Kamis 24 Feb 2022 06:15 WIB

Para Wali Allah yang tak Tertawa Selama Puluhan Tahun

Para wali Allah menghindarkan diri dari perbuatan tertawa.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
 Para Wali Allah yang tak Tertawa Selama Puluhan Tahun. Foto:  Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Para Wali Allah yang tak Tertawa Selama Puluhan Tahun. Foto: Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Rasulullah SAW melarang keras umatnya bergurau alias bercanda apalagi dengan penuh dusta. Demi terhindar dari perbuatan dusta para wali-wali Allah rela tidak tertawa selama bertahun-tahun. 

Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya Afat al-Lisan yang telah diterjemaahkan kedalam judul "Bahaya Lisan" mengatakan,  Syekh Yusuf ibn Asbath berkata, bahwa Al-Hasan pernah tidak tetawa selama tiga puluh tahun. Sedangkan Atha ibn as-Sulami pernah menjalani hidup tidak tertawa selama empat puluh tahun.

Baca Juga

Wahib ibn al-Wird melihat sekelompok orang yang sedang tertawa pada hari raya Idul Fitri. Kemudian ia berkata, "Jika dosa-dosa mereka telah diampuni, maka ini bukan perbuatan orang yang bersyukur. Sedangkan jika dosa mereka belum diampuni, maka ini bukan perbuatan orang yang takut!"

Ibnu Abbas berkata, "Barangsiapa melakukan perbuatan dosa dengan tertawa, niscaya ia masuk neraka dengan menangis!"

 

Muhammad ibn Wasi berkata, “Andaikan engkau melihat orang menangis di surga, apakah engkau tidak merasa heran dengan tangisannya?" Seseorang menjawab, “Tentu, aku heran."

Muhammad bin Wasi lantas berkata lagi, “lebih mengherankan lagi adalah orang yang tertawa di dunia, sedang ia tidak lahu, ke mana ia akan kembali!" Itulah bahaya tertawa. Tertawa yang tercela adalah tertawa yang berlebihan. Sedangkan yang terpuji adalah cukup tersenyum yang menampakkan putihnya gigi, tetapi tidak sampai terdengar suaranya."Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah bila tertawa," katanya Abu Hamid Al-Ghazali.

Al-Qasim, budak Muawiyah, berkata, “Seorang badui datang menghadap Rasulullah SAW, Ia mengendarai unta yang berkaki panjang dan liar. Setelah sampai di tempat Rasulullah, orang badui itu mengucapkan salam. Akan tetapi setiap kali ia hendak mendekati Rasulullah untuk bertanya, unta itu memberontak. Melihat adegan yang dianggap lucu, para sahabat Rasulullah menertawakannya. Ini terjadi berulang kali, hingga akhirnya orang badui itu terlempar dari untanya, jatuh dan terinjak-injak oleh untanya sampa mati.

Lalu para sahabat itu berkata, "Ya Rasulullah, orang badui itu terlempar dari untanya dan meninggal dunia. Beliau berkata, "Benar, dan mulut-mulut kalian penuh dengan darahnya!"

 

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement