Selasa 07 Jun 2022 20:05 WIB

Hutang Barat kepada Islam yang Nyaris Tak Pernah Diakui

Barat enggan jujur terhadap besarnya hutang kepada Islam

Sains Islam (ilustrasi). Barat enggan jujur terhadap besarnya hutang kepada Islam

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

Ini membuktikan bahwa ilmuwan Muslim terdepan bahkan dalam ilmu-ilmu yang bersifat empiris (empirical science). Priffult dalam bukunya “Making of Humanity” dengan objektif mengatakan, “Sesungguhnya metode empiris dalam penelitian ilmiah merupakan keunggulan ilmuwan muslimin yang tidak pernah dikenal sebelum mereka.” 

Tidak hanya dalam bidang science, hutang Barat pada Islam merambah bidang-bidang lainnya seperti sastra dan seni. Dante Alighieri yang sangat terkenal dengan “The Divine Comedy”nya mengambil ide-idenya dari buku al-Ghufran karya sastrawan Arab terkenal Abu al-‘Ala` al-Ma’arry. 

Goethe, seorang filosof, sastrawan dan ilmuwan Jerman, sebelum menulis karyanya West-ostlicher Diwan, telah membaca Alf Lailah wa Lailah karya Ibnu al-Muqaffa’ dan karya-karya Hafizh asy-Syirazi. Rene Descartes, seorang filosof Perancis, dalam karya fenomenalnya Discourse on the Method menjiplak pemikiran-pemikiran Imam al-Ghazali dalam al-Munqidz min adh-Dhalal.  

Karena itu, seorang filosof Inggris terkenal yaitu Roger Bacon, merasa heran kalau ada orang yang ingin menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat tapi tidak paham bahasa Arab. Karena menurutnya bahasa Arab adalah bahasa ilmu dan peradaban.    

 

Kalau demikian, kenapa Barat enggan mengakui keunggulan, jasa, dan pengaruh peradaban Islam terhadap peradaban Barat? Barangkali yang paling tepat menjawab pertanyaan ini adalah Mark Graham dalam bukunya “How Islam Made The Modern World”. “Karena saking banyaknya kita mengambil dari mereka (kaum muslimin), akhirnya kita enggan mengakui bahwa kita mengambil dari mereka, karena yang kita ambil tidaklah sedikit.”   

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement