Kamis 03 Feb 2022 12:32 WIB

Revolusi Pertanian pada Masa Keemasan Islam

Berbagai jenis tanaman baru plus teknik pembudidayaannya diperkenalkan.

Ilustrasi seorang petani Nepal memanen gandum di Kathmandu, Nepal. Revolusi Pertanian di Masa Keemasan Islam
Foto:

Irigasi atau sistem pengairan mendapatkan atensi tersendiri di dunia Islam masa itu. Sejumlah tanaman membutuhkan suplai air yang lebih banyak, misalnya tebu.

Di sisi lain, karena tanaman ditanam lebih sering daripada biasanya, maka air yang diperlukan juga menjadi berkali-kali lipat. Salah satu solusi untuk masalah ketersediaan air adalah dengan mengembangkan kincir air yang lebih maju, yang dapat mengangkat air dengan lebih banyak dan teratur. Matematika dan pengetahuan gaya tarik bumi dipakai untuk mendapatkan air dengan lebih maksimal. Sumur-sumur digali untuk memperoleh sumber air baru.

Satu sistem pengangkatan dan distribusi air yang khas di masa itu ialah apa yang dikenal sebagai na’ūra (noria). Ini adalah mesin hidrolik yang berfungsi untuk mengangkat air yang kemudian didistribusikan ke area pertanian atau disebarkan ke berbagai tempat di kota. Roda air ini memiliki diameter hingga puluhan meter dan sanggup mengangkat air dalam jumlah besar dari sungai.

Sejarawan Andrew M. Watson di dalam studi klasiknya tentang inovasi pertanian yang dibawa ilmuwan Arab-Muslim, The Arab Agricultural Revolution and Its Diffusion, 700-1100 di The Journal of Economic History (1974), mengemukakan setidaknya tiga arti penting revolusi pertanian ini. Pertama, cakupan pengaruhnya yang sangat luas secara geografis.

Mulanya revolusi ini hanya berlangsung di beberapa bagian di timur Jazirah Arabia, seperti di Persia dan Mesopotamia, serta juga di bagian selatannya, seperti di wilayah yang sekarang menjadi Yaman. Tapi, sejak abad ke-11, wilayah cakupannya menjadi jauh lebih luas lagi, antara lain dengan mencapai tempat-tempat seperti Transoxania, Persia, Mesopotamia, Levant (negeri-negeri di pesisir timur Mediterania), Mesir, Maghribi, beberapa bagian Afrika bahkan hingga Spanyol dan Sisilia di Eropa.

sumber : Suara Muhammadiyah
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement