Rabu 29 Dec 2021 21:00 WIB

Ketika Orang Tua Durhaka Terhadap Anak, Ini Penjelasannya 

Orang tua juga bisa berlaku durhaka terhadap anak-anaknya

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah
Orang tua juga bisa berlaku durhaka terhadap anak-anaknya.. Ilustrasi orang tua kepada anak.
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Orang tua juga bisa berlaku durhaka terhadap anak-anaknya.. Ilustrasi orang tua kepada anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Memuliakan orang tua menjadi salah satu sebab seseorang anak menjadi ahli surga. Sebaliknya berbuat durhaka kepada kedua orang tua menjadi sebab seseorang menjadi penghuni neraka. 

Islam mengajarkan untuk memuliakan dan berlaku baik terhadap orang tua. Kendati demikian, orang tua juga ternyata bisa dianggap durhaka terhadap anaknya, jika dalam konteks mempertahankan keimanan dan agama Islam. 

Baca Juga

Alkisah, seorang sahabat nabi yang bernama Saad bin Abi Waqash adalah seorang sahabat yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang. 

Dia masuk Islam ketika usianya menginjak 16 tahun. Namun, dia pernah dipaksa oleh ibunya untuk murtad dari agama Allah ﷻ.

 

Kisah Saad bin Abi Waqash ini diceritakan Ustadz Fahmi Salim dalam bukunya yang berjudul “Tadabbur Qur’an di Akhir Zaman” terbitan Pro-U Media. 

Dia mengatakan, ketika beriman kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya, Saad kemudian menceritakan keimanannya kepada ibunya.

Namun, sang ibu yang selama ini sangat menyayangi dan memanjakannya tiba-tiba jatuh sakit. Karena, sang ibu kaget mendengar putranya yang telah masuk Islam, agama yang sangat dibencinya. Keluarganya juga sangat membenci Nabi Muhammad ﷺ.

Karena itu, ketika Saad masuk Islam, keluarganya merasa tertampar, terutama ibunya yang langsung menghukum putra kesayangannya dengan tidak memberinya nafkah. Namun, hukuman ini tidak mempan untuk mengubah keimanan Saad.

Sang ibu pun tak kekurangan akal. Dia mogok makan sampai mengalami sakit keras. Aksi mogok makan ini dilakukannya untuk membujuk Sa’ad agar murtad dari agama Rasulullah ﷺ. 

Tapi, cara ini juga tidak berhasil, sanga putra justru mengatakan, “Jangan engkau lakukan itu wahai Ibuku. Sungguh, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini. Demi Allah ﷻ, ketahuilah wahai Ibu, seandainya engkau mempunyai seratus nyawa dan keluar satu per satu, maka aku tidak akan meninggalkan agama ini.”

Menurut Ustadz Fahmi Salim, pernyataan Saad tersebut sangat tegas, tetapi disampaikan dengan penuh kelembutan kepada ibunya. 

Sikap teguh ini di kemudian hari meluluhkan sang ibu hingga akhirnya ikut memeluk Islam atas izin Allah ﷻ.

“Sikap keras sang ibu kepada anaknya itu sesungguhkan mencerminkan sikap durhaka orang tua terhadap anaknya,” kata Ustadz Fahmi.  

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement