Senin 07 Feb 2022 03:10 WIB

Surat An Nisa Ayat 34 tentang Suami Pukul Istri Kerap Disalahpahami

Kalimat 'pukullah istri' tidak harus diartikan sebagai pukulan fisik.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Ani Nursalikah
Suami-istri (ilustrasi). Surat An Nisa Ayat 34 tentang Suami Pukul Istri Kerap Disalahpahami
Foto:

“Jika merujuk pada Rasulullah, Beliau menggambarkannya dan meluapkannya dengan cara melempar siwak atau lidi, atau sesuatu yang tidak berpotensi melukai. Maka saya cenderung memaknai kata pukulan ini sebagai teguran secara simbolik, sesuatu yang menunjukkan ketidaktepatan atau ketidaksukaan suami terhadap kelakuan istrinya. Jadi tidak harus diartikan sebagai pukulan fisik, dan tujuannya bukan menyakiti tapi mendidik,” jelasnya.

Teguran ini, kata Muchlis, juga hanya boleh ditujukan bagi istri yang melakukan nusyuz, berupa kelalaian menunaikan kewajiban atau ketidaktaatan. Seorang suami juga tidak dapat langsung menegur istrinya dengan pukulan, melainkan dengan cara lain yang ditawarkan dalam Islam. 

“Pada saat situasi seperti itu, untuk menyelamatkan bahtera rumah tangga, Islam memberikan beberapa solusi, yaitu diberi nasihat, pisah ranjang, baru teguran dengan ‘pukulan’, yang tadi sudah dibahas, tidak harus diartikan sebagai pukulan fisik,” jelasnya.  

Dia menyarankan para suami memperhatikan kembali situasi dan sifat sang istri sebelum melakukan teguran. Ada istri yang hanya perlu dinasihati, ada pula yang harus diberi ketegasan dengan berpisah sementara atau pisah ranjang, dan ada pula yang harus dengan pukulan tanpa tujuan untuk menyakiti.  

“Maka suami harus mempertimbangkan dengan bijak, apa cara terbaik untuk menyadarkan istrinya. Kalaupun ada suami yang langsung main pukul, saya kira dia adalah suami yang gagal membina keluarga, dan gagal mengendalikan dirinya. Kalau perlu dihukum agar dia sadar harus mengendalikan emosinya dan tidak boleh main tangan,” katanya. 

“Saya ingatkan kembali, وَاضْرِبُوهُنَّ disini juga jangan dimaknai sebagai pukulan fisik, tapi ini dimaknai sebagai suatu tindakan yang ditujukan untuk menunjukkan ketidaksukaan kita, dan kalau kita lihat praktik Rasulullah, baik dalam hadits maupun kesehariannya, beliau tidak pernah sekalipun memukul orang apalagi istrinya, Nabi tidak pernah melakukan itu,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement