Jumat 25 Mar 2022 01:10 WIB

Naskah Khutbah Jumat: Merawat Nikmat Persatuan

Allah SWT telah menganugerahkan kepada kita ketentraman hidup berbangsa.

Pemandu wisata menerangkan kepada pengunjung tentang mural Bhinneka Tunggal Ika di Rumah Kebangsaan Pancasila, Desa Jogjogan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/6/2021). Wisata Rumah Kebangsaan Pancasila yang berisi berbagai miniatur rumah adat dan ibadah serta patung Bung Karno tersebut menjadi wahana edukasi dan mengenalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kebangsaan Indonesia yang merupakan bagian penting membangun karakter. Naskah Khutbah Jumat: Merawat Nikmat Persatuan
Foto:

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Manakala dikontekstualisasikan dengan kehidupan kita sekarang ini, ayat 103 QS. Ali Imran tersebut mengandung perintah bagi kita agar hendaknya kita sama-sama berpegang teguh pada tali agama Allah SWT, dan tidak berpecah belah, dan agar kita terus menerus merawat kerukunan dan persatuan.

Di tengah ujian dan aral rintang rasa ukhuwah kita sesama umat Islam, kita juga dihadapkan dengan kemiskinan, keadilan, pendidikan, dan sebagainya. Sehingga jika ada upaya sekelompok atau segelintir orang yang hendak mengganggu persatuan ini tidak perlu terpancing untuk diadu domba, berpinsip bahwa berlapang dada pada yang berbeda, bersatu pada apa yang disepakati.

Maka dari itu, sebagai bentuk ikhtiar kita menjaga ukhuwah atau persatuan dalam bingkai persaudaraan ini, Buya Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Akhlak menulis empat pilar dalam upaya menjaga hal tersebut.

Pertama taáruf, yakni upaya saling mengenal antar individu maupun kelompok, mengenal lebih dalam, tidak cukup hanya mengenal ciri-ciri fisik seseorang atau sekadar biodata singkatnya saja. Namun juga mengenali latar belakang kehidupan, pendidikan hingga keagamaannya.

Kedua tafahum, yaitu upaya saling memahami kelebihan dan kekurangan, sehingga segala macam bentuk kesalahpahaman dapat terhindari.

Ketiga taáwun, yakni upaya tolong menolong satu sama lain. Maka hendaknya yang kuat menolong yang lemah, yang memiliki kelebihan menolong yang berkekurangan, yang sehat menolong yang sakit, dan seterusnya sehingga Allah SWT menurunkan rahmatNya.

Keempat takaful, yaitu upaya saling memberikan jaminan, sehingga dapat mendorong timbulnya rasa aman, tak ada kekhawatiran dalam menghadapi bermacam-macam permasalahan, sebab ada jaminan dari saudaranya yang mau memberikan pertolongan, serta mencarikan solusi jalan keluar, dan sebagainya.

Inilah empat tiang penyangga dalam kita membina ukhuwah merekat persaudaraan dan persatuan antarsesama umat Islam pada khususnya, dan sesama warga bangsa pada umumnya.

بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ  وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ

 

sumber : Suara Muhammadiyah
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement