Rabu 13 Oct 2021 07:05 WIB

Keberkahan yang Melimpah Bagi Ibu Susuan Nabi Muhammad

Ibu susuan Nabi Muhammad mendapat berkah melimpah.

Rep: Rossi Handayani/ Red: Muhammad Hafil
Keberkahan yang Melimpah bagi Ibu Susuan Nabi Muhammad. Foto: Rasulullah SAW. Ilustrasi
Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Keberkahan yang Melimpah bagi Ibu Susuan Nabi Muhammad. Foto: Rasulullah SAW. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibu susuan Nabi Muhammad ﷺ, Halimah binti Abu Dzuaib mendapatkan keberkahan yang melimpah setelah menyusui beliau tatkala masih kecil. Banyak di antara mereka yang sebelumnya menolak menyusui Muhammad karena beliau adalah anak yatim.

Dikutip dari Sirah Nabawiyah, Ibnu Ishaq berkata: Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam disusui seorang wanita dari Bani Saad bin Bakr yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib. Abu Dzuaib adalah Abdullah bin Al-Harits bin Syijnah bin Jabir bin Rizam bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Saad bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan.

Baca Juga

Nama ayah susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam adalah Al-Harits bin Abdul Uzza bin Rifa'ah bin Mallan bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Sa'ad bin Bakr bin Hawazin.

Ibnu Ishaq berkata: lahm, bekas pelayan Al-Harits bin Hathib Al-Jumahi berkata kepadaku dari Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib atau dari seseorang yang mengutarakan kepadanya bahwa Halimah bin Abu Dzuaib As-Sa'diyyah, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menyusui beliau bercerita bahwa ia bersama suaminya keluar dari negerinya sambil membawa seorang anak kecil yang sedang disusuinya bersama dengan wanita-wanita Bani Sa'ad bin Bakr guna mencari anak-anak untuk disusui.

 

Halimah As-Sa'diyyah bertutur bahwa tahun itu adalah tahun kering dan tidak menyisakan apapun dari makanan kami. Lalu kami berangkat dengan mengendarai keledaiku yang berwarna putih dan seekor unta tua yang tidak lagi menghasilkan susu setetes pun. Kami semua tidak bisa memejamkan mata di malam hari karena tangisan anak-anak kecil yang ikut bersama kami. Mereka menangis karena lapar sementara air susuku tidak bisa mengenyangkannya demikian pula dengan unta tua yang kami miliki. Namun demikian kami tetap berharap mendapatkan pertolongan dan solusi. Aku pun berangkat dengan menunggang keledai. Perjalanan kami memakan waktu yang lama hingga semakin menambah kelaparan dan kelelahan mereka.

Demikianlah yang terjadi hingga kami sampai di Makkah dan kami mencari anak-anak untuk disusui. Setiap wanita dari kami pernah ditawari untuk menyusui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tapi semua menolaknya setelah mereka tahu bahwa anak (Rasulullah) adalah seorang anak yatim. Padahal kami mengharap imbalan yang banyak dari ayah anak yang kami susui. Kami berkata: "Wahai Anak yatim! Apa yang bisa dilakukan ibu dan kakeknya?Alasan inilah yang membuat kami tidak mau mengambilnya. Semua wanita telah mendapatkan anak susuan kecuali aku."

Ketika kami semua sepakat untuk kembali ke negeri, aku berkata kepada suamiku: "Demi Allah, aku tidak mau kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang anak yang bisa aku susui. Aku akan pergi kepada anak yatim tersebut dan mengambilnya." Suamiku berkata: "Rasanya tidak salah jika engkau melakukannya. Semoga Allah memberkahi kita melalui anak yatim itu. Lalu akupun pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya. Dan tidaklah aku melakukan itu kecuali karena aku tidak mendapatkan anak lain. Setelah mengambilnya, aku kembali ke tempat peristirahatan. Ketika aku merebahkannya di pangkuanku, aku menyusuinya hingga kenyang. Demikian pula dengan saudaranya. Setelah menyusu keduanya tertidur satu hal yang sebelumnya tidak bisa kami nikmati. Sementara itu ia pergi pada unta tua milik kami ajaibnya air susu unta tua itu penuh. Kami pun memerahnya lalu meminumnya hingga kenyang dan puas. Kami melewati malam tersebut dengan indah.

Pagi harinya sahabat-sahabatku berkata padaku: "Demi Allah, ketahuilah wahai Halimah engkau telah dikaruniai seorang anak yang penuh berkah. Demi Allah, demikian pula harapanku, jawabku." Lalu kami pulang dengan mengendarai keledaiku dan membawa serta Muhammad. Demi Allah, aku mampu meninggalkan rombonganku dan tidak ada satupun dari keledai mereka yang mampu menyusulku hingga membuat wanita-wanita tersebut heran dan berkata kepadaku: "Celakalah engkau, wahai putri Abu Dzuaib tunggu dan berjalanlah pelan-pelan! Bukankah keledai ini adalah keledai yang engkau bawa dari negerimu?" "Benar, demi Allah, dia dia juga!" jawabku. Mereka berkata: "Demi Allah, keledai ini terasa sangat berbeda dengan keledai-keledai yang lain."

Kami pun tiba di Bani Sa'ad negeri kami. Sepanjang yang saya tahu tidak ada bumi Allah yang jauh lebih tandus dan kering dari negeri Bani Sa'ad. Ketika tiba di negeriku membawa Muhammad, kambingku datang padaku dalam keadaan kenyang dan susu penuh. Kami memerah dan meminumnya, pada saat yang sama orang-orang lain tidak dapat memerah susu setetes pun dan tidak mendapatkannya pada kambing mereka. Begitulah, hingga kaumku berkata kepada para penggembala, 'Celakalah kalian, gembalakanlah kambing-kambing kalian itu di tempat penggembalaan kambing anak perempuan Abu Dzuaib.'

Di senja hari, kambing-kambing mereka kembali dalam keadaan lapar dan tidak mengeluarkan susu setetes pun sementara di saat yang sama kambingku pulang dalam keadaan kenyang dan air susu melimpah. Kami terus mendapatkan kucuran nikmat dan kebaikan dari Allah hingga berlangsung selama dua tahun.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement