Kamis 17 Mar 2022 03:55 WIB

Tafsir Surat Ibrahim Ayat 18: Amal Baik Orang Menyekutukan Allah, Seperti Apa?

Allah menjelaskan perumpamaan amal baik orang yang menyekutukan Allah.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah
Tafsir Surat Ibrahim Ayat 18: Amal Baik Orang Menyekutukan Allah, Seperti Apa?
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Tafsir Surat Ibrahim Ayat 18: Amal Baik Orang Menyekutukan Allah, Seperti Apa?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran dalam Surat Ibrahim Ayat 18 menjelaskan orang-orang yang menyekutukan Allah dan ingkar kepada Allah atau kafir, meski berbuat baik tapi amal baiknya seperti abu yang ditiup angin kencang. Amal baik mereka diumpamakan seperti debu yang beterbangan ditiup angin kencang.

مَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ اَعْمَالُهُمْ كَرَمَادِ ِۨاشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ يَوْمٍ عَاصِفٍۗ لَا يَقْدِرُوْنَ مِمَّا كَسَبُوْا عَلٰى شَيْءٍ ۗذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيْدُ

Baca Juga

Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS Ibrahim: 18).

Tafsir Kementerian Agama menerangkan ayat ini mengandung arti bahwa seperti itulah Allah menyiksa orang kafir, meski mereka selalu berbuat baik dan berjasa bagi kemanusiaan sepanjang hidupnya. Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia yang dipandang baik dan berjasa bagi kemanusiaan seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang.

 

Angin itu menghamburkan abu tersebut hingga tidak tersisa. Demikianlah, mereka tidak kuasa mengambil pahala sama sekali di sisi Allah dari apa yang telah mereka usahakan di dunia karena kekufuran mereka telah menghapus semua amal baik itu. Sebab perbuatan baik mereka tanpa dilandasi keimanan, ini adalah bentuk kesesatan yang sangat jauh dari kebenaran

Dalam ayat ini dijelaskan oleh Allah tentang kerugian besar yang akan mereka (orang kafir) derita, yaitu pahala dari amalan kebajikan mereka di dunia, kalau ada, akan dihapus Allah. Dengan demikian, mereka tidak dapat merasakan manfaat apapun dari amalan kebajikan yang mungkin pernah mereka perbuat di dunia.

Amalan-amalan mereka itu diibaratkan oleh ayat ini bagaikan abu yang ditiup angin kencang, hilang tanpa kesan. Keadaan yang demikian adalah akibat dari kesesatan mereka dan penyelewengan yang jauh sekali dari petunjuk Allah SWT.

Dalam penjelasan Tafsir Jalalayn, ayat ini menerangkan perumpamaan atau gambaran (tentang orang-orang yang ingkar kepada Rabb mereka) kalimat ayat ini berkedudukan menjadi mubtada kemudian dijelaskan oleh badalnya pada firman selanjutnya. Yaitu (amalan-amalan mereka) yang baik, seperti silaturahmi dan sedekah, tidak ada manfaat (seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin keras) sangat keras tiupannya sehingga angin keras itu menjadikannya debu-debu yang beterbangan yang tiada manfaatnya.

Jar dan majrurnya merupakan khabar dari mubtada (mereka tidak dapat) yakni orang-orang kafir itu (mengambil manfaat dari apa yang telah mereka upayakan itu) dari apa yang telah mereka amalkan sewaktu di dunia (barang sedikit pun). Artinya mereka sama sekali tidak menemukan pahala dari amal-amal mereka karena tidak memenuhi syarat, yaitu tiadanya iman. (Yang demikian itu adalah kesesatan) kebinasaan (yang jauh).

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement