Jumat 26 Aug 2022 18:18 WIB

Jadi Cibiran di Muka Bumi, Dirindukan Penghuni Langit

Tak ada alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT

Ilustrasi Sahabat Nabi
Foto:

Ayah si gadis langsung terpekik. Bahkan Julaibib sendiri pun merasa minder yang teramat sangat. Sedemikian nekatkah Rasulullah ingin memperistrikan dirinya yang buruk rupa itu dengan putri seorang bangsawan?

Lalu diberitahukanlah perihal lamaran itu kepada si gadis. “Apakah ayah dan ibu hendak menolak permintaan Rasulullah SAW? Demi Allah, kirim aku padanya. Jika Rasulullah SAW yang meminta, maka pasti beliau tidak akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku,” tegas si gadis yang salehah. 

Ia kemudian membacakan ayat, “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab: 36).

Akhirnya, menikahlah Julaibib yang miskin, buruk rupa, dan tak punya nasab tersebut dengan gadis salehah anak seorang bangsawan. Inilah yang dipahami oleh Mazhab Maliki, bahwa definisi kufu (kesetaraan antara suami istri) bukanlah soal materi, kedudukan, dan harta benda. Melainkan kufu ketakwaan dan kesalehan keduanya.

Kisah ini mengajarkan para sahabat ketika itu dan umat Nabi Muhammad SAW, bahwa di mata Allah SWT semua manusia sama. Yang membedakan derajat mereka hanyalah ketakwaan saja. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan fi sik kalian. Allah hanya melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR Muslim).

Janganlah seseorang merasa malu, minder, dan rendah diri lantaran keterbatasan fisik atau perkara ekonomi. Tak ada alasan pula untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT lantaran ditakdirkan dalam kondisi serba keterbatasan. Jika dari segala keterbatasan tersebut bisa melahirkan seorang Muslim yang saleh, maka dialah yang lebih mulia di sisi Allah.

Firman Allah SWT, “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran [3]: 39).

Kisah Julaibib juga memberi pelajaran bagi orang beriman untuk tidak membedabedakan saudara mereka karena fi sik atau faktor ekonomi. Dalam memilih teman, sahabat, hingga jodoh, hendaklah mengedepankan faktor kesalehan dibanding faktor-faktor yang lain. 

Julaibib yang sering mendapat cibiran di muka bumi, ternyata menjadi sosok yang dirindukan oleh penghuni langit. Julaibib syahid di medan pertempuran dan meraih gelar syuhada. Rasulullah SAW mengafani Julaibib dengan tangannya sendiri. Ia dishalatkan Rasulullah SAW secara pribadi. Rasulullah SAW pun mendoakan Julaibib, “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Hal ini menyadarkan para sahabat, bisa jadi seseorang yang dipandang rendah di mata manusia, tapi tinggi di hadapan Allah SWT. Potensi setiap orang menjadi saleh sama-sama besarnya. Siapa pun bisa menjadi saleh dan tinggi kedudukannya di sisi Allah. Seperti Julaibib yang sering dihina manusia, tapi dimuliakan derajatnya di sisi Allah.

sumber : Dialog Jumat
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement