Kamis 02 Dec 2021 18:41 WIB

Majalah Prancis: Macron Sindir PM Johnson Sebagai Badut

Hubungan Inggris dan Prancis memanas menyusul insiden di Selat Inggris.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden Prancis Emmanuel Macron, kiri, dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bersiap untuk melempar koin ke dalam air di Air Mancur Trevi selama acara KTT G20 di Roma, Minggu, 31 Oktober 2021.
Foto: AP/Gregorio Borgia
Presiden Prancis Emmanuel Macron, kiri, dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bersiap untuk melempar koin ke dalam air di Air Mancur Trevi selama acara KTT G20 di Roma, Minggu, 31 Oktober 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Prancis Emmanuel Macron diduga menyebut Perdana Menteri Inggri Boris Johnson badut. Hal ini dilaporkan oleh majalah politik di Prancis, Le Canard Enchaine dalam hubungan antara kedua pemimpin itu.

Menurut majalah yang setara dengan Private Eye Prancis itu, Macron mengatakan, bahwa Johnson memiliki sikap vulgar. Laporan ini keluar ketika Macron mengeluh tentang perilaku Johnson setelah keduanya berbicara melalui telepon membicarakan kapal pengungsi tenggelam di Selat Inggris.

Baca Juga

Presiden Prancis marah setelah Johnson mengatakan di Twitter tentang sebuah surat yang menguraikan rencana lima poin untuk mengatasi masalah penyeberangan Selat Inggris. "Saya berbicara dua hari lalu dengan perdana menteri Johnson secara serius," kata Macron pekan lalu setelah cicitan Johnson, dikutip laman The Guardian, Kamis (2/12).

"Bagi saya, saya terus melakukan itu, seperti yang saya lakukan dengan semua negara dan semua pemimpin. Saya terkejut dengan metode ketika mereka tidak serius. Kami tidak berkomunikasi dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya tentang masalah ini melalui kicauan dan surat yang kami publikasikan," ujarnya menambahkan.

Namun menurut majalah itu, presiden bahkan lebih memberatkan sikap Johnson secara pribadi. "BoJo (Boris Johnson) berbicara kepada saya dengan cepat, semuanya berjalan baik, kami berdiskusi seperti orang besar, dan kemudian dia memberi kami waktu yang sulit sebelum atau sesudahnya dengan cara yang tidak elegan. Itu selalu sirkus yang sama," kata majalah itu mengutip Macron.

Majalah itu menambahkan bahwa Macron mengatakan kepada penasihatnya bahwa Johnson meminta maaf secara pribadi karena menjadikan Prancis 'kambing hitam' secara terbuka atas masalah-masalah seperti penyeberangan Selat dan 'sausage war'.

Macron dilaporkan mengatakan, "Sungguh menyedihkan melihat negara besar yang dengannya kita dapat melakukan banyak hal yang dipimpin oleh seorang badut."

Laporan ini keluar bersamaan ketika mantan duta besar Prancis untuk Inggris Sylvie Bermann mengatakan kepada Times Radio bahwa hubungan antara Prancis dan Inggris tidak pernah seburuk itu sejak Waterloo. Presiden Prancis juga dipahami telah menyalahkan sikap Johnson terhadap Prancis atas kekurangan kesepakatan Brexit.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement