Rabu 18 Aug 2021 19:43 WIB

Mengenal Tradisi Lebaran Anak Yatim 10 Muharram

Banyak masyarakat melestarikan tradisi lebaran anak yatim di 10 Muharram.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
Mengenal Tradisi Lebaran Anak Yatim 10 Muharram. Foto:  Ilustrasi Sedekah
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Mengenal Tradisi Lebaran Anak Yatim 10 Muharram. Foto: Ilustrasi Sedekah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Masyarakat Muslim Indonesia sering merayakan lebaran anak yatim pada tanggal 10 Muharram. Perayaan ini ada yang menentang, dan tidak sedikit yang melestarikan tradisi ini.

"Kalau Indonesia memang ramai budaya seperti ini, hampir setiap masjid serta  majlis taklim mengadakan perayaan tahun baru Islam, disertai di dalamnya santunan anak yatim karena memang  bulan Muharram, tepatnya tanggal 10 adalah lebarannya anak yatim," tulis Ahmad Zarkasih Lc dalam bukunya "Sejarah Kalender Hijriyah".

Baca Juga

Ahmad Zarkasih mengatakan, tradisi ini  muncul karena memang banyak hadits-hadits yang dikenal oleh orang  kebanyakan perihal fadhilah menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram. Karena banyaknya yang menyantuni, seakan tanggal 10 Muharram ini jadi bulan untungnya anak yatim. 

"Sehingga banyak orang menyebutnya lebaran mengingat makna lebaran adalah hari bersenang-senang. Begitu juga di tanggal ini, anak yatim sedang senang-senangnya karena banyak yang sayang," katanya.

Ahmad Zarkasih mengatakan, di antara hadits-hadist tersebut ialah: 

"Siapa orang yang mengusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya" (Hadits ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin). 

Sayangnya memang hadits-hadits tentang keutamaan menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram itu kesemuanya dalam status yang dhaif alias lemah atau tidak shahih. Sehingga ini yang menjadikan beberapa kelompok Islam lainnya mengharamkan praktek ini. 

"Bahkan mereka mengatakan itu adalah sebuah bid’ah, yaitu perkara yang mengada-ada dalam agama yang agama sendiri tidak memberikan tuntunan untuk itu," katanya.

Bagi mereka, menyantuni anak yatim itu ibadah yang tidak boleh dikhususkan pada waktu-waktu tertentu saja, akan tetapi itu adalah pekerjaan sepanjang masa yang tak bisa diidentikan dengan waktu tertentu. Tapi, mereka yang melakukan pun sejatinya tahu bahwa itu adalah hadits-hadits dhaif, dan mereka tetap melakukannya dengan alasan  yang kita tidak bisa katakan itu argumen ang ngasal.

"Mereka mengatakan memang benar hadits itu dhaif, tapi apakah mengamalkan hadits dhaif itu mutlak diharamkan?" 

Nyatanya jumhur ulama membolehkan  mengamalkan hadits dhaif dengan beberapa syarat tentunya. Imam  Nawawi  menyebutkan dalam kitabnya Azkar (hal. 8). Para ulama dari  kalangan ahli hadits dan ahli fiqih ada yang mengatakan.

"Boleh dan disukai mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail a’mal, targhib (memotivasi) serta tarhiib (memberikan peringatan) selama  haditsnya tidak maudhu (palsu)," katanya.

Karena, walaupun itu hadits dhaif, tapi  ada hadits lain yang menaunginya  secara umum, yaitu hadits keutamaan  menyantuni anak yatim secara umum tanpa mengkhususkan hari. Artinya  praktek santunan anak yatim di hari  asyura dinaungi oleh hadits umum tersebut.

"Ulama jumhur mengamalkan hadits dhaif Imam Nawawi pun membolehkan selain yang disebutkan selama memang ada hadits shahih yang menaunginya  walaupun secara umum," katanya.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement