Senin 26 Jul 2021 04:55 WIB

4 Ujian yang Membuat Nabi Muhammad Lebih Kuat

Kehidupan Nabi Muhammad SAW sudah susah sejak lahir.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
4 Ujian yang Membuat Nabi Muhammad Lebih Kuat
Foto:

3. Kesulitan di Makkah

Selama 13 tahun pertama hidupnya di Makkah, ia dan para pengikutnya menghadapi banyak penganiayaan. Mereka bahkan tidak diberi makanan dan air. Dalam kelaparan inilah Khadijah istri tercintanya meninggal. Ketika musuh Nabi SAW sangat meningkatkan penganiayaan mereka, para sahabat memintanya untuk mengutuk mereka. Namun Nabi menjawab, "Aku tidak diutus untuk mengutuk manusia tetapi untuk menjadi berkah untuk mereka. (HR Muslim)

Nabi Muhammad ingin menuntaskan misinya meski harus melalui jalan terjal. Sifatnya yang mulia sangat sempurna. Hal ini tampak dalam kisah Taif. Dia pergi mengunjungi desa Taif, untuk mengajak masyarakatnya masuk Islam. Mereka menolaknya, melemparinya dengan batu, dan membuatnya berdarah.

Dalam hadits riwayat Bukhari, malaikat Jibril mendatanginya dan berkata:

"Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepada engkau dan bagaimana mereka menolak engkau. Dia telah memerintahkan para malaikat untuk mematuhi apa pun yang engkau perintahkan kepada mereka. Kirim saya untuk melakukan apa yang engkau inginkan. Jika engkau mau, saya akan menghancurkan mereka di antara dua gunung Makkah."

Mendengar hal itu, Nabi SAW tidak ingin membalas orang-orang yang telah berbuat buruk kepadanya, dan justru mendoakan mereka agar menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya.

Bahkan Nabi SAW pernah saat akan berdiri untuk sholat, musuh-musuhnya mendekatinya dan bersiul serta bertepuk tangan untuk mengganggunya, tetapi Nabi SAW tidak pernah menunjukkan permusuhannya. Ketika Nabi sedang sholat di Ka'bah sementara musuh-musuhnya mengawasinya, salah satu lawannya meletakkan di punggungnya usus unta yang disembelih saat sujud. Nabi tidak bereaksi dan tetap dalam posisi itu. Putrinya, Fatimah, bergegas mengambil kotoran dari punggungnya dan membersihkannya.

Karena itu, bagaimana pun, cobaan dan musibah adalah ujian bagi para hamba Allah, dan merupakan tanda cinta Allah kepada seseorang. Dalam hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, disebutkan:

"Hadiah terbesar datang dengan cobaan terbesar. Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa yang menerimanya maka ia mendapatkan keridhaan-Nya, tetapi barang siapa yang tidak puas dengan itu maka ia mendapatkan murka-Nya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement