Kamis 03 Mar 2022 20:06 WIB

3 Maret 1924, Runtuhnya Kesultanan Ottoman

Sosok yang paling disorot atas keruntuhan Ottoman ini adalah Mustafa Kemal Ataturk.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah
Istana Yildiz yang menjadi tempat Sultan Abdul Hamid II memerintah Kekhalifahan Utsmaniyah atau Ottoman Empire pada 31 Agustus 1876–27 April 1909. 3 Maret 1924, Runtuhnya Kesultanan Ottoman
Foto: raillynews.
Istana Yildiz yang menjadi tempat Sultan Abdul Hamid II memerintah Kekhalifahan Utsmaniyah atau Ottoman Empire pada 31 Agustus 1876–27 April 1909. 3 Maret 1924, Runtuhnya Kesultanan Ottoman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi hari 3 Maret 1924, Majelis Nasional Turki kala itu menyetujui penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Kesepakatan itu kontan menghapuskan kekhalifahan Turki Utsmani yang sudah berkuasa selama berabad-abad. 

Dikutip dari buku Malapetaka Runtuhnya Khilafah karya Abdul Qodim Zallum, setelah perjanjian Lausanne disetujui dan ditandatangani pada 24 Juli 1924, banyak negara akhirnya mengakui Turki sebagai sebuah negara yang terpisah dari kekuasaan khilafah. Inggris juga menarik mundur pasukannya dari Istanbul dan kawasan Selat Harrington, meskipun keputusan itu sempat ditentang. 

Baca Juga

Perkataan Menlu Inggris saat itu, Curzon, sangat menarik. Curzon yang sempat diprotes karena mengakui kemerdekaan Turki berucap, “Yang penting Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi. Karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritual mereka, yaitu Khilafah dan Islam," jelasnya. 

Adapun Khalifah atau pemimpin terakhir Utsmaniyah adalah Abdul Majid II yang menjabat pada  19 November 1922. Saat kekhalifahan runtuh, Khalifah dipaksa masuk ke dalam mobil yang kemudian membawanya melintasi perbatasan menuju Swiss dengan dibekali satu koper berisi beberapa potong pakaian dan sejumlah uang. 

 

Sosok yang paling disorot atas keruntuhan ini adalah Mustafa Kemal Ataturk, seorang yang saat ini disebut juga Bapak Turki atau pencetus Republik Turki. Dia juga yang dikenal paling vokal mengusulkan kepada Majelis Nasional tentang penghapusan khilafah, pengusiran khalifah, dan pemisahan agama dari urusan-urusan kenegaraan. 

“Bagaimanapun kita harus menyelamatkan republik yang berada dalam bahaya dan membangunnya dengan landasan yang kukuh dan ilmiah. Khalifah dan para pewarisnya dari Bani Utsmaniyah harus pergi. Peradilan agama yang bobrok dan hukum-hukumnya harus diganti dengan peradilan dan hukum-hukum modern. Sekolah-sekolah agama harus menyerahkan tempatnya kepada sekolah-sekolah negeri sekular," ucapnya. 

Philip Khuri Hitti dalam bukunya History of the Arabs menyebut kekhalifahan Utsmaniyah atau Kesultanan Ottoman berjaya antara 1517-1924 masehi. Periode paling terkenal saat masa Utsmani adalah pada masa Sultan Mehmet II yang dikenal dengan sebutan al-Fatih atau sang penakluk. Pada masanya, pemerintahan Islam berhasil menguasai Konstantinopel yang merupakan kota paling penting di dunia kala itu.

Hilangnya sistem Kekhilafahan Utsmani berarti terputus juga sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Sistem ini menunjukkan sejarah panjang sumbangsih Islam pada peradaban dunia. 

Pakar studi keislaman Britania Raya Montgomery Watt bahkan menyebut peradaban Islam merupakan awal penggerak peradaban Barat. "Cukup beralasan jika kita menyatakan peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa,"katanya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement