bahkan bisa membunuhku."

Iyas: "Begitulah halnya dengan khamar. Di saat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram."

 

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement