Sabtu 12 Feb 2022 22:06 WIB

Jejak Baru Islam di Selandia Baru

Jejak Baru Islam di Selandia Baru

Rep: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)/ Red: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)
Jejak Baru Islam di Selandia Baru - Suara Muhammadiyah
Jejak Baru Islam di Selandia Baru - Suara Muhammadiyah

Jejak Baru Islam di Selandia Baru

Oleh: Azhar Rasyid

Kedatangan Islam di negara-negara Barat umumnya telah berakar lama. Sejak abad ke-8, kaum Muslim sudah menginjakkan kaki dan menyebarkan pengaruhnya di Eropa Selatan. Salah satu puncak peradaban Islam bahkan eksis selama beberapa abad di Spanyol, yang bekasnya masih terlihat hingga kini. Di Amerika Serikat (AS), kehadiran awal Islam bisa dilacak hingga ke abad ke-16, dan dewasa ini terdapat sekitar 1 % Muslim di tengah masyarakat AS. Namun, di antara negara-negara Barat yang sudah mengenal dan diberi warna oleh Islam sejak berabad-abad silam, ada juga yang relatif baru dalam membangun interaksi dengan Islam. Salah satunya adalah Selandia Baru, negara Barat yang maju walaupun berada di lokasi yang jauh di Pasifik.

Wilayah Selandia Baru dibuka oleh orang Eropa sejak tahun 1642, ketika petualang dan pedagang Belanda yang bekerja kepada VOC, Abel Tasman, mendapat tugas untuk mengeksplorasi kawasan yang belum terjamah orang asing di Pasifik dan Oseania. Sebagai pegawai VOC, Tasman sebelumnya sempat berlayar ke Batavia dan Pulau Seram di Maluku. Dalam pelayarannya menuju ke Pasifik dan Oseania, pertama-tama ia dan koleganya mencapai Mauritius, lalu sampai di sebuah pulau di bagian selatan Australia (yang belakangan diberi nama sesuai namanya, Tasmania). Pada Desember 1642 kapal-kapal Tasman berhasil berlabuh di bagian utara South Island (pulau terbesar di antara dua pulau di Selandia Baru). Mulanya Tasman menamai tempat itu sebagai Staten Landt, tapi para pembuat peta Belanda beberapa tahun kemudian menamainya sebagai Nieuw Zeeland, dari mana kemudian nama New Zealand muncul.

Selama berabad-abad kemudian, terutama sejak abad ke-18 dan setelahnya, wilayah yang mulanya didiami suku Maori ini didominasi oleh bangsa Eropa. Selain orang Belanda, wilayah ini juga didatangi oleh para pelaut dan pedagang Inggris serta Perancis. Selain menjadikan wilayah itu sebagai pos dagang serta mencari produk-produk dari orang Maori maupun dari hasil laut di sekitarnya, orang Eropa juga mengirimkan misionaris ke sana. Jumlah penganut Kristen di kalangan masyarakat Maori, yang mulanya mengikuti kepercayaan animisme, meningkat pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20. Orang Maori juga menyerap berbagai aspek budaya Barat lainnya. Namun adakalanya terjadi konflik antara orang Eropa dengan orang Maori, terutama dalam soal penguasaan tanah oleh orang Eropa.

Di masa selanjutnya, Selandia Baru pun diwarnai oleh kehadiran agama-agama lainnya, seperti Islam, Hindu, Buddha, Judaisme, dan Baha’i. Kedatangan Islam ke sana bisa dilacak hingga ke era 1870an, atau sekitar 140 tahun yang lalu. Belum terlalu lama bila dibandingkan dengan kedatangan Islam di Indonesia atau bagian dunia non-Arab lainnya. Menariknya, sementara Islam yang datang ke wilayah di luar Dunia Arab, dalam hal ini Asia Tenggara, dianggap berasal dari Arab, India, dan Persia, kaum Muslim yang pertama kali datang ke Selandia Baru bukanlah berasal dari ketiga wilayah di atas. Muslim-muslim pertama itu berasal dari Cina. Dan, mereka juga bukan pedagang seperti para penyebar awal Islam dari Arab, India dan Persia, melainkan para pencari emas.

Emas sedang menjadi tren yang mendadak muncul di Selandia Baru kala itu. Pada era 1860an terjadi apa yang dikenal sebagai Otago Gold Rush. Para pemburu emas menemukan emas di kawasan Otago di South Island. Diberitakan bahwa emas bisa didapat dengan mudah di sana. Berita ini dengan segera memancing lebih banyak orang untuk datang, termasuk para pencari emas dari luar Selandia Baru.

Para pencari emas Muslim asal Cina salah satunya. Eksistensi mereka sempat tidak disukai bangsa Eropa di sana, terutama karena fakta bahwa mereka adalah orang Cina. Di paroh kedua abad ke-19, kehadiran imigran Cina di Pasifik memang mendapat tentangan dari orang Eropa. Imigran Cina datang dalam jumlah besar dan karena lebih terorganisir, mampu mendapatkan emas lebih banyak dibanding orang Eropa. Rasa tidak suka kepada imigran Cina kala itu setidaknya terjadi di Australia dan Selandia Baru yang sedang dilanda ‘demam emas’.

Catatan tertulis pertama tentang kehadiran Muslim di Selandia Baru berasal dari sebuah laporan sensus dari tahun 1874. Menurut Erich Kolig dalam New Zealand’s Muslims and Multiculturalism (2010), Muslim di sana tidak disebut sebagai Muslim, melainkan ‘Mohamatans’ atau ‘Mahometans’. Pada tahun itu, jumlah Muslim di Selandia Baru ialah 17 orang dan berjenis kelamin laki-laki. Dari sensus itu diketahui juga bahwa 15 orang di antaranya ialah orang-orang Cina yang saat itu bekerja di berbagai tambang emas di Otago.

Akan tetapi, hanya itu data yang tersedia tentang Muslim generasi awal itu. Mereka juga tidak meninggalkan warisan yang bisa menjadi petunjuk tentang peranan mereka dalam penyiaran Islam di Selandia Baru, misalnya dalam bentuk organisasi ataupun tempat ibadah. Juga tidak ada dokumen atau bukti lain mengenai apakah mereka membangun keluarga dan menurunkan ajaran Islam kepada anak-anaknya.

Menurut dokumen lain yang tersedia, artefak pertama yang menandai kehadiran Muslim di Selandia Baru berasal dari tahun 1888. Bukti arkeologis dipakai untuk menandai kehadiran komunitas baru di suatu kawasan. Di Indonesia, misalnya, makam Fatimah binti Maimun (wafat tahun 1082) di Leran, Gresik, Jawa Timur, diyakini sebagai tanda kehadiran suatu komunitas Muslim di bagian timur Pulau Jawa setidaknya sejak awal abad ke-11. Di Selandia Baru, makam Muslim pertama yang disebut di dalam arsip setempat ialah kuburan seorang pelaut Muslim asal Jawa yang bernama Mohamed Dan. Dari nama dan profesinya, tampaknya ia berasal dari bagian pesisir Jawa yang kuat keislamannya dan terbiasa dengan pelayaran jarak jauh. Mohamed Dan meninggal di Dunedin (kini merupakan kota terbesar di wilayah Otago) pada tahun 1888.

Sesudah kehadiran Muslim asal Cina dan Jawa, sejarah Islam di Selandia Baru diwarnai oleh kedatangan Muslim asal Asia Selatan. Muslim dari Asia Selatan ini membawa dampak lebih besar di Selandia Baru karena kehadiran mereka yang tercatat dan karena mereka membentuk komunitas yang bertahan selama bebera generasi. Para pionir di antara mereka ialah Ismael Ahmed Bhikoo, asal Gujarat, yang datang ke negara itu pada tahun 1909 dan Essop Moosa, juga berasal dari India, yang menetap di Auckland. Mereka tidak tinggal sendiri, melainkan membawa istri dan sanak familinya dari India untuk menetap di Selandia Baru. Keturunan mereka masih berada di Selandia Baru hingga kini.

Kehadiran imigran yang berasal dari negara-negara berpenduduk Muslim ke Selandia Baru sempat terhenti pada dekade kedua abad ke-20. Penyebabnya adalah kebijakan anti-imigran asing yang dikeluarkan pemerintah Selandia Baru. Barulah setelah Perang Dunia Kedua usai, terutama sejak dekade 1950an, imigran Muslim kembali datang ke Selandia Baru. Asalnya kini lebih beragam lagi, mencakup antara lain Muslim yang datang dari Albania, Bosnia dan Turki.

Beberapa organisasi Islam, yang awalnya bersifat lokal, didirikan sejak dekade 1950an. Di antara mereka ialah New Zealand Muslim Association (NZMA, berdiri tahun 1950 dan beranggotakan Muslim asal Gujarat), Anjuman Himayat al-Islam (berdiri tahun 1970an dengan anggota Muslim keturunan India dari Fiji), dan Muslim Association of Canterbury (MAC) yang eksis sejak tahun 1977 dan beranggotakan Muslim asal Asia Selatan.

Jumlah Muslim yang berasal dari luar Selandia Baru mengalami peningkatan pada dekade 1980an. Ini dimulai dengan kehadiran Muslim keturunan India yang ada di Fiji, negara yang terletak sekitar 2.000 km di utara Selandia Baru. Pada tahun 1987, terjadi kudeta di Fiji, dan banyak orang Fiji yang melarikan diri ke Selandia Baru. Di antara mereka terdapat sejumlah Muslim keturunan India. Di dekade-dekade selanjutnya, Selandia Baru kembali menerima imigran Muslim yang berasal dari wilayah konflik, seperti dari Somalia, Irak, Bosnia, Kosovo, Kurdisna dan Afghanistan.

Kegiatan keislaman di Selandia Baru dipusatkan di masjid. Masjid pertama yang didirikan di negara ini ialah Masjid Al Noor di Christchurch, kota terbesar di South Island. Masjid ini didirikan pada pertengahan dekade 1980an oleh MAC. Walau demikian, masjid ini mencerminkan multikulturalisme di tengah Muslim Selandia Baru karena jamaahnya yang berasal dari berbagai bagian dunia Islam. Di masjid ini pulalah pada 15 Maret 2019 terjadi aksi terorisme dalam bentuk penembakan massal oleh seorang pendukung supremasi kulit putih dan xenofobia, yang menghilangkan nyawa puluhan jamaah yang sedang melaksanakan shalat Jumat di masjid tersebut.

Peristiwa ini dianggap sebagai insiden penembakan massal terburuk dalam sejarah modern Selandia Baru dan menjadi tantangan besar bagi negara yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu negara teraman dan paling toleran di dunia itu. Sebagaimana di negeri tetangganya, Australia, di Selandia Baru juga sedang terjadi peningkatan sentimen xenofobia, Islamofobia, dan kebangkitan kelompok ekstrem kanan. Para pemimpin dunia mengecam aksi terorisme ini sementara pemerintah Selandia Baru menunjukkan simpati dan dukungannya pada umat Islam setempat. Meski demikian, nasionalisme ekstrem yang bercorak Islamofobia dikhawatirkan masih eksis di Selandia Baru, dan ini merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi umat Islam di Selandia Baru dewasa ini, satu setengah abad setelah Islam hadir di negara itu.

Azhar Rasyid, Penilik sejarah Islam

Sumber: Majalah SM Edisi 16 Tahun 2020

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan suaramuhammadiyah.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab suaramuhammadiyah.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement